Meskipun kita mendengar bahwa hidup di dunia itu permainan, tetapi bukan berarti bahwa hidup seperti memainkan satu pertandingan lalu selesai begitu saja.
Hidup itu dijalani dengan sebaik-baik yang bisa dilakukan, niat dan tindakan yang baik, sejalan dengan jiwa, prinsip, nilai, sehingga tercapaik kondisi kebahagiaan yang abadi. Aristoteles dalam Nicomachean Ethics mengganggap eudoimania sebagai tujuan akhir hidup manusia yang paling mulia, dicapai melalui hidup bijaksana dan kebajikan (Virtue). Makna kesejahteraan tidak hanya mencakup materi, tetapi juga kondisi batin yang tenang, bahkan sikap yang selaras dengan aturan tuhan.
Kebaikan itu selaras dengan jiwa
Salah satu sikap yang selaras adalah kebaikan. Pada dasarnya manusia menyukai hal-hal yang baik sekalipun datang dari manusia yang berperilaku buruk. Kebaikan itu fitrah, sebagai setelan pabrik - sesuatu yang lebih ada dalam diri manusia ketika lahir ke dunia. Adapun hal-hal yang sifatnya buruk awalnya bersifat temporer, pengaruh lingkungan, dan kerusakan mental. Seburuk apapun manusia tetap menginginkan kebaikan itu hadir bahkan bisa dilakukan secara konsisten. Kebaikan sering hadir bersama ketenangan karena itu fitrah jiwa, realisasi dari gerak hati kepada anggota tubuh sebagai manifestasi visi manusia untuk memberi yang manfaat dalam kehidupannya.
Manusia dihadapkan pada berbagai pilihan antara kebaikan dan keburukan. Kebaikan berbeda dan tidak bisa disamakan dengan motif baik dibalik tindakan yang buruk. Seorang ayah mungkin memiliki motif baik untuk menyelamatkan anaknya dari kelaparan tetapi ia melakukannya dengan mencuri. Seorang ibu memiliki motif baik untuk menenangkan balitanya tetapi ia melakukannya dengan memberikan gawai. Seorang politisi memberikan sumbangan untuk membantu orang miskin namun ia mengharapkan peroleh suara saat pemilihan. Kebijakan sebuah negara yang memiliki motif baik untuk memberikan gizi namun kurang efektif dan terkesan dipaksakan, sehingga ada prioritas lain dikorbakan.
Makna kebaikan - selaras dengan hal-hal yang bisa diterima oleh manusia secara umum. Ada nilai dan manfaat yang bisa didapat oleh pelaku dan penerima. Meskipun kebaikan tidak selalu langsung diterima, dihargai, bahkan di tolak. Sebuah kebijakan yang baik tentu perlu waktu untuk diterima, seperti menanamkan kebiasaan positif, disiplin, dan mematuhi aturan. Semua itu perlu dibiasakan dan disadari manfaatnya. Belajar itu pada dasarnya baik, namun manfaatnya tidak bisa dirasakan langsung, hanya perlu kesungguhan dan konsistensi untuk merasakan hasilnya.
Permainan terbatas (Finite Games)
Jika dalam suatu pertandingan, seseorang bisa bermain curang untuk mendapatkan skor (kemenangan) maka ia mendapatkan kemenangan meskipun tidak baik secara moral. Keburukan seperti kecurangan, penipuan, dan kebohongan sering terjadi pada arena permainan. Seseorang bisa dirugikan oleh wasit, sikap tidak sportif, dan tindakan provokatif dari kubu lawan, namun hanya terbatas pada permainan itu saja. Seseorang merasa dirugikan bahkan bisa menahan karir prestasi karena permainan yang tidak bisa dimenangkan, namun bukan dalam karir kehidupan secara keseluruhan.
Seseorang bisa menipu lalu mendapat uang/keuntungan lain dari hal tersebut, namun sebenarnya sedang merugikan dirinya karena ketenangan dan kehormatannya telah ia hancurkan. Seseorang bisa menjual suatu barang dengan keuntungan yang banyak namun jika tidak jujur keuntungan hanya bersifat sementara, karena banyak pembeli yang mulai tidak percaya. Seseorang bisa tidak jujur dalam arena ujian, namun sekalipun hasil yang diraih cukup tinggi, ia tidak bisa membawa kualitas dirinya pada ujian-ujian selanjutnya.
karena nya, seperti permainan dalam arena pertandingan yang bisa selesai dan berakhir, seseorang bisa curang, menipu, berbohong, dan melakukan tindakan buruk namun itu menguntungkannya dalam jangka pendek dan merugikannya secara jangka panjang.
Permainan tak Terbatas (Infinite Games)
Sebagaimana diawal telah disebutkan, sekalipun hidup ini permainan, namun bukan permainan seperti arena dalam pertandingan, ia tidak terbatas, dan memiliki konsekuensi jangka panjang. Melakukan hal baik (kebaikan) maka akan mendapatkan balasannya begitupun untuk hal buruk (keburukan) ada balasannya.
Andaikan hidup ini terbatas waktu dan tempat nya seperti pertandingan pada sebuah arena yang berakhir dalam sekejap saja, maka orang baik tentu akan selalu dirugikan oleh orang-orang yang hanya mementingkan dirinya demi kepuasan ego semata. Namun kenyataannya, pelaku keburukan seperti kriminal, koruptor, dan pembohong selalu mendapat konsekuensi dari apa yang dilakukan. ntah itu perasaan tidak tenang, hancurnya harga diri, dan hilang nya kepercayaan.
Kehidupan ini permainan tak terbatas, ada resiko jangka pendek dan panjang, baik yang dirasakan oleh individu ataupun kelompok. Jika kita dicurangi, ditipu, ataupun dikhianati maka tidak perlu berkecil hati, hal itu tidak menghancurkan kita secara keseluruhan, itu bagian ujian agar kita bisa mengambil pelajaran, dan berhati-hati dalam memberikan kebaikan. karena kebaikan sekalipun itu baik dalam pandangan sendiri, bila tidak hati-hati maka bisa dimanfaatkan. Perlu bersikap hati-hati, bertindak cerdas, dalam melakukan kebaikan, sehingga kebaikan pun perlu diukur sesuai nilai, prinsip, dan tujuan yang sesuai.
Maka, melakukan kebaikan itu sebenarnya menguntungkan. jika pun belum terlihat hasilnya, setidaknya kebaikan itu menggerakan pelaku nya agar jauh dari keburukan. Seperti kata pepatah, siapa yang tidak disibukan oleh kebaikan maka akan disibukan pada keburukan. lalu, jika selama ini kita berbuat baik lalu orang tetap berbuat buruk pada kita, bagaimana menurut mu?
maka kita perlu renungi, kutipan dari buku Laa Tahzan :
Kebajikan itu sebajik nama nya, keramahan seramah wujud nya, dan kebaikan sebaik rasa nya. orang yang pertama kali merasakanya, adalah yang melakukan nya.
Posting Komentar untuk "Kebaikan itu menguntungkan"