adaptaasi terhadap perkembangan zaman bukanlah dengan selalu mengikuti trend tetapi menyesuaikan dengan identitas yang dimiliki.
mengikuti apa yang populer, trend, viral, dan hype sebagai penyesuaian gaya hidup baru tetaplah baik, selama itu tidak menjadikan kita FOMO (fear out Missing out) dan latah dalam tindakan.
kita hanya perlu menerima sesuatu dari luar selama itu tidak merusak nilai diri, jika budaya itu baik maka kita terima dan aktualisasikan sesuai prinsip yang dimiliki.
Mengikuti Trend agar terlihat Keren
jika keren hanya mengikuti trend maka itu akan pudar seiring munculnya trend baru. setiap orang ada masa nya, dan setiap masa ada orang nya. trendsetter ataupun pelopor baru dalam suatu trend, viral, dan hype tidak selalu berlaku untuk waktu yang lama. hal tersebut justru muncul dalam dunia hiburan digital dan penyuasaian manusia dalam mencari gaya hidup yang memberi kepuasan.
semua trend bisa memberi impact positif bahkan negatif. Trend foto selfi dengan buku yang mulai digandrugi anak-anak muda menjadi impact positf dan justru harus menjadi pop culture sebagai gaya hidup yang dianggap keren. olahraga pagi setiap akhir pekan, seperti tracking, jogging, ataupun maraton baik dengan motivasi tubuh sehat, merekam langkah dengan aplikasi strava, atau sekedar berfoto juga sesuatu yang positif karena kesadaran untuk olahraga menjadi hiburan kecil dari rutinitas pekerjaan.
Memiliki handphone flagship dengan merek ternama juga tidak masalah jika tujuannya untuk konten, pengalaman, dan keandalan produktivitas. keliru jika membeli gadget hanya untuk gengsi bukan fungsi. memiliki gadget hanya karena orang-orang memiliki hal yang sama, karena status sosial, ataupun sekedar validasi, hak setiap orang untuk bahagia menurut versi nya asalkan merugikan diri baik secara mental ataupun finansial.
Identity is Compass
apa yang terjadi jika suatu bangsa tidak memiliki pandangan hidup atau sebuah identitas yang kuat. identitas suatu bangsa menciptakan narasi sejarah yang menjadi panduan dalam melangkah.
sejak lama bangsa tiongkok memandang bangsa nya sebagai pusat dunia, bangsa amerika serikat dengan kebebasan individu nya mereka datang sebagai petualang ke dunia baru, bangsa spanyol dan portugal dengan budaya maritim nya, bangsa jepang dengan identitas cahaya asia, dan bangsa nordik dengan identitas viking yang tangguh.
bangsa tersebut melangkah maju dengan perkembangan zaman, inovasi, pengetahuan, sastra, dan budaya lama yang mengalami adaptasi kemajuan. mereka melangkah berdasar identitas masa lalu sebagai kompas pandangan hidup hari ini.
Latah Kebijakan tanpa pondasi pendidikan
saya menulis ini, karena terinspirasi dari pernyataan bagus muljadi mengenai pentingnya membangun karakter sebelum mengodopsi nilai atau budaya baru. beliau memberi contoh negara Inggris dengan kemajuan nya tetap memiliki 3 pondasi pendidikan yang disebut trivium, meliputi : Grammar, Logic, dan Retorik. Penguasaan teknologi tanpa memiliki pondasi yang kokoh hanya akan melahirkan gagap inovasi. istilah "Liberal arts " juga disampaikan mengenai bahwa pendidikan masyarakat inggris menekankan pada nilai kebebasan berpikir, bahwa tujuan dari pendidikan adalah menjadi manusia yang bebas.
Indonesia dengan masyarakat yang majemuk, dengan nilai-nilai yang beragam dari suatu daerah, telah disatukan melalui satu identitas perjuangan (tumpah darah), bangsa, dan bahasa. sayangnya, sebagai suatu bangsa yang besar dengan individu nya, bisa kah kita memiliki identitas yang melekat, pandangan hidup sebagai seorang bangsa yang lahir dari perjuangan melawan penjajahan.
bangsa pelaut (maritim) yang dulu pernah berlayar ke bagian dunia lain, tangguh, memiliki nilai kerja sama (gotong royong) bisa memberikan pengaruh pada pola pikir anak-anak muda Indonesia ? ataupun lebih terinspirasi dengan semangat kemajuan dari negara lain yang lahir dari identitas sejarah lama mereka.
Keren tidak selalu mengikuti pada yang trend, hanya karena suatu itu booming bukan berarti kita fokus mempelajari suatu hal yang sebagai puncak karir dari pemikiran banyak bangsa. kita memang perlu menggunakan AI, internet, dan adopsi teknologi bangsa lain.
kebijakan pendidikan, Industri, dan Pasar perlu mengkreasi ulang identitas bangsa Indonesai. anak-anak kecil dengan dunia nya tidak selalu diberi produk teknologi, seperti umumnya anak-anak perlu diceritakan kembali ketangguhan indonesia sebagai bangsa pelaut, bangsa petualang, dan bangsa yang tidak tunduk pada penjajah.
jika kita tetap memahami nilai suatu pelajaran seperti matematika dan fisika misal nya, kita bisa menciptakan beragam teknologi, bukan sekedar latah mempelajari satu teknologi. saat bangsa lain berinovasi di dapur mereka, kita sibuk meniru resep makanan yang sudah disajikan hanya karena hal tersebut tampak menggugah selera.
Posting Komentar untuk "what's your identity"