Selamat Datang
Selamat Datang - Ruang kita Bercerita *** Selamat Datang - Ruang kita Bercerita

Warga yang Tenang

Kebisingan yang terjadi dalam kehidupan secara terus menerus sebagai ketidakmampuan kita mengontrol diri mana yang layak untuk didengar dan tidak.

Media sosial contohnya, bukan hanya sarana beropini tapi juga berekspresi. Bisa kita saksikan kolom komentar yang bermacam-macam narasi, opini yang mencerahkan hingga caci maki yang meresahkan. Keinginan manusia untuk berekspresi seringkali diikuti oleh emosi negatif yang memicu perdebatan hingga pertikaian.

Setiap orang yang gagasan nya merasa paling benar, seolah layak untuk didengar, dan gagasan lain yang tidak sejalan maka dianggap ancaman. Ruang maya telah menjadi sarana adu pengakuan bahwa pendapat nya paling layak untuk diakui terlebih diruang diskusi politik. Sah-sah saja sebagai warga negara untuk memberi opini dan berekspresi namun kurang baik rasanya jika berakhir caci maki dengan orang lain, bukannya fokus mengkritik kebijakan.

Apa yang diharapkan oleh kita saat memberi komentar terhadap suatu hal, opini yang ingin didengarkan atau sekedar pelampiasan kebencian. Dua hal berbeda seringkali menjadi komentar yang bercampur aduk antar debat gagasan menjadi pertikaian personal. Ada juga komentar menyegarkan, lucu, dan mindblowing dari netizen seolah menjadi penengah pada situasi media sosial yang tujuan sebenarnya dibuat untuk memudahkan koneksi dan komunikasi.

Salah satu kalimat bijak, yang bisa kita pegang adalah jika kita tidak bisa berkata yang baik, maka hendaklah diam. Bukankah kita cenderung mudah berkomentar pada hal-hal yang tidak kita ketahui dan kuasai pokok permasalahannya, seperti penonton olahraga yang merasa lebih tahu dari suatu atlet hanya karena gagal dan melakukan kesalahan dalam pertandingan. Kita semua berubah dari seorang pengamat, menjadi pengacara, hakim, sekaligus pengkhotbah yang mengklaim bahwa asumsi kita benar dan gagal memberi ruang untuk memahami kompleksitas suatu permasalahan.


Sebenarnya warga kita cerdas jika urusan komentar dan mengulas suatu topik isu terkini dan berita viral, seolah semua solusi itu mudah didapatkan dengan mudah seperti saat mengetikan uneg-uneg pikiran ke layar handphone. Mengapa bangsa kita tidak menjadi penulis saja, mengapa gagasan-gagasan nya tidak dituangkan ke dalam satu draft, esai, ataupun kumpulan pemikiran netizen yang dengan nya narasi, opini, dan komentar tersebut bisa menjadi bahan refleksi bersama, tentang kebijakan pemerintah, persoalan masyarakat, dan evaluasi untuk diri sendiri.

Jika kita ingin menjadi warga yang tenang, tidak gaduh, tidak reaktif, hendaknya kita mampu manarik nafas sejenak, apakah komentar yang diberikan benar-benar murni solusi dan harapan yang diperjuangakan untuk dilihat dan didengarkan orang lain, atau untuk kepuasan ego semata hanya karena kita ingin diakui bahwa kita lebih hebat dalam pandangan orang lain.

Jadilah warga yang tenang, tahu kapan memberi opini sesuai dengan kapasitas yang dimiliki, kapan harus beraksi bukan melulu bereaksi. Cobalah untuk menuliskan sesuatu dengan baik, sekalipun isi nya peluru argumen yang siap diarahkan kepada sasaran kritik, setidaknya kita tidak membuang sumber daya dan asal teriak, karena tulisan dengan argumen yang tajam, komentar yang efektif, lebih layak untuk mengembang di kepala orang-orang.

Posting Komentar untuk "Warga yang Tenang"

🟢 WA
Insight

harap tunggu sebentar :)

☀️ 0%
🔔 Artikel selesai dibaca