Selamat Datang
Selamat Datang - Ruang kita Bercerita *** Selamat Datang - Ruang kita Bercerita

Kuda Mati yang masih ditunggangi

Sunardi Isur · Pengajar ☕
·
Bagaimana Praktik menunggangi kuda mati masih terus terjadi pada level Birokrasi ?


Disclaimer saya menulis atas kondisi hari ini -Server pendaftaran SPMB kembali lemot, dan itu selalu terjadi. Evaluasi pasti ada, namun kadang tidak ditindaklanjuti, apalagi berkaitan dengan dunia Birokrasi. saya menulis ini semata-mata sebagai kritik, sebagai bagian dari birokrasi juga sih. setidaknya kondisi lapangan menjadi rumit ketika kebijakan yang dibuat berbelit-belit.


Sumber gambar : Gemini AI


Contoh :

Ketika juknis dan instruksi gubernur itu sudah terbit maka sistem aplikasi harus nya sudah sesuai dan siap pakai. sekalipun ada bug/error hanya update patch minor. jika suatu kebijakan strategis yang berdampak dalam jangka panjang harusnya dirancang secara matang, apalagi menyangkut hak banyak orang. seperti sistem penerimaan siswa baru di Jawa Barat. setiap tahun, di hari pertama selalu terjadi error aplikasi, seolah itu hal yang wajar, padahal itu menghabiskan sumber daya pendaftar ataupun panitia yang bekerja agar pekerjaan berikutnya lebih ringan karena bisa dicicil.

Sekarang, pada tahun 2026 aplikasi yang sudah berjalan bagus malah diganti menjadi model baru, padahal tahun kemarin sudah dianggap jadi atau matang, itu pun atas feedback yang terjadi di lapangan. sekarang aplikasi atau web yang digunakan untuk mendaftar sering error, lemot, dan maintenance - bahkan ada semacam downgrade dari aplikasi pendaftaran tahun kemarin. 

Hal-hal semacam ini akan selalu terjadi, manakala sistem yang baik dan sudah teruji tidak dijadikan standar atau penggunaan jangka panjang. Dunia birokrasi bekerja atas sistem hirarki, maka pelaksana di lapangan, mau tidak mau, harus melaksanakan sesuatu sesuai dengan pembuat kebijakan seperti dinas atau pemerintah daerah. 

Kami terpaksa menjalani sistem yang terkesan tidak efektif seperti disuruh menunggangi kuda mati. yaaa, benar - kuda mati - bukannya diminta turun, malah disuruh ikut naik kuda tersebut. aneh nya kuda mati tersebut diberi pelana, sekalipun kuda itu sudah tidak efektif menjalankan fungsi.

Apa  itu "Teori Kuda Mati" & konteks nya ?

Kuda mati mengacu pada metafora - bahwasanya kuda yang telah mati harus nya ditinggalkan, tetapi pada kenyataan kuda tersebut malah dirawat, dihias, dan diberi asesoris tambahan. Konteksnya, sebuah sindiran kepada mereka yang enggan meninggalkan sebuah sistem yang tidak efektif dan solutif, tapi masih dipertahankan. 

Seharusnya ketika orang melihat kuda lain yang hidup, maka ia segera turun, dan meninggalkan kuda mati tersebut. Sekilas hampir mirip dengan Sunk Cost Fallacy, sebuah kondisi seseorang yang terlanjur meninggalkan sesuatu yang tidak ada hasil nya karena terlanjur mengeluarkan biaya dan usaha yang sebesar-besarnya. Namun, penggunaan kuda mati lebih pas untuk menggambarkan sikap mental birokrasi yang menggambarkan beberapa kasus yang terjadi.

Dalam konteks Manajemen dan Birokrasi, kuda mati menggambarkan sebuah kondisi penanganan atas suatu masalah yang tidak tepat sasaran, buang-buang anggaran, dan cenderung formalitas. Teori Kuda Mati (Dead Horse Theory) bermula dari pepatah kuno suku Indian Dakota. Intin nya sangat sederhana " Jika anda menyadari bawhwa anda sedang menunggangi kuda mati, strategi terbaik adalah turun dan meninggalkan nya "

Budaya populer dalam Birokrasi Indonesia ?

