Roti dan Sirkus - sekilas seperti sebuah permainan kata atau permainan yang berisi suatu pertunjukan. Sebenarnya frasa ini merujuk pada strategi pada masa pemerintah Kekaisaran Romawi untuk meredam keresahan politik dengan memberikan makanan gratis dan hiburan massal, mengalihkan perhatian rakyat dari masalah besar.
Masalah-masalah itu berkatian dengan isu politik, kebijakan pemerintah, korupsi, ketimpangan ekonomi, dan isu strategis penting lainnya, terutama yang menyangkut kehidupan banyak orang oleh pemerintah suatu negara.
Intepretasi Makna "Frasa - Panem et Circences" dan konteks nya.
Narasi roti dan sirkus biasa dipakai dalam menggambarkan kemerosotan dan kemunduran romawi. pada masanya awalnya intepretasi roti dan sirkus mengalami sedikit perbedaan, hal ini dimaksudkan sebagai intepretasi positif yang mana roti yang diberikan sebagai cara untuk menjaga ketertiban massa. Seperti rakyat yang lapar selama itu menjadi tanggungan negara maka kewajiban negara itu memberi nya roti, karena jika dibiarkan massa akan memunculkan revolusi. Pada Perkembangannya, istilah roti & sirkus - mengalami intepretasi yang 'negatif' sehingga setiap pemberian roti oleh pemerintah bisa diasosiakan sebagai bentuk memanjakan rakyat. Maka dampaknya, setiap pemberian yang dilakukan pemerintah suatu negara akan dianggap sebagai intepretasi roti dan sirkus. Pada pembahasan konteks modern, frasa roti dan sirkus lebih digunakan sebagai bentuk kritik atas kebijakan pemerintah yang populis.
Frasa "panem et circences" muncul dari satire Juvenal. Satire adalah genre puisi yang digunakan untuk kritik, umumnya kritik sosial, dan disampaikan cukup keras. Juvenal tidak menulis satire dalam arti yang kaku, tidak selalu bernuansa kritik, tapi juga bernuansa humoris. Intepretasi ini sangat penting karena seringkali kita menggunakan sebuah frasa tertentu untuk menyindir sesuatu tanpa mengetahui asal usul tujuan awal dari penggunaannya. Beberapa frasa yang terkenal dari Satire Juvenal lainnya - Mens Sana In Sorpore Sano - didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.
Konteks waktu dan tempat serta bagaimana frasa :Panem et Circenses" dituliskan dapat memberikan pencerahan, apakah frasa itu berdiri sendiri atau merupakan sebuah baris yang tersusun dari kalimat lain, karena konteks nya bisa jadi berbeda.
Pada kutipan Juvenal 10, 72-81 bahwa baris tersebut dimaksudkan sebagai teguran pedas dan tajam terhadap rakyat romawi, yang dengan ceroboh telah menyerahkan hak perogratif mereka untuk mengadili kejahatan dan mengawasi fungsi negara. Dia mengecam rakyat Romawi karena membiarkan otoritas mereka atas urusan publik dirampas, direbut oleh kaisar yang menjanjikan roti dan hiburan. Situasi itu hampir mirip dengan kondisi negara demokrasi yang rakyat nya lebih disibukan dengan konten hiburan daripada perhatian pada isu strategis negara.
Roti dan Sirkus Era Romawi
Roti pada masa era romawi terutama pada masa beberapa kaisar (Julius Caesar dan Agustinus ) serta periode kehidupan Juvenile sendiri, sangat berkaitan dengan makanan pokok. Makanan pokok pada waktu itu adalah roti dan biji-bijian gandum. Maka munculah istilah Annona. Dalam konteks Romawi kuno, Annona (secara resmi disebut Cura Annonae) bukan merujuk pada tanaman atau biji gandum itu sendiri, melainkan sebuah sistem negara untuk mengamankan dan membagikan pasokan makanan harian. Karenanya, komoditas utama yang paling diatur di dalam sistem tersebut memang adalah bij-bijian gandum.
Annona sebagai mekanisme menstabilkan harga yang dirancang untuk menekan harga biji-bijian tanpa membuat negara bertanggung jawab atas keseluruhan pasokan makanan kota. Hal ini untuk mengurangi fluktuasi harga dan penimbunan yang dapat menyebabkan kekurangan pasokan pangan. hal itu penting, karena dapat mencegah kerusuhan akibat kekurangan pasokan roti. Karena kerusuhan akibat kekurangan roti dapat menggoyahkan stabilitas politik, terlepas apakah negara itu berbentuk monarki, demokrasi, ataupun republik.
Circenses yang berarti Sirkus pada masa romawi merujuk pada pertunjukan di Coloseum Roma yang menampilkan pertandingan para Gladiator. Durasi pertandingan gladiator dan pertunjukan lainnya di Roma Kuno bukan hanya beberapa jam, tetapi seringkali berlangsung berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, menciptakan pengalihan perhatian yang menyeluruh bagi penduduk. Acara-acara ini direncanakan dengan cermat untuk memastikan keterlibatan maksimal, secara efektif mengalihkan perhatian dari masalah-masalah sistemik kekaisaran.
