Selamat Datang
Selamat Datang - Ruang kita Bercerita *** Selamat Datang - Ruang kita Bercerita

Sekolah, yang Penting Apa?

Sunardi Isur · Pengajar☕
·
Ketika siswa sekedar hadir dan tidak berpikir di Sekolah

Saya menyaksikan sendiri beberapa siswa SMA di tes guru PPKN dalam pengambilan nilai mengenai sistem pemerintah suatu negara beserta contoh-contohnya. Awalnya saya melihat ketidaktahuan anak sebagai suatu proses belajar yang menjadi tanggung jawab kita sebagai guru. Kesalahan dan ketidaktahuan bukanlah hal memalukan, justru itu semangat yang mendorong agar terus belajar dan menyempurnakan pemahaman materi pelajaran secara utuh.

Ada sebagian anak menjalani tes tentang sistem pemerintahan yang bisa menjawab lancar dan baik. Ada juga yang separuh hafal dan selebihnya masih belum paham. Konteks pada hal tersebut, saat  guru PPKN memberi clue (petunjuk) mengenai posisi benua suatu negara.  Misalkan,  "negara dengan sistem monarki di Asia Tenggara ", ada yang bilang "Kairo" "Arab Saudi" dan lain sebagai nya. Hal yang membuat saya heran lagi, waktu setengah jam yang dihabiskan untuk tes tersebut mereka tak kunjung selesai karena ketidaktahuan mereka, mengenai negara dan posisi nya di muka bumi. Hasilnya - saya sebagai guru geografi