Literasi bukan soal membaca, melainkan juga memahami sesuatu dari apa yang sudah kita pelajari. pelajaran kehidupan seringkali tidak diajarkan secara langsung di sekolah, karena ilmu kehidupan bisa didapatkan dimana saja, seperti pengetahuan soal keuangan.
Jika kita pernah belajar ekonomi, ada istilah-istilah seperti : kebutuhan, debit dan kredit, kemakmuran, dan biaya peluang. sebenarnya masih banyak lagi sih, cuman penulis udah lupa.
setidaknya, itu tidak memberi alasan bahwa pelajaran sekolah tidak relevan dengan kehidupan, hanya kita yang tidak menggunakan pikiran yang siap untuk menghubungkan suatu kenyataan dengan apa yang pernah diajarkan. trust me, teori dan pemahaman tentang pelajaran sekolah itu penting, jika kita tahu tujuan dan maksud dari pelajaran itu untuk apa.
......
kembali pada soal literasi keungan.
kalo soal menghitung duit setiap orang dewasa bahkan anak kecil pun pasti bisa, kecuali disuruh menghitung rumus. apalagi orang dewasa yang sudah terbiasa menghitung pengeluaran hehe.
nah, berbicara soal pengeluaran, hal itu berkaitan dengan kebutuhan konsumsi dan gaya hidup seseorang. pengeluaran seseorang pasti nya berbeda, kalo dalam ekonomi diistilahkan sebagai bentuk "pengorbanan" yang dilakukan seseorang untuk mencapai "kemakmuran". benar gak? coba tanya guru ekonomi nya yah.
selanjutnya, berkaitan dengan konsumsi dan gaya hidup berhubungan dengan biaya peluang. mengapa ? karena manusia selalu punya pilihan untuk mendapatkan sesuatu dengan mengorbankan kesempatan yang lain, berdasarkan standar rasional individu, keluarga, ataupun perusahaan.
tapi saya mau ngobrol soal konteks individu dan keluarga ya, karena kebetulan inspirasi tulisan ini berasal dari obrolan yang cukup menghidupkan ide saya tentang penting nya literasi keuangan, agar terhindar dari hutang yang tidak berujung, gaya hidup konsumtif yang tidak sehat, dan membeli sesuatu karena gengsi bukan fungsi. inti nya, gimana pendapatan seseroang setidaknya bisa mencukupi kebutuhan hidup nya seoptimal mungkin tanpa harus banyak berhutang yang tidak perlu sehingga menjadi beban mental masa depan.
warning : tulisan ini sebagai refleksi mandiri penulis, bukan untuk menghukumi bahwa berhutang itu salah. karena pada dasarnya bukan hanya soal pengeluaran, tapi pendapatan juga berbeda-beda.
.......
Pendapatan dan Pengeluaran.
Salah satu istilah ekonomi lainnya adalah Inflasi.
Inflasi bisa diartikan menurun nya nilai mata uang terhadap suatu barang dan jasa dalam waktu tertentu. setiap tahun akan selalu ada inflasi yang menunjukan bahwa nilai mata uang semakin turun. karenanya jika pendapatan seseorang tetap selama 5 tahun atau lebih, maka pendapatan yang bisa digunakan untuk membeli semua kebutuhan pada tahun pertama atau kedua, belum tentu pendapatan tersebut bisa digunakan untuk membeli semua kebutuhan pada tahun-tahun sebelum nya.
kalo pakai bahasa anak sekolah, uang 10 ribu dulu bisa digunakan untuk membeli 5 telor, karena adanya inflasi hanya bisa digunakan membeli 4 telor.
Pendapatan yang stagnan, jika pun ada kenaikan itu pun menunggu promosi, kenaikan pangkat, atau reward dari perusahaan atau lembaga. konsekuensi nya menurunya daya beli disebabkan harga yang meningkat atau tetap membeli dengan cara berhutang. hutang bisa diartikan menyicil atau kredit.
nah, concern pembahasan saya denga beberapa rekan guru menyoroti beberapa hal, seperti : kredit rumah, hutang online, dan tidak adanya budgeting.
Rumah itu kebutuhan primer dan mendasar, sebagai bagian dari tiga kebutuhan utama manusia yaitu sandang, pangan, dan papan.
Harga tanah yang semakin naik termasuk biaya pembangunan rumah yang juga meningkat, menjadikan opsi memiliki rumah secara langsung sebagai pilihan pas karena bagi pasangan muda yang baru menikah itu sebagai ruang mandiri dalam rumah tangga. pilihan lainnya bisa ngontrak ataupun tinggal bersama orang tua/mertua, tentu ada konsekuensi nya masing-masing.
Rumah bersubsidi dianggap opsi yang tepat, meskipun harus bijak dalam memilih cara pembayaran/bank penyalur KPR dengan bunga yang harus bisa diukur. Bunga kecil dengan tenor yang lama disertai biaya pokok harus jadi perhitungan jangan sampai menjadi beban mental dalam jangka panjang, kecuali mindset nya sebagai aset / investasi. Tipsnya pastikan rumah yang akan dibeli memiliki akses yang baik, jalan, air tanah, RTH, bebas polusi, dan perbaikan prasarana dari pengembang. ini buat ingetin penulis sendiri ya, karena belum punya rumah pribadi soal nya. hehe.