Teori kuda mati bisa dipahami untuk menjelaskan kondisi individu dan suatu kelompok. Hal ini berkaitan dengan cara atau gaya penyelesaian atas suatu masalah. sebagaimana disampaikan pada penjelasan diawal, kuda mati menggambarkan kecenderungan individu atau organisasi untuk terus mempertahankan strategi, proyek, atau kebiasaan yang sudah jelas tidak efektif atau gagal. Alih-alih diperintahkan untuk "turunlah" dari kuda mati tersebut. Namun, dalam praktiknya, banyak orang justru melakukan segala cara untuk “menghidupkan” kuda mati tersebut, alih-alih menghentikannya.

Pada level manajemen dan birokrasi, seringkali loyalitas dianggap lebih penting dibanding kompetensi dan moral. Mekanisme manajemen dan birokrasi seringkali didasarkan pada kehendak suka dan tidak suka pada anak buah namun tidak diukur melalui kapasitas dan produktivitas bawahan. Jika mengacu pada urusan birokrasi terkait administrasi khususnya Indonesia, cukup sering prosesnya ribet dan rumit, kurang efisien dan efektif. Hal ini berkaitan dengan sistem pelayanan konvensional yang masih memegang tradisi lama atau ketidakmampuan level SDM dalam menjalankan administrasi pemerintahan.

Apa saja contoh-contoh kuda mati dalam meninjau kinerja birokrasi Indonesia ?

Birokrasi adalah alat pemerintah untuk menyediakan pelayanan publik serta bertindak sebagai perencana, pelaksana, dan pengawas kebijakan. Dalam tata kelola layanan publik, kita mengenal namanya reformasi birokrasi. Sebuah upaya sistematis yang dilakukan pemerintah untuk merombak dan memperbaiki sistem penyelenggaraan pemerintahan. Tujuannya adalah mewujudkan tata kelola yang bersih, transparan, serta mampu memberikan pelayanan publik yang berkualitas, efektif, dan bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Saya tidak ingin membahas aspek teknis dalam Birokrasi, saya ingin membahas fakta dalam birokrasi terutama di level operasional yang berhubungan langsung dengan masyarakat. 

Sebagai warga negara yang baik, tentu kita pernah berurusan langsung dengan kantor pelayanan publik, pada level Puskesmas, Polsek, Sekolah Negeri, Kantor Desa, dan Kependudukan.

Bagaimana pengalaman anda ketika berurusan dengan intansi publik tersebut ? Ribet, Gagap Komunikasi, Semrawut, atau menunjukan tren positif ?

Saya perlu membuka pertanyaan ini, sebagai bentuk refleksi atas kinerja pemerintah terutama berkaitan dengan fungsi layanan publik. Apakah hal itu berjalan efektif ? atau tidak memberikan layanan yang memadai. 

Berhubung saya pribadi mengajar di Sekolah Negeri, tentu sebagai refleksi bahwa saya tidak harus menuduh- apakah fungsi pelayanan intansi publik lainya berjalan efektif, tepat sasaran, dan memuaskan. Bisa saja, kami sebagai pegawai fungsional belum maksimal dalam memberikan pelayanan terhadap publik, Siswa dan orang tua.

Oke lanjut...

Saat kita kehilangan sesuatu terutama karena pencurian, lalu kita melapor ke satuan reskrim terdekat, yaitu polsek. Bisakah kita mendapatkan hak sebagai pelapor atau korban?

Saat kita mendaftarkan diri ke Sekolah Negeri, apakah kita merasa terbantu dengan sistem yang ada atau justru sebaliknya - merasa ribet bahkan tidak mendapat akses layanan yang baik?

Saat kita datang berobat ke Puskesmas, apakah kita harus menunggu berjam-jam, menunggu surat/berkas yang cukup lengkap, dan diberi pendataan yang cukup panjang hingga kita mendapat antrian ?

Saat kita pergi ke kantor Desa atau Kecamatan, apakah kita bisa terbantu dengan informasi yang ada, bisakah kita mendapatkan validasi/legalitas dokumen tanpa banyak embel-embel syarat yang tidak mendasar ?

Para pembaca bisa memahami dan mengevaluasi tentang manajemen birokrasi Indonesia pada level operasional. hal itu semata-mata menunjukan kualitas birokrasi Indonesia yang seharusnya berjalan efektif apabila disertai dengan pemahaman individu yang juga baik atas pekerjaaan yang dijalaninya.

