jika ditanya, siapa yang ingin meraih keberhasilan dan bisa menjadi orang berhasil, maka jawabannya semua orang pasti menginginkan nya.
setiap orang punya hak untuk bercita-cita dan menjadi versi terbaik dalam hidup nya.
tapi...
apa jadinya jika seorang ingin bercita-cita menjadi dokter tapi memiliki gaya hidup yang tidak sehat ?
apa jadinya jika seorang ingin menjadi penulis terkenal tapi tidak suka membaca ?
apa jadinya jika seseorang menginginkan suatu profesi yang bisa dijalaninya tapi tidak menjiwai profesi tersebut ?
.......
Success is Character not Result
seringkali, banyak yang ingin kaya namun tidak memiliki keterampilan yang membawanya menuju kekayaan finansial, seperti manajemen diri, uang, ataupun jaringan relasi. seorang siswa ingin masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit namun ia tidak memiliki semangat belajar tinggi, sehingga kemampuan akademiknya masih dibawah rata-rata.
Jalan menuju keberhasilan memerlukan proses dan waktu yang lama serta tidak mudah. perlu banyak jam latihan dan disipilin diri ketat agar bisa lebih fokus pada tujuan. faktor lain seperti ambisi, passion, dan daya juang tinggi (Grit) diperlukan untuk meraih keberhasilan.
kenyataan, tidak semua orang berhasil mendapatkan cita-cita atau tujuannya, bukan berarti gagal hanya karena usahanya belum mendapatkan hasil yang bisa dilihat orang lain.
Succes is start to be, not to have
Sukses bukan sekedar "to have" atau "mempunyai" tapi lebih ke "to be" atau "menjadi sesuatu".
Coba, kita lihat kembali pertanyaan sebelumnya.
Seseorang bercita-cita menjadi dokter, namun selama proses menuju cita-cita nya, ia memiliki gaya hidup tidak sehat, makan sembarangan, acuh kebersihan diri, dan tidak suka membaca literatur dunia medis. begitupun seorang yang bercita-cita jadi penulis, dia tidak suka membaca, atau hanya sekedar menonton tips dan trik menulis dari youtube, namun tidak mempraktikan membuat suatu tulisan yang baik. seperti halnya, seseorang yang mengharapakan bisa hidup dengan profesi tertentu namun langkah nya seolah bertentangan dengan tujuannya.
Karakter seorang dokter ataupun penulis harus terbentuk dalam diri, sehingga karakter tersebut membentuk ritme gaya hidup yang sesuai dengan cita-cita/profesi yang dituju. Jika karakter sudah terbentuk, kita menjalani hidup seolah-olah seperti gaya hidup seorang dokter, penulis, atau profesi tertentu.
Pada dasarnya, kita bisa menjalani peran sederhana sebagai dokter, penulis, guru, ataupun pemimpin yang baik tanpa harus langsung memiliki gelar/sertifikasi mengenai suatu pekerjaan tertentu. kita hanya perlu "melayakan diri" sesuai peran yang diinginkan, sehingga diri mampu menampilkan kualitas dari pekerjaan terentu.
Hidup sebagai seorang dokter artinya kita memiliki gaya hidup yang sehat walaupun kita tidak mendapat bayaran dari sekedar menjalani peran. Setidaknya kesehatan yang terjaga mengurangi pengeluaran biaya hidup tidak diinginkan.
kita hanya perlu "berpura-pura" seolah kita menjalani beragam peran sesuai dengan skill/keterampilan hidup yang bisa kita pelajari. apalagi profesi itu sudah kita dapatkan maka sudah selayaknya kita memantaskan agar muncul kualitas terbaik dari profesi yang dijalani.
The Power of Pretending is the art of living
The power of pretending merupakan seni menjalani peran kehidupan sesuai karakter yang ingin kita kuasai.
Menjadi kaya bukan sekedar menunggu banyak harta tetapi bermental kaya. Menjadi penulis pun tidak harus menunggu banyak buku yang dipublikasi tapi dari membuat catatan-catatan yang berarti dan menginspirasi.
Sesuai prinsip nya, kekuatan kepura-puraan memberikan kita mental untuk menjiwai dan melakoni peran sesuai profesi yang ingin dijalani.
Just be an actress
Lihatlah dalam suatu film bagaimana seorang aktor menjalani hidup seorang seorang karakter tertentu, seolah kita bisa menangkan kesan, aura, ataupun pesan dari karakter yang dilakoni.
Kita pun bisa melakukan hal yang sama, bukan sekedar berpura-pura, tetapi menjiwai peran kehidupan yang ingin dijalani.
Hal ini dilakukan supaya kita termotivasi membangun kebiasaan, bukan pencitraan. seorang atlet yang rutin berlatih walaupun belum banyak medali, sudah cukup membari kesan baik bagi orang lain. seseorang yang tiba-tiba juara atau menjadi pemimpin suatu negara tanpa melalui proses kepemimpinan sebelumnya, maka akan membuat orang lain terheran. bukan karena kagum, tapi karena belum melewati uji kelayakan.
Kita hanya fokus lalu ingin cepat sampai pada tujuan yang dimiliki, kita hanya perlu memantaskan diri, membentuk ruang mental, kapasitas yang sesuai, agar dianggap layak.
Maka, apapun kita menyebut itu pekerjaan, profesi, cita-cita, ataupun status sosial maka kita hanya perlu memantaskan diri. kita bisa menjalani kehidupan dengan kualitas diri, selebihnya biarkan orang-orang mengapresiasi.
Supaya kita pantas, layak, untuk diapresiasi.
Posting Komentar untuk "The Power of Pretending"