Selain rumah, kebutuhan seperti kendaraan dan pakaian kadang menjadi sesuatu yang sangat menarik, apalagi dengan hadirnya toko online, yang tadinya gak ada kepikiran buat beli, karena lihat model barang yang cantik, elegan, ideal, ditambah promo, diskon, dan kemudahan kredit bisa menjadi jebakan psikologis jika tidak dipikirkan dengan matang. selama itu bukan hal yang benar-benar urgent dan dibutuhkan bisa ditunda, karena selain kebutuhan ada namanya "keinginan". delusi keinginan yang harus dihindari atau ditunda, kalo saya pernah baca - tundalah selama 7 hari, jika memang pikiran tidak berubah ya coba saja beli dengan pertimbangan tidak adanya celah kebutuhan mendasar lain yang belum terpenuhi.
Inflasi dan Investasi.
Pembahasan kami menyinggung soal asuransi, hal ini cukup menjadi perdebatan bagi setiap orang dengan keyakinan dan prinsip masing-masing. asuransi dipandang sebagai pengaman jangka panjang seperti biaya pendidikan dan kecelakaan. Secara konsep asuransi memiliki tujuan keamanan dalam menghadapi resiko tak terduga di masa depan. Namun prakteknya tetap ada unsur ketidakpastian pada individu untuk mengklaim jaminan dan kesulitan dalam pencairan. Sebagai contoh klaim asuransi kesehatan selama peserta asuransi tidak sakit sekalipun sudah membayar lama, uang itu tidak bisa diklaim sebagaimana hal nya tabungan.
sebenarnya alhamdulillah kalo sehat badan apalagi sehat kantong, masyaAllah masa depan penuh keajaiban kaya nya xixi.
Karenanya, Investasi tanah, emas, properti ataupun aset bergerak bisa dianggap lebih realistis dan terukur. hal-hal tersebut sepenuh nya berada dalam klaim kepemilikan individu secara mandiri, tanpa harus terbentur syarat dan ketentuan yang ribet. maaf ya kalau bahasanya gak baku.
Budgeting.
Satu hal yang perlu dibiasakan ialah mencatat pengeluaran harian, mingguan, atau bulanan. sehingga kita bisa mengevaluasi untuk apa saja pengeluaran tersebut, apakah benar-benar untuk target jangka panjang atau kesenangan sesaat. Gak harus detail banget kaya laporan audit keuangan ko😊
Benjamin Franklin bahkan menganalogikan, bahwa pengeluaran yang dianggap kecil secara terus menerus tanpa disadari layaknya kebocoran kecil pada kapal besar, dapat menyebabkan tenggelam secara perlahan.
Tujuan budgeting itu agar kita sadar kemana uang itu dikeluarkan dan mengantisipasi biaya tak terduga di masa depan.
Karena poin yang menarik dari obrolan tadi, pemahaman kita dalam menggambarkan masa depan dengan versi saat ini seringkali fokus hanya pada opportunity cost (biaya peluang) saja tanpa disertai biaya resiko nya.
Resiko bisa muncul kapan saja, seperti keberadaan angsa hitam yang tidak kita pikirkan sebelumnya, hanya karena terbiasa melihat angsa putih setiap hari nya.
Kita melihat hidup seperti memandang lurus bahwa kejadian hari ini akan berlaku seterusnya, seperti kondisi badan yang tiba-tiba jatuh sakit, kendaraan yang bisa rusak, dan biaya sosial lain yang tak terduga seperti harus datang ke acara undangan atau sekedar patungan, duhh ilahh. jika punya jaring pengaman atau tabungan untuk hal-hal tak terduga, setidaknya kita lebih siap menerima bagian pahit dari kenyataan 😇
Literasi keuangan belum disadari oleh semua orang, termasuk penulis sendiri. karena prakteknya bukan soal memahami angka-angka pengeluaran dan pendapatan, tetapi cara kita mengelola emosi agar tidak asal beli, agar tidak asal dalam pengeluaran, agar sesuatu bisa terukur dan terencana dengan baik. direncanakan saja kadang gagal, apalagi asal-asalan.
Betapa bahagianya jika kebutuhan hidup terjamin sehingga hari-hari yang dilalui penuh ketenangan, betapa indahnya bila punya kekayaan lalu digunakan untuk meringankan beban orang lain, dan betapa beruntungnya bila hidup tanpa harus banyak hutang. semoga yang banyak hutang segera dilunasi asal ada niat bukan cuman janji, hehe. loh ko malah curhat.
Betapa baiknya pendapatan tersebut digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat dan tidak boros.
"tidak akan bergeser kaki seseorang pada hari kiamat yang sampai ditanyakan untuk apa masa muda yang ia gunakan sampai ia bisa menjawab kemana saja hartanya ia belanjakan"
duh malah jadi agamis gini sih, ya tidak apa-apa. pendekatan nya bisa banyak, ekonomi, psikologi, juga agama, apalagi kalo kita coba deketin Allah swt biar dijadikan kaya, kaya rezeki dan kaya hati. ehmm.
saya juga berpikir, tenang juga ya jika hari-hari dalam pekerjaan tanpa perlu memikirkan cicilan. tapi mungkin suatu saat nanti saya juga tidak akan lepas dari cicilan, semoga sesuai dengan kemampuan pendapatan saya dalam membayarnya. namanya hidup tidak terlepas dari pertolongan orang lain ,baik dalam bentuk pinjaman, jual beli barang, ataupun saling memberi bantuan dan bersedekah.
ini hanya sebagai pengingat untuk saya sendiri, agar benar-benar bersyukur dengan kondisi yang dicukupi. bersyukur atas karunia Allah swt, bukan sekedar bilang "Alhamdulillah " pas gajian saja.
masih ingatkan kata-kata ini,
"Rezeki Allah swt itu cukup untuk memenuhi kebutuhan mu, namun tidak akan pernah cukup untuk gaya hidup mu"
bagaimana menurut mu ?
kutipan yang populer
Posting Komentar untuk "Literasi keuangan untuk biaya masa depan"