Durasi acara-acara ini bukanlah sembarangan. Itu adalah langkah yang diperhitungkan oleh kelas penguasa untuk mempertahankan kendali. Dengan mengisi kalender dengan berbagai acara dan tontonan lainnya, para kaisar memastikan bahwa masyarakat tetap sibuk. Penyair Romawi Juvenal terkenal mengkritik strategi ini dalam Satire- nya , menulis, “Rakyat yang dulunya memberikan perintah, jabatan konsul, legiun, dan segala sesuatu lainnya, kini tidak lagi ikut campur dan hanya mendambakan dua hal: roti dan sirkus.” Durasi yang panjang dari tontonan-tontonan ini merupakan bagian kunci dari strategi ini, menciptakan keadaan gangguan yang hampir konstan.
Mengapa harus roti dan sirkus ?
Roti dan sirkus mewakili dua hal, yaitu: makanan dan hiburan. ketika rakyat mulai gelisah dan mempertanyakan suatu kebijakan pemerintah maka memberikan makanan dan hiburan gratis bagi pemerintah sebagai cara menenangkan rakyat - mengalihkan perhatian.
Roti yang diberikan bisa dalam banyak bentuk, seperti pangan, distribusi gandum , dan makan bergizi gratis, hal ini akan memberikan rakyat kenyang sementara. selain itu, makna roti tidak harus diartikan secara literal "bentuk makanan" tetapi bisa diartikan sebagai "kebutuhan dasar". Bentuk roti yang bisa dinikmati rakyat hari ini seperti bansos (bantuan sosial), PIP aspirasi, stimulus ekonomi menjelang pemilu, program rumah murah, dan kemudahan pinjaman konsumtif. Pada banyak negara, sebenarnya program itu punya fungsi nyata, hanya saja hal-hal itu tidak menyelesaikan persoalan sampai akar, hanya dipermukaan saja. kebijakan tersebut bersifat populis, dipromosikan besar-besaran, dan tidak menyelesaikan dalam jangka panjang.
Sirkus yang diberikan bisa dalam banyak variasi, konteks nya lebih luas daripada sekedar hiburan. ia merujuk pada segala hal yang mampu menyita perhatian, menciptakan reaksi publik, emosi sesaat, dan sensasional atau sekedar viral. Jika dahulu pertunjukan ditampilkan oleh gladiator di Colosseum Roma, maka sekarang bentuknya drama politik, perang buzzer, infotainment, sensasi selebritas, pertandingan olahraga, dan konten receh. Semua itu ditunjukan agar perhatian publik disibukan oleh situasi emosional bukan pada ruang rasional yang membuat mereka tetap sadar pada permasalahan konkret suatu negara.
Menikmati Roti dan Menonton Komedi
Politisi Indonesia tahu betul cara yang cukup efektif dan klasik dalam meraih suara rakyat, yaitu dengan "Roti dan Sirkus". Kepala Daerah saat masa akhir jabatan sibuk pamit dengan roti dan sirkus nya dengan acara makan-makan gratis, syukuran perpisahan, bagi-bagi hadiah doorprize, lomba olahraga kepala Daerah Cup, acara hiburan rakyat, dan konser musik gratis.
Ketika sudah kenyang maka rakyat berhenti berpikir dan ketika sudah asyik dengan hiburan maka perhatiannya teralihkan dari sesuatu yang lebih penting dan strategis.Dengan cara itu kepala Daerah baik Gubernur dan Bupati melanggengkan kekuasaannya pada periode selanjutnya. lalu, bagaimana dengan kebijakan suatu kepala negara yang memberikan makanan bergizi gratis? apakah itu sebuah kebijakan yang hampir mirip dengan roti dan sirkus atau murni proyek strategis nasional?.
Belum lama, kita banyak disibukan drama Ijazah palsu mantan kepala negara, seolah hal itu menjadi sebuah Isu Strategis yang layak untuk dibahas sebagai agenda bangsa. itu penting, namun ada hal yang lebih penting untuk dibicarakan secara terus menerus. Pada Isu politik besar seringkali terjadi kemunculan berita-berita viral secara masif seolah berita viral itu menutupi pandangan rakyat dari melihat permasalahan/isu penting nasional.
Makanan dan hiburan tentu sebagai pelengkap dalam kehidupan, sebagaimana yang diwakili oleh roti dan sirkus. Namun, hal itu tidak lebih penting daripada memberikan ruang bagi rakyat / masyarakat berpikir keluar dari zona kemiskinan, pendidikan rendah, polusi, inflasi, dan kebijakan yang hanya menguntungkan elit politik. Pada tingkat kebutuan dasar, masih banyak rakyat harus sibuk mencari roti setelah lelah mereka harus menghibur diri dengan pertunjukan. Fakta tersebut, bisa menjadi strategi penguasa untuk memberikan kebijakan populis tanpa solusi jangka panjang. pada akhirnya, rakyat merasa lebih senang dimanjakan dengan bantuan makanan secara terus menerus sehingga menciptakan ketergantungan kebutuhan pada penguasa.
Seseorang yang kelaparan sudah pasti solusi nya diberi makanan, namun agar kelaparan nya berhenti bukan dengan bantuan makanan secara berterusan melainkan memberikan latihan agar terampil mencari pemenuhan kehidupan.
Roti dan Sirkus bukan hanya frasa, ia bingkai cara kita melihat suatu kebijakan apakah murni atas kepentingan negara atau kepentingan penguasa. Ketika rakyat diberi ruang berpikir, pendidikan, dan sadar akan hak politik, maka suara mereka bisa memberikan terciptanya harapan munculnya Pemimpin, Kepala Daerah, dan negarawan yang memiliki kapasitas mumpuni, alih-alih suara mereka dibeli hanya demi sebuah roti.

Oke
BalasHapusSeperti WA
BalasHapus