Karena, hal yang sering terjadi, kita masih diminta foto KTP sekalipun sudah E-KTP. masih banyak berkas dokumen manual yang perlu dibawa untuk memvalidasi suatu profil individu. belum lagi,  bola ping pong manajemen pelayanan. ketidaksinkronan pemahaman atas sebuah intruksi menjadikan kantor layanan birokrasi membuat masyarakat tampak di lempar bolak balik antar satu intansi dengan intansi lainnya, hal ini biasanya terjadi pada level Pemda atau Dinas.

Bagaimana kuda mati menjelaskan konteks kehidupan sehari-hari ?

Meskipun ada gambaran yang hampir mirip dengan istilah "Sunk Cost Fallacy" dalam menjelaskan suatu fenomena. Penggunaan istilah tersebut mengacu pada beberapa hal :

  • Teori Kuda Mati: Aturan praktis yang menyatakan bahwa strategi terbaik saat menyadari sesuatu telah gagal (kuda mati) adalah berhenti melanjutkannya (turun dari kuda tersebut). Ini fokus pada solusi atau tindakan.
  • Sunk Cost Fallacy: Bias psikologis (kesalahan berpikir) di mana seseorang terus melanjutkan pilihan yang gagal hanya karena mereka telah mengorbankan banyak hal (waktu, uang, atau tenaga) di masa lalu. Ini fokus pada penyebab psikologisnya .
oke kita bedah sedikit, biar kita tuh gak terkesan bodoh hanya karena melakukan kesia-siaan.

Saya ingin memberikan gambaran mengenai fenomena kuda mati dalam kehidupan sehari-hari. mengapa kuda mati menggambarkan "ketidak-efektifan"  yang cenderung dinormalisasi. tidak ada yang mau menunggangi kuda yang telah mati namun faktanya kita cenderung dipaksa untuk terus menunggangi kuda mati tersebut. 

saya berikan beberapa gambaran :

Jika kita pernah registrasi pada website-website pemerintah (Indonesia) untuk pendataan, biasanya akan muncul notif "Server Error" atau kode layar lainnya. bukan nya kapasitas server itu diperbesar karena banyak yang akses, malah diminta antri menunggu. kan, sistem online itu untuk menghindari antrian yang panjang, hasilnya sama saja dengan antrian di meja pendaftaran manual, kita diminta menunggu dan sabar. mungkin saja ada alasan lain seperti efisiensi dan pemangkasan biaya, tapi pada hal-hal yang sifat nya penting dan mendesak seperti tahap pendaftaran siswa, ASN, dan layanan kependudukan seharusnya aman tanpa gangguan. hal-hal ini sering terjadi, seolah kita diminta terbiasa dengan masalah bukannya keluar dari masalah.

Saat jalanan rusak dan berlubang, yang bisa menimbulkan potensi kecelakaan. Kita lebih banyak dituntut "hati-hati" tanpa diikuti solusi perbaikan lubang jalan atau larangan khusus bagi kendaraan kelebihan muatan.

Jika sebuah program yang dijalankan terlalu memakan banyak anggaran dengan hasil yang tidak signifikan, atau mengorbankan program yang lebih penting maka itu juga sering terjadi. Istilah Kabinet gemuk dalam suatu pemerintahan juga dinilai tidak efektif justru membebani pembiayaan negara pada hal-hal yang tidak subtansial. Manajemen seperti lapisan bawang tanpa peran dan tanggung jawab tugas yang jelas juga bisa menghambat jalannya fungsi organisasi pada suatu lembaga. hal-hal tersebut dikhawatirkan tumpang tindih, pembengkakan biaya, dan kesia-siaan operasional.

Apakah kuda mati hanya berlaku pada level manajerial dan birokrasi ?

Saya ingin membedakan nya antara sistem dengan gaya hidup.  kata "sistem" lebih mengacu pada mekanisme yang berjalan pada suatu organisasi sedangkan kata "gaya hidup" lebih mengacu pada cara pandang individu atas suatu hal yang dijalani nya.

Pada level Individu, kuda mati tampak seperti seseorang yang tetap fokus bertahan menjalankan suatu usaha meskipun usaha tersebut tidak memberi tanda kemajuan yang berarti. misalnya dalam relasi, seorang tetap mempertahankan usaha demi meraih cinta pujaannya, padahal tidak ada tanda nyata yang menunjukan bahwa pujaan nya menunjukan ketertarikan. jika sunk cost fallacy lebih mengarah pada usaha mempertahankan hubungan yang tidak sehat hanya karena keduan nya sudah mengeluarkan waktu dan biaya yang banyak dalam menjalani hubungan tersebut. maka, kuda mati bagi individu digambarkan seseorang yang tetap menunggu pasangan berubah atau upaya mengubah pasangan yang sia-sia.

