Selamat Datang
Selamat Datang - Ruang kita Bercerita *** Selamat Datang - Ruang kita Bercerita

Minggu Pertama, Perkenalan saya dengan mereka.

Prolog.

Minggu Pertama, tahun ajaran baru, wajah baru, semangat baru. Itu lah harapan saya.

Meskipun harus saya akui tidak mudah mengajar 50 siswa dalam satu kelas, itu artinya saya harus berbagi energi kepada 50 anak, energi semangat, fokus, dan juga perhatian.

Meskipun cara melihat laki-laki berbeda dengan Perempuan (ini yang saya pernah baca dari buku why men don't listen and women can't read maps). Perempuan biasanya lebih peka dalam membaca emosi (Cmiiw ya), tapi bukan berarti laki-laki tidak bisa baca emosi juga. Bedanya lelaki cenderung fokus pada satu hal seperti satu objek perhatian dalam satu pandangan, ntah ini karena evolusi zaman berburu yang berkembang pada struktur biologis otak atau hanya labelling semata, saya ingin menyampaikan pandangan saya pada minggu pertama mengajar.

yap, pandangan saya, bukan pandangan pertama. Hehe.

Tapi saya anggap pandangan ini seperti pandangan pertama, karena ini minggu pertama saya di tahun ajaran baru memandang siswa baru. Ya mereka kelas X, semoga Kesan pertama ini berjalan baik, saat perkenalan saya dengan mereka.

Awal Perkenalan

Basa-basi diawal mengajar sebagai bentuk perkenalan, hmm.. bagi saya absen saja sudah cukup. Poin-poin penting saya sampaikan sambil berusaha dorong mereka biar semangat belajar. Ntar juga saya kenal mereka dengan karakter dan dunia nya meskipun tidak semua.

Selama 6 tahun mengajar, alhamdulillah saya mendapat jam yang lebih sedikit tahun ini jumlah nya 24 jam mengajar, artinya saya mengajar 3 jam untuk 8 kelas, yap kelas itu adalah kelas X semua. Baru kali ini saya merasakan ngajar satu Angkatan/jenjang sehingga  bisa fokus mencari PDKT baru dlm mengajar biar gak bosen. ya kalo saya ngga bosen mudah-mudahan siswa juga gak ikut bosen, setidaknya ada perbedaan lah, ga cuman ngulang-ngulang.

Tarik nafas,..

Semoga saya tidak mengeluh, menghadapi 50 siswa dalam satu kelas. Meskipun kenyataan nya, ruang Gerak saya menjadi terbatas, biasanya saya suka keliling kelas, mencoba mengenali dunia mereka, kadang pas di kasih tugas ada yang gambar, ngobrol, live / rekam video, nulis, corat-coret, saya melihatnya cara siswa menyalurkan energi ntah sebagai ekspresi atau meredakan ketegangan - emosi saat di kelas.

Si Pembaca Buku

Tiba lah , perhatian saya pada seorang siswa yang duduk di depan, di salah satu kelas. Ketika saya memberi penjelasan, ada sorot mata yang antusias, bahkan saat ia mensupport teman-teman nya presentasi. Saya penasaran, membuka percakapan ntah di mulai dari topik apa, yang pasti ekspresi keceriaan tersebut  melambangkan optimisme, kepercayaan diri, semangat yang tidak datang dari reaksi spontan tapi terbentuk dari kekuatan pikiran dan ketenangan jiwa yang siap menyambut masa depan. Saya juga lupa namanya, tapi satu hal yang akan saya coba tanyakan, “ehh kamu suka baca buku ya, “

lalu saya melanjutkan pada percakapan lainnya,

“kamu pernah baca buku ini ya dan buku itu juga ya”,

Ehh jawabannya, “ ihhh ko bapak gaul sih “.

Saya terkekeh dan hanya bisa tersenyum dari jawaban anak yang tampak polos itu. Padahal membaca buku itu normal habbit yang harusnya orang lakukan.

Siswa tersebut mewakili siswa lainnya yang memiliki pandangan optimisme, harapan, semangat meraih impian,  sorot mata yang bersinar tampak seperti jiwa yang tercerahkan (lebay ga sih) , beberapa siswa lainnya juga hampir sama, ntah karena membaca, semangat hidup, atau karena support system dari keluarga, mereka mungkin tidak semuanya pintar dalam arti akademik tapi mereka datang dengan hati yang lapang karena disiapkan dari rumah, ya dalam bentuk perhatian orang tua.

Saya selalu ingin mengkonfirmasi kebenaran ini  dengan bertanya pada mereka yang menurut saya memiliki dasar pemahaman yang diperoleh dari membaca, bisa juga karena lingkungan keluarga nya memberi ruang tumbuh-kembang yang cukup, itu harusnya menjadi modal bagi anak-anak lain pada kebiasaan nya membaca, minmal ia memiliki sikap yang hidup, bukan pandangan yang redup, lesu, atau raut wajah yang penuh ketegangan.

Kadang di kelas, saya harus memerhatikan ekspresi, emosi mereka, sikap tubuh yang melambangkan keingintahuan atau penolakan emosi dari situasi yang ia hadapi di kelas. Seperti kehadiran fisik yang tidak disertai hadirnya jiwa dalam diri nya, tidak sedikit yang pikirannya tampak melayang kemana, seolah ingin membawa tubuh nya pergi maka muncul sikap tubuh yang menutup diri, seperti isyarat penolakan pada kondisi waktu dan tempat yang dialaminya.

Ada pandangan yang ekspresif, sikap tubuh yang terbuka, jiwa yang hadir karena itu muncul dari sinyal antusiasme untuk belajar namun tidak sedikit sikap tubuh yang menutup diri, kondisi mental yang terguncang, ekspresi yang teduh, dan pandangan yang kosong, seperti jendela rumah yang mengabarkan kondisi cuaca luar rumah yang lebih luas.

Bahasa tubuh atau isyarat non verbal kadang rumit jika harus ditafsirkan, ada juga jiwa yang tenang, tidak berekpresi berlebihan tapi ia hadir utuh, ada juga yang sedang menggambar saat saya menjelaskan bukan karena ia tidak memerhatikan tapi seperti itulah cara ia menerima kehadiran.

Posting Komentar untuk "Minggu Pertama, Perkenalan saya dengan mereka."

🟢 WA
Insight

harap tunggu sebentar :)

☀️ 0%
🔔 Artikel selesai dibaca