apa yang bisa kita lakukan jika hidup dalam waktu seribu tahun ?
rasanya kita akan melakukan banyak hal dengan banyak waktu tersebut, atau justru sebalik nya ?
bukankah dari banyaknya angan-angan serta penundaan atas sesuatu yang seharusnya bisa dilakukan karena kita merasa memiliki banyak waktu.
kita berdalih bahwa waktu yang panjang, luang, longgar bisa memberikan manfaat yang lebih banyak dibanding waktu yang sedikit.
....
setiap hari kita memiliki waktu yang sama panjang nya dengan orang-orang.
kita cenderung berharap mendapat waktu yang lebih baik, sehingga kita beranggapan bisa lebih siap dalam menjalani peran yang maksimal.
mengapa kita tidak pernah baik untuk rencana-rencana yang sempurna. jika kita selalu berharap sempurna, maka kita tidak tahan dengan kekurangan pada setiap permulaan, seolah permulaan bisa menggambarkan proses panjang tak terlihat pada hasil yang tidak sempurna.
jika kita punya waktu 10 menit saja, apa yang kita bisa lakukan dengan nya ?
apakah kita membaca buku dua halaman, sholat sunnah dua rakaat, scrolling media, bermain game, memikirkan sesuatu, atau menunggu semua nya berlalu?
tidak ada tugas yang tidak selesai jika kita bisa mengelola waktu nya. semua itu perlu usaha, disiplin, kesungguhan, dan ambisi pada target, tanpa harus menunggu datang nya motivasi.
kita berharap bahwa hari itu sempurna, sesuai dengan apa yang ada dibenak kita, namun hari itu tak pernah datang kecuali kita melakukan sesuatu pada hal-hal yang bermakna.
hari terbaik bagi saya adalah ketika saya mampu melakukan sesuatu yang seharusnya bisa saya kerjakan dan selesaikan.
sehingga cerita panjang atas pahitnya beban tugas yang belum selesai, bisa berakhir dengan mengerjakan nya.
hari esok beda cerita, karena itu waktu untuk berpesta atas hari-hari yang dilalui dengan perjuangan atas hal-hal yang bisa kita lakukan untuk masa depan.
Hasan Basri menyatakan,
manusia itu kumpulan hari-hari, bila satu hari itu pergi dari nya, maka pergilah sisa hidup nya.
Posting Komentar untuk "Mentalitas Sedikit Waktu"