Contoh lainnya, seseorang yang tetap mempertahankan kebiasaan lama demi mengharapkan hasil yang signifikan. Dia ingin datang tepat waktu namun kebiasaan bangun tidur nya tidak dirubah, selalu mengikuti pola yang sama. begitupun dengan sikap untuk hidup yang sejahtera, ia tetap mempertahankan gaya hidup yang tidak sehat.  begitupun dalam melakukan usaha tanpa adanya rencana-hanya menjalankan tindakan biasa untuk mengharapkan hasil yang banyak maka itu hal itu tindakan sia-sia dalam menggunakan sumber daya. proses itu penting, namun proses yang baik biasanya menunjukan hasil yang baik. 

Kuda mati pada kasus individu harus dipahami dalam konteks yang sesuai, tidak serta merta individu yang berproses, bertumbuh, dan berkembang pada suatu hal meskipun hasil yang signifikan belum terlihat, tidak langsung diumpamakan seperti menunggangi kuda mati. pada hal-hal yang bisa terukur secara rasio dan data metafora kuda mati bisa dijadikan sebagai analogi. seperti seseorang yang berusaha melakukan hal yang sama demi mengharapkan hasil yang berbeda. kuda mati mengadopsi perilaku individu yang tidak berpikir strategis atau keluar dari zona masalah yang seharusnya  bisa diselesaikan. seperti seseorang yang duduk lama memancing ikan pilihannya bukan sekedar duduk menunggu agar ikan itu datang mencaplok kail, tetapi melihat peluang yang lebih baik seperti berpindah posisi dan memerhatikan lokasi ikan yang lebih banyak. bisa juga, mengganti umpan atau teknik memancing nya.

Apakah dengan memahami kuda mati menjamin kita keluar dari masalah ?

sebagaimana metafora, kuda mati bukanlah teori yang sudah diuji melalui serangkaian fenomena lalu digunakan untuk menyelesaikan suatu persoalan. metafora - untuk menggambarkan fenomena itu terjadi, baik pada suatu kelompok atau individu untuk menyadari bahwa upaya-upaya yang dilakukan lebih mengarah kepada solusi atau pembenaran atas kekeliruan yang terjadi.

Dengan memahami posisi  suatu persoalan dalam lingkaran permasalahan, setidaknya bisa memberikan titik acuan pada zona-zona yang menuntun solusi strategis. seringkali kita menganggap apa yang dilakukan itu hal yang wajar meskipun itu salah bahkan merugikan baik secara adminitstratif ataupun psikologis. Hal-hal yang menyangkut pada kepentingan orang banyak maka langkah terbaik adalah meninggalkan kuda mati, dan beralih kepada kuda hidup yang membawa langkah solutif. 

Hal yang perlu digaris bawahi, teori kuda mati bukan semata-mata bentuk penghakiman melainkan sebuah refleksi berpikir mengenai fungsi manajemen pada birokrasi dan program strategis. Ketika ada jalanan rusak misalnya, tentu untuk memperbaiki nya memerlukan biaya yang tinggi dan rencana anggaran pembangunan yang perlu diperhitungkan sehingga tidak langsung diperbaiki, yang dipermasalahkan ialah ketika tak kunjung diperbaiki dan satu-satu nya solusi hanyalah spanduk yang bertuliskan " Hati-hati di Jalan". kesan nya slogan tersebut kaya lagi ngetik di WA, bukan proposal pembangunan. ๐Ÿ˜†✌

jika kita lihat, apakah yang dilakukan pemerintah baik nasional ataupun daerah, tampak seperti memaksa kita menunggangi kuda mati atau membawa kita keluar dari permasalahan negeri?

apa pendapat mu, berikan contoh nya ! tulis dikomen yaa.

***
Referensi

Posting Komentar untuk "Kuda Mati yang masih ditunggangi"

๐ŸŸข WA
Insight

harap tunggu sebentar :)

☀️ 0%
๐Ÿ”” Artikel selesai dibaca