Cinta yang diawali dengan api membara biasanya berakhir dingin lalu membeku. Cinta yang disertai bahan bakar letupan emosi yang meledak-ledak pada akhirnya bisa lelah dan cepat habis energi nya. Cinta selalu ditandai dengan perasaan yang bergelora hingga cinta itu habis masa nya seiring bertemu realita.
Ko bisa? kan ada cinta yang awet. pasti ada, hanya saja tergantung pada pondasi dasar cinta dan hubungan yang dijalani.
Sumber Gambar : EA Books
Pemahaman cinta mana yang dijadikan pandangan? karena dapat menentukan hubungan dua pasangan. Cinta yang didasarkan pada nilai dan visi, nuansa nya berbeda yang hanya didasari emosi. Nilai dan visi bersifat menetapkan arah sedangkan emosi seringkali berubah.
Realitanya, cinta yang dimanifestasikan ke dalam pernikahan seringkali berubah 'rasa' nya setelah kita mengenali pasangan apa ada nya. Seseorang yang dulu dianggap istimewa menjadi biasa-biasa saja, kecuali cinta masih ada sebagai rasa ketertarikan.
Ketertarikan yang terjadi secara fisik umum nya akan memudar seiring perubahan fisik pasangan. Begitupun cinta karena hal-hal lain yang dimiliki sebagai daya tarik cenderung akan memudar bila hal lain itu juga hilang. Sesuatu yang menjadikan alasan mengapa kita mencintai seseorang biasanya menjadi alasan lain juga untuk melepaskan nya.
Ketika kita mencintai karena paras, kondisi fisik, harta, status sosial, pada hal-hal yang gampang berubah maka cinta itu kurang stabil. Cinta yang stabil lahir karena adanya resonansi nilai, serta pertumbuhan yang tidak terjadi secara mendadak, melainkan hasil dari penilaian yang lebih matang. Hal ini bukan berarti menunggu pasangan untuk sempurna, tetapi menyadari bahwa pasangan hidup hanyalah manusia biasa.
Jatuh cinta tidak terjadi selamanya, karena jatuh cinta itu berbeda dengan mencintai. Jatuh cinta itu involuntary sedangkan mencintai itu komitmen yang terus diperbaharui setiap hari.
Karena nya buku ini cocok dibaca bagi remaja atau orang dewasa untuk memahami mengapa cinta yang romantis tampak seperti ilusi harapan dua pasangan yang saling kasmaran. namun setelah pertemuan dalam waktu yang panjang, ilusi itu terangkat karena dua pasangan tidak lagi memahami cinta dalam bingkai romantisme melainkan dari kondisi dua pasangan yang belum menunjukan kekurangan. Oleh karena itu buku ini membedah sisi relasi yang tidak sehat, sebuah kondisi cinta yang didasarkan atas emosi sesaat berubah menjadi relasi yang kering.
Mengapa kita cenderung merasa biasa setelah mendapat yang diinginkan ?
Manusia selalu mendapatkan dorongan yang intens untuk mendapatkan kenikmatan. Dorongan tersebut berkaitan dengan semangat, kebahagiaan, dan kekuatan untuk mendapatkan hasrat hidup nya. Hasrat hidup seperti cinta, pasangan, dan (bahkan) dorongan seksual menjadi motivasi yang besar.
Kenikmatan yang sangat kuat seringkali bersifat sementara, dan setelah puncaknya berlalu, manusia kembali menghadapi kehampaan, kesadaran diri, atau kenyataan hidupnya.
Tokoh seperti Arthur Schopenhauer juga punya pandangan serupa: bahwa dorongan seksual adalah bagian dari “kehendak hidup” yang kuat, tetapi setelah terpenuhi manusia sering merasa hampa karena dorongan itu tiba-tiba mereda.
Euforia Manusia Saat Berjuang Demi Hasrat
Konsep Post coitum omne animal triste est lebih bernilai filosopis dan psikologis dibandingkan regresi rata-rata, setidaknya ada kemiripan pola yang bisa dipahami bahwa setelah mencapai titik ekstrim, maka manusia akan kembali pada kondisi semula.
Seringkali saat jatuh cinta yang terjadi reaksi biokimia dalam otak. Laki-laki cenderung memproses hormon toresteron lebih banyak sedangkan perempuan memproduksi okstiosin. kedua hormon ini berpengaruh terhadap kondisi psikologis saat dua orang saling tertarik pada fase awal. Hormon toresteron mendorng laki-laki mengejar kepemilikan, sedangkan hormon oksitosin mendorong perempuan merasa keterikatan atau kenyamanan.
Fase awal sering terjadi kurasi kelebihan dan keistimewaan dari pasangan yang dilihat. sulit berada pada kondisi netral saat emosi seseorang menilai lebih tinggi dibandingkan akal sehat nya. karena saat jatuh cinta di fase awal, yang terjadi masa romantisme atau ekspresi kekaguman. Sebuah kondisi tentang hidup berdua untuk hidup yang indah, namun yang terjadi hidup berdua hanya ilusi dunia yang dibangun diatas imajinasi masing-masing.
Setelah kedua nya bertemu dalam ikatan sosial, agama, dan budaya yang terbingkai dalam pernikahan, maka realitas sedang bekerja, dan ilusi pun terangkat.Cinta yang diawali dengan semangat membara seringkali berakhir dingin bahkan padam. Hal yang muncul biasanya konflik, karena ketidakmampuan memenuhi ekspektasi dari kebutuhan pasangan.
Cinta yang bersatu, Bukan Peleburan melainkan Keintiman.
Saat dua orang saling mencintai, maka tidak boleh menegasikan satu sama lain. makna "kita" dalam hubungan bukan berarti semua itu menjadikan hilang identitas masing-masing pasangan.
Pasangan tetap menjadi dirinya, sesuai dengan versi terbaik nya. karena yang menjadi permasalahan muncul ketika dua orang berusaha mengubah satu sama lain.
Pasangan yang bahagia tidak menunggu dibahagiakan oleh satu dengan yang lainnya. Dia tetap punya kendali emosi dan prinsip yang menyatakan bahwa kebahagiaan serta kesedihan adalah tanggung jawab nya.
Memahami penting nya keintiman (intimacy) dan membedakannya dengan peleburan (fusion) menjadi langkah awal untuk keluar dari perebutan kekuasaan. Keintiman adalah hubungan dua orang yang saling mengenal baik, saling peduli, dan saling menghormati. Sedangkan Peleburan merupakan kondisi di mana dua orang melebur menjadi satu secara emosional.
Batas diri antar pasangan menjadi kabur antara dua pasangan, kedua nya menggantungkan kebahagiaan serta identitas sepenuhnya pada hubungan tersebut, sehingga kedua nya kehilangan identitas dan jati diri.
Gagasan dalam buku ini banyak menjabarkan realita yang terjadi, dan cukup menjawab mengapa seseorang yang awalnya saling mencintai berakhir pada tragedi. Buku anatomi berpasangan menyadarkan kita untuk tetap rasional, setidaknya menyadari bahwa manusia yang dikagumi tetap memiliki kekurangan dan kesalahan.
“Cinta adalah kondisi yang di dalamnya manusia punya kemungkinan lebih besar untuk melihat sesuatu tidak sesuai realita.” — Friedrich Nietzsche
***

Posting Komentar untuk "Anatomi Berpasangan"