Selamat Datang
Selamat Datang - Ruang kita Bercerita *** Selamat Datang - Ruang kita Bercerita

Menulis itu Terapi Energi

Menulis itu bisa jadi reminder. Seolah-olah kita diingetin lagi sama diri sendiri di masa lalu bahwa kita pernah menetapkan goals untuk masa depan. Apalagi kalau kita nulis sesuatu yang idealis banget, jadi kayak bertanya lagi ke diri sendiri, “Eh, bener gak sih kita mau jadi kayak gini?”

Terlepas nanti kenyataan hidup bakal seperti apa, setidaknya tulisan bisa jadi cara buat refleksi diri.

Tuliskan saja mimpi-mimpi itu.

        Walaupun mimpi itu belum bisa jadi kenyataan, setidaknya kenyataan hidup gak bisa menghapus semangat kita pada masanya. Semangat itu masih bisa kita ubah ke dalam bentuk yang lain.


Sumber Gambar : Chatgpt

Walaupun berbeda dengan doa, setidaknya tulisan punya bahasa jiwa yang sama — tentang harapan, tekad, dan jiwa yang gak mau diam dengan inner power-nya.

Coba aja tulis mimpi-mimpi kita hari ini. Hal-hal yang ingin kita capai di kemudian hari.

Coba tulis apa yang kita harapkan dari masa depan. Karena saat kita membuka kembali tulisan lama, rasanya seperti diajak pulang ke jalur pikiran dan tekad yang dulu pernah kita fokuskan.

Hidup gak selamanya mudah. Gak semua yang kita rencanakan bisa terlaksana. Tapi setidaknya itu membuat kita tetap berusaha.

Menulis menjadi bagian penting sebagai cerminan dari inner diri kita. Dari tulisan, kita bisa merasakan mood, tensi, spirit, bahkan power yang pernah kita punya.

Dan menulis di sini bukan sekadar nyalin catatan pelajaran, ya. Lebih ke mengekspresikan gagasan dan perasaan ke dalam kalimat yang bisa membuka sekaligus menyalurkan image diri kita.

Makanya, menulis bisa jadi bagian dari energi.

Sebenarnya orang-orang juga melakukan hal yang sama lewat percakapan WA, status, atau story untuk mengekspresikan jiwanya. Bedanya, menulis membutuhkan pemikiran, bukan sekadar meluapkan emosi.

Menulis itu cara kita merefleksikan diri. Cara kita mengajak pikiran untuk menentukan, mau dibawa ke mana emosi ini pergi.

Karena emosi itu energy in motion.

Menulis bisa mengekspresikan ide, gagasan, dan aspirasi. Bahkan persoalan hidup pun, kalau kita coba tuliskan, biasanya perlahan akan muncul langkah-langkah penyelesaiannya.

Refleksi.

          Coba deh tulis mimpi-mimpi kita dulu. Apalagi kalau ditempel di dinding kamar atau di dekat pintu.

Itu bakal terus ngingetin kita, bahkan terekam di bawah sadar, bahwa kita masih punya alasan untuk berusaha, berjuang, dan gak mudah nyerah sama keadaan demi sesuatu yang kita impikan.

Tuliskan saja hal-hal yang baik. Tentang harapan, ide, atau target yang realistis.

Saya percaya, orang yang punya mimpi — apalagi sampai ditulis — biasanya jadi lebih aware sama hidupnya sendiri. Ia jadi lebih bisa merefleksikan dirinya.

Menulis itu energi.

        Energi untuk memberi perubahan, dorongan, dan perjuangan. Energi untuk memberikan pengetahuan, kritik, dan pandangan tentang kehidupan. Energi untuk fokus, kesadaran, dan penghayatan.

Apa yang membuat kita semangat, maka lakukanlah. Apa yang membuat kita terus bersedih, maka tinggalkanlah.

Menulis seperti energi yang mengafirmasi diri agar kita lebih yakin lewat penguatan kata-kata. Agar kita ingat bahwa sebenarnya kita manusia yang punya kendali atas kehidupan dalam cerita kita sendiri.

Mau nulis di selembar kertas atau di layar komputer, menulis — bagi saya — mampu mengatur tempo emosi, membuat pikiran berhenti sejenak, dan membentuk image diri.

Karena menulis bukan sekadar mengatur tanda baca, kalimat, atau diksi. Tulisan juga menularkan energi bagi siapa pun yang membacanya.

Gak sedikit orang yang jadi lebih aware dengan hidupnya setelah membaca tulisan-tulisan yang membangkitkan selera hidup mereka.

Termasuk selera hidup saya… untuk ngopi lagi.

Alias ngobrol inspirasi.

— ngopi ⛾

Posting Komentar untuk "Menulis itu Terapi Energi"

🟢 WA
Insight

harap tunggu sebentar :)

☀️ 0%
🔔 Artikel selesai dibaca