Pengantar Dunia hari ini
Sejauh yang bisa kita lihat dan pahami mengenai dunia kita hari ini. Dunia sekitar berkembang dan terus tumbuh sebagai representasi perjalanan manusia, berangkat dari ide-pikiran hingga kenyataan.
Realitas yang kita jalani sesuai dengan cara kita memandang nya berdasarkan pikiran yang kita jaga dan keyakinan yang memengaruhi tindakan kita.
Kemajuan zaman terus berkembang pesat hingga sulit bagi kita hari ini beradaptasi. kita menyebut fenomena hari ini sebagai VUCA, yaitu : Votality (kecepatan), Uncertainty (Ketidakpastian), Complexity (Kompleksitas), dan Ambiguity (Ambiguitas).
Hal demikian tidak terlepas dari munculnya revolusi industri pertama abad ke-18, yang mengubah cara kerja manusia dan membentuk budaya baru, kemampuan produksi massal dan konsumsi dengan cara praktis tanpa perlu melibatkan usaha yang panjang untuk memproduksi banyak barang.
Revolusi Industri kedua, penemuan Listrik dan bola lampu abad ke-19, juga mengubah kembali cara manusia untuk menikmati aktivitas lebih panjang tanpa harus menunggu matahari menerangi bumi. Manusia bisa menikmati malam tanpa gelap, pertemuan malam yang lebih hangat, dan mempercepat roda industri bergerak untuk memangkas waktu yang lebih lambat.
Realitas Maya dan Dunia Artifisial
Penemuan Internet pada abad ke-20 telah mengubah batasan kita dalam memahami lingkungan fisik, yang tidak terbatas dimana kita tinggal tapi sejauh mana kita mengakses dunia melewati batas geografi dan Privasi.
Algoritma memainkan peran penting dalam mengubah struktur pilihan manusia dalam melihat dunia yang siap saji, hiburan cepat, produk yang tiba-tiba muncul didepan layar, seolah dunia tahu apa yang kita inginkan, mengubah posisi kita dari sekedar konsumen yang punya pilihan menjadi target produk bagi pasar digital. Alih-alih kita ingin mencari informasi kita justru digiring opini.
Dunia kita hari ini merupakan kumpulan bit informasi yang menstimulasi otak manusia, yaitu amigdala, untuk bereaksi terhadap opini, konten, Issue, tren, atau sesuatu yang viral.
Akhirnya, munculah polarisasi dalam sentimen politik, komentar-komentar yang mengendepankan emosi pada satu isu, sifat impulsif pada barang-barang tertentu, ledakan kemarahan pada berita viral, dan opini-opini di platfom dunia maya (IG, Facebook, Tiktok, X, Thread) untuk kepuasan hati semata.
Dunia Berjalan semakin Cepat, Dimanakah Rem nya ?
Pada Abad ke-21, ya itu sekarang dan selanjutnya..
Kecerdasan Buatan (AI) berkembang seiring perkembangan hardware, teknologi litografi, dan kecepatan internet memainkan peran dalam hal transfer data, pengetahuan, dan informasi, juga budaya. Hal ini mengubah aspek kehidupan baik disadari atau tidak, hambatan pertemuan fisik dapat diatasi dengan pertemuan virtual, konsumen bisa membandingkan harga satu barang tanpa perlu berkeliling pasar, suatu tren budaya pop dapat menjadi konsumsi bagi massal & standar untuk gaya hidup dari satu negara ke negara lainnya. Robot yang dulu hanya mainan kini benar-benar tampak seperti manusia yang bisa berjalan, menggerakan tangan, dan bahkan memiliki kecakapan pikiran.
Semua berjalan begitu cepat, hari demi hari, tanpa terasa kita sudah menjalani nya dalam waktu yang singkat. Tahun-tahun terus berjalan bersama kecepatan teknologi yang mengikuti hukum moore, berkembang seperti deret ukur, melompat secepat kilat sebelum kita mampu memahami dan menyadari nya sejauh mana teknologi ini membawa kita melompat dari revolusi industri 4.0 hingga revolusi industri 5.0 dan selanjutnya.
Ritme Perjalanan manusia
Bayangkan hanya memerlukan beberapa dekade - hampir kurang dari satu abad. Manusia melangkah jauh berbeda dengan lompatan zaman evolusi kognitif awal, bisa dikatakan dulu sangat lambat. Lihatlah perjalanan manusia dari zaman batu - revolusi pertanian- hingga revolusi pengetahuan ilmiah, semua memerlukan jangka waktu dan transisi pergeseran budaya (cara hidup) yang panjang.
Faktanya perjalanan revolusi pengetahuan itu - diantara satu hal itu yang membentuk nya adalah pikiran manusia.
Dulu manusia berjalan berkelompok mengikuti ritme alam, siang berburu dan malamnya mereka berkumpul. Revolusi industri mengubah gaya hidup manusia, dari aturan ritme makan dan minum susu tanpa kita mengetahui kebutuhan secara pasti, yang jelas semuanya telah menguntungkan industri.
Dunia Barat dengan Materialisme nya.
Dunia barat dengan pemikiran intelektual nya telah melakukan aselerasi bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, menyebar memengaruhi belahan dunia lain seperti pergerakan spora yang tersebar angin, ntah untuk menumbuhkan pengetahuan ditempat baru atau justru meracuni dengan produk pengetahuan yang tidak siap oleh pemakai nya, yaitu mereka yang gagal beradaptasi dan mempelajari iptek.
Bisa ditebak ?
Ujung-ujungnya menjadi penguasa baru dalam koloni gaya baru - penyadapan informasi dan data suatu negara.
Gemerlap kota-kota dengan cahaya nya yang kini bisa terlihat dari ruang angkasa, seolah tidak pernah padam bergantian di setiap sudut belahan bumi yang berputar.
Pembangunan yang menjulang tinggi diberbagai negara seolah berlomba untuk menjadi bangsa yang lebih tinggi di mata dunia melalui simbol menara nya. Terlihat seperti representasi mata satu nya eyes of sauron dalam Lord of the Rings.
Pembangunan seolah menjadi simbol peradaban suatu bangsa, membangun gedung setinggi-tinggi nya, untuk lambang kemajuan suatu negara atau sekedar tampil menunjukan kesombongan seperti bangsa sumeria yang membangun menara babel untuk menyaingi kuasa tuhan ?
"Sekarang kita telah belajar terbang di udara seperti burung, berenang dibawah air seperti ikan, namun kita kekurangan satu hal- untuk belajar hidup di bumi seperti manusia " - begitulah ungkapan George Bernard Shaw
Semua berjalan cepat menuju singularitas, apakah ini kemakmuran atau kehancuran ?
Catatan : Singularitas teknologi, ' mengacu pada hipotesis masa depan ketika kecerdasan buatan melampaui kecerdasan manusia secara drastis, menciptakan perubahan yang tak terprediksi dan tak dapat dikendalikan manusia.
Dunia kita hari ini tak lagi terbentuk diatas tumpukan material tapi terbentuk melalui ambisi manusia untuk terus mengejar visi kehidupan yang lebih mudah, cepat, dan terkendali.
AI dimaksudkan untuk memudahkan analisa informasi, keputusan yang tepat dari suatu data yang didapat, ataupun membuat suatu analisa tentang penemuan obat baru dan melakukan suatu pekerjaan apa yang tak bisa dilakukan oleh manusia.
Catatan : AI disini diartikan secara umum, untuk jenis-jenis yang dipakai dalam konteks bisa dipahami itu generatif AI (gemini, chatgpt, dan deepseek), ada juga istilah LLM (Learning Language Machine).
Lalu, apa yang terjadi jika kemajuan pesat tanpa rem dan kendali etik, penyalahgunaan teknologi dan transparansi data, kita tidak lagi sekedar konsumen teknologi tapi kita adalah budak teknologi, atau budak dari suatu sistem yang menguasai teknologi ?
Maka, seperti apa kehidupan nanti jika sudah diatur dan disetting sedemikian rupa tanpa kita sadari.
Kemana manusia akan pergi dan digiring ?
itulah pertanyaan filosofis dalam Novel Origin karya Dan Brown, manusia terlalu memercayai sains, seolah logika mengajak berpikir linear, pembuktian ilmah atas dasar materi itu sudah cukup. Klaim mereka menyatakan bahwa manusia berevolusi dari kehidupan bawah laut sejalan dengan evolusi menuju manusia purba hingga berjalan tegak seperti ini, begitupun akan terus berevolusi ke dalam bentuk yang lain. seolah agama dan kepercayaan tentang dewa sudah usang, tapi Islam tak akan mati dengan pengetahuan sebagai sintesis dari pemikiran Ibnu rusdi sebagai mercusuar awal bahwa akal dan wahyu tak bertentangan. Justru menguatkan untuk melihat kembali tujuan dari ilmu pengetahuan sebagai jalan memperluas keimanan. Tentu saja kawan debat tulisan nya Imam Ghazali dengan karya nya Tahafut Al-falasifah tetap sebagai alarm agar manusia tidak tersesat oleh karancuan berpikirnya yang bisa salah. Terutama dalam mengedapankan akal sebagai otoritas karena terlalu jauh berfilsafat.
Mengedepankan akal, material, dan Posibilis- kemungkinan manusia untuk merekayasa ciptaan tuhan.
Materialisme.
saya tidak membahas materialisme dalam potongan "MADILOG" , tidak juga dalam konteks Karl MarX.
Seperti yang kita ketahui, Bahwa pandangan Materialisme merupakan pandangan hidup yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta hanya terdiri dari materi atau kebendaan, serta segala proses yang terjadi dapat dijelaskan dan direduksi menjadi proses fisik. Pandangan ini tidak mengakui keberadaan hal-hal non fisik seperti jiwa, ruh, atau kekuatan spiritual, dan seringkali mengaitkan kebahagiaan atau pencapaian dengan kepemilikan harta benda dan kesenangan materi.
Pembahasan disini ingin menggaris bawahi tentang upaya manusia untuk mencari kebahagiaan, kekekalan hidup, kemakmuran yang seolah-olah hanya bisa diperoleh melalui kepemilikan harta benda dan kesenangan materi.
Materialisme menjadi gaya hidup.
Jika Tan Malaka menyampaikan dalam madilog nya -katanya gak nge-bahas madilog :)
Berdasarkan pemahaman pribadi, tujuan materialisme nya Madilog untuk objektivitas manusia dalam memahami sistem dunia yang bekerja berdasarkan hukum alam yang bisa dipahami dan dipelajari bukan semata-mata keyakinan buta, takhayul, atau melihat takdir seperti kaum fatalisme (pasrah sama nasib).
Materialisme dalam pandangan yang kita jalani, menyatakan bahwa usaha-usaha manusia untuk memperoleh kebahagian, kemakmuran, dan kenikmatan didasarkan pada kepuasan inderawi dan kepemiliki atas suatu benda. Hal ini mendorong usaha manusia diarahkan untuk mengumpulkan harta benda sebanyak -banyak nya baik untuk kebutuhan hidup nya maupun untuk gengsi/ status sosial.
Tak ada yang salah karena manusia pada dasarnya juga makhluk ekonomi (homo economicus), yang berusaha mencapai kemakmuran melalui pemenuhan kebutuhan. Manusia melihat sumber daya yang ada di bumi dan alat pemuas kebutuhan itu langka (scarcity). Sehingga manusia berebut - memonopoli SDA karena takut habis, atau untuk keuntungan dirinya dan mengabaikan hak orang lain. Munculah keserakahan, perampasan hak orang lain, kerusakan alam, dan eksploitasi tenaga manusia seperti perbudakan. bisa jadi ini yang dikritisi oleh Karl Marx tentang Kapitalisme. jujur saya belum baca Daas Kapitals hanya kutipan ataupun review nya saja.😁🙏
Gaya hidup ala materialisme ini lah yang memunculkan beragam persoalan, jika dulu persoalannya soal eksploitasi tenaga kerja dan lingkungan alam, sekarang bisa jadi eksploitasi data bahkan eksploitasi iman. Tidak sedikit orang menggadaikan harga diri nya demi mendapatkan gadget idaman atau iming-iming kekayaan.
Pertanyaan-Pertanyaaan
Jika segala hal bisa manusia peroleh dengan cepat, lantas apakah kebahagiaan nya itu bisa bertahan lebih lama ?
Mengapa manusia merasa hampa di dunia yang menawarkan hiburan, permainan, dan makanan yang bisa ia dapatkan tanpa usaha yang keras ?
Bukankah suatu kemajuan seharusnya menciptakan kemakmuran dan banyaknya kesempatan pekerjaan ? lalu mengapa semakin lebar jurang kekayaan dan kemiskinan ?
Ketika kemewahan menjadi standar tuntunan dan hiburan karena dianggap prestasi ? lalu dimana kualitas individu yang memiliki kompetensi, karakter, dan kebermanfaatan mendapat tempatì di dunia yang mengapresiasi gaya 'meterialistik' ?
contoh lah para pejabat negara, mereka menjadi pejabat publik tapi karakter kaya orang udik.
Lalu mengapa juga orang-orang harus menutup diri dari terbuka nya kemajuan dunia dengan alasan bahwa ilmu agama itu jauh lebih penting ?
Bagaimana kita bisa menolong orang yang tak sempat memikirkan akhiratnya karena betapa berat urusan 'ekonomi' dunia nya ?
Agama sebagai Pelarian
Saat itu saya duduk seperti biasa di warung kopi. tapi ini momen nya udah lama juga sih.
Seperti biasa sesudah sholat maghrib di masjid sambil menunggu waktu isya. saya biasa ngobrol atau sekedar bermain HP (kenapa sih gak pegang al-Quran aja 😌)
dalam obrolan ringan, terlontar pertanyaan saya kepada salah satu jamaah,
" Kenapa ya kita (orang islam) gagal bersaing dibidang ilmu pengetahuan (konteks nya Indonesia)"
trus beliau jawab,
"karena ini udah bukan zamannya lagi, fokus kita tinggal ke akhirat. Berdasarkan hadis nabi umur manusia di bumi tinggal beberapa puluh tahun lagi. "
Saya mencoba memahani konteks nya, jika itu mengacu pada tahun hijriah tidak akan sampai pada usia 1500 H. Asumsi tersebut memang tidak berdasar, tidak ada dalil yang sahih juga, tapi terlanjut populer bagi mereka yang merindukan kiamat, duhh. padahal kan itu gak ada yang tahu, kecuali Allah swt, iya kan ?
iya dong...
Saya menyesap kopi- tidak menjawab, seperti itu kah cara kita memahami dunia dari sudut pandang agama ? (tanya saya dalam hati)
Kita bisa merasakan euforia dalam beragama apalagi ada sesuatu yang dapat meningkatkan keimanan kita dengan kabar akhirat, bidadari syurga, pahala yang sangat banyak, dan keutamaan ibadah lainnya, tampak begitu manis dan indah bagi hidup kita, seolah permasalahan dunia tampak kecil, seiring bertambah keyakinan kita pada Allah swt.
Bagaimana, jika agama hanya sebagai pelarian? seperti candu atau aspirin yang meninabobokan penganut nya hanya karena doktrin (beberapa) pemuka agama agar kita terlena dan pasrah tanpa ikhtiar atas kehidupan yang kita jalani begitu saja.
Bahkan 'agama' ini dijadikan alat legitimasi bagi pihak penguasa, ntah itu raja atau pemerintah negara demi membenarkan keadaan suatu masalah yang sebenarnya masih bisa dibuatkan solusi nya oleh pembuat kebijakan, yaitu pemerintah. Next, nggak mau bahas politk dulu..
Kemiskinan diobati dengan sekedar Keyakinan
Seperti kemiskinan yang berterusan, apakah itu takdir untuk sekedar dijalani atau memang karena sistem yang membuat seseorang terus berada pada kondisi yang dialami.
Sebagian kaum akan berkata bahwa kemiskinan yang terjadi obat nya adalah sabar. Kita harus sepakat dengan hal itu, apalagi yang perlu saya garis-bawahi bahwa kemiskinan bukanlah sesuatu yang mengancam, bukan keadaaan yang memalukan, bukan sesuatu yang lebih rendah dalam status derajat hamba.
Perlu dibedakan juga kemiskinan dengan kesederhanaan, ini soal gaya hidup. Kekayaan hati lebih utama dong, jika bukan karena hidup materialis. Pendapatan masyarakat ini berpengaruh terhadap cara hidup, pendidikan, sumber gizi pangan, kesehatan, dan kesejahteraan. Dalam demografi kita menyebutnya "Kualitas Penduduk".
Selain itu, sering muncul pernyataan, "kalau banyak harta nanti dihisab nya berat ". Hal ini yang membuat (sebagian) dari kita tidak termotivasi untuk mencari harta atau mengumpulkan kekayaan. karena hidup itu pilihan.
Kadang ambisi untuk meraih kekayaan tanpa etika atau rambu-rambu agama juga menjadi pemicu perbuatan korupsi, menipu, berlaku tidak adil, sewenang-wenang, yang bermuara pada cinta dunia.
Orang tanpa agama juga kalau ingin jadi kaya jalannya apa saja diterabas, walaupun ia bukan pejabat jalannya pasti ada aja, ntah dengan maling kecil, ikut menjarah, penipuan, judi online, ataupun penyalah gunaan kepercayaan. Lingkungan kementrian agama aja bisa terkena kasus korupsi, gimana kementerian keuangan yang banyak duitnya, hehe.
please, be seriously ! dikit lagi.
Pengetahuan adalah Penguat Agama, dan itu Penawar nya.
Agama bukan lah pelarian, melainkan sebagai pijakan dalam menjalain kehidupan dunia. Tentu saja pijakan ini harus kokoh dan terus ditempa melalui pemahaman yang baik dan ilmu yang cukup sehingga langkah kaki manusia tetap kokoh tanpa kehilangan prinsip ditengah ujian zaman.
Agama sebagai bentuk validasi keyakinan dan kehendak hati, karena ukuran kebaikan dan kebenarannya adalah Al-quran dan hadits sehingga lebih uiversal, meskipun rasio dan nurani bisa jadi pertimbangan tentu saja konteks nya terbatas, tidak semua hal bisa dilogikakan bahkan dalam menimbang nurani pun perlu hati-hati sehingga keadilan dan kebenaran tetap tegak dan dijalani hadir dalam bentuk prinsip hidup.
Prinsip yang dimiliki seorang individu seperti filter yang memvalidasi apakah sesuai dengan nilai yang diyakininya atau tidak, tentu manusia bisa salah tanpa ada panduan seperti buku petunjuk untuk kompleksitas masalah dunia yang begitu luas. Perspektif seseorang atas dunia bisa memicu perdebatan kadang pertengkaran, banyak konflik manusia terjadi atas dasar membela kebenaran.
Agama seperti rem, rambu-rambu, ataupun kerangka berpikir yang mengarahkan. Kita ambil contoh pemahaman hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan dalam gerakan feminisme yang menuntut persamaan hak dan kewajiban. Perempuan tetap bisa menduduki jabatan paling tinggi, pemimpin dalam konteks perusahaan, pendidikan, dan gerakan perjuangan. Namun, tetap saja fitrah nya perempuan tak bisa menjadi seorang imam, tapi tetap dimuliakan dalam islam.
Agama berjalan dengan pengetahuan
Dalam konteks bermasyarakat, di tengah budaya materialis saat harta menjadi standar gengsi, status sosial, dan kekayaan sebagai kendaraan dalam menebar pengaruh individu, seseorang yang meyakini prinsip agama nya tentu tidak akan terpedaya atau terpesona, ia tetap merasa bersyukur dengan kondisi harta yang dimilikinya sambil tetap berusaha untuk menjadi orang yang berguna. Justru ia melihat kekayaan orang lain adalah jalan untuk sampainya nikmat Allah swt pada dirinya. Kekayaan yang dimiliki seseorang bisa saja digunakan untuk merenovasi masjid, memperbaiki fasilitas umum, dan sedekah kepada fakir miskin sehingga kita ikut bersyukur dan bahagia melihat nya.
Maka agama bisa menjadi prinsip, pijakan, dan standar keputusan dalam menjalani hidup bila dipahami dengan benar, namun bisa menjadi jebakan yang membahayakan bila diyakini tanpa pengetahuan, hanya akan menjadi alat legitimasi bagi pemerintah yang mengatur negara, suami yang mengatur rumah tangga, atau orang tak berpunya untuk tetap pasrah pada nasib nya.
Penutup
Kemajuan dunia yang cepat, perjalanan waktu yang singkat, arus informasi yang membuat pikiran tampak penat, hiburan dan permainan didepan mata tanpa perlu berjalan jauh ke suatu tempat, tentu menimbulkan goncangan jiwa karena tidak semua hal itu kadang memberi nikmat.
Kita menginginkan ketenangan, namun kita menukarnya dengan hiburan. lebih banyak kita mendengarkan musik daripada al-Qur'an, lebih banyak kita mendengarkan kata-kata influencer dibanding perkataan hadits yang terlupakan, kita berlomba-lomba memamerkan harta kekayaan dan status sosial padahal kita lupa bahwa kekayaan itu ada pada pemberian.
Belum lagi, ditengah arus pemikiran dari setiap manusia yang berusaha menyampaikan gagasan, memperjuangkan idealismenya, untuk dunia yang dicintainya. Para pemikir, filosof, teolog, ilmuwan berusaha menyampaikan temuannya untuk bisa berkontribusi bagi masyarakat namun seringkali disalahartikan atau bahkan disalah gunakan. Bukannya memicu dialektika, tapi malah menimbulkan konflik. Konflik antar kelas pekerja dan majikan, rakyat dan penguasa, pengusaha dan pemilik tanah adat. Semua bisa terjadi karena manusia untuk sejahtera memerlukan Sumber daya, karena terbatas dan timbul kelangkaan, maka munculah keserakahan dan penderitaan. Bagi sebagian agama menjadi pelarian dari kerasnya dunia, sebagian lagi menutup diri dari ikut campur urusan masyarakat untuk menghindari tragedi.
Masyarakat seperti buih yang terombang-ambing di tengah lautan informasi, ideologi, kepentingan oligarki, rasanya kita memerlukan perahu dan kompas yang membuat kita tetap terarah tanpa tergoda oleh tekanan gelombang lautan dan angin perubahan zaman yang penuh ketidak pastian.
Seperti yang dikatakan Ali bin Abi Thalib ra.
" aku heran pada manusia karena ia menyukai tren kehidupan dan membenci kematian, padahal kehidupan penuh ketidakpastian dan kematian adalah suatu kepastian "
Agama bisa menjadi pelarian yang menenangkan bagi orang-orang yang dipatahkan hati nya oleh dunia. Namun dengan pengetahuan, ia tampak seperti obat bagi orang-orang yang tetap melihat dunia tanpa kehilangan keyakinan pada Allah swt.
Apakah agama dan berbekal pengetahuan saja cukup ?
*referensi :
https://thecolumnist.id/artikel/kritik-alghazali-terhadap-filsafat--1351
The Godfather Tan malaka.pdf
https://indoprogress.com/2017/08/memaknai-lagi-agama-adalah-candu-milik-marx/
Buku The Invention of Yesterday karya Tamim Ansary
https://www.surau.co/2025/08/30663/memahami-al-quran-sebagai-paradigma-bukan-sekadar-bacaan-melainkan-peta-jalan-kehidupan/
Posting Komentar untuk "Dunia Hari ini, Antara Materialisme, Pengetahuan, dan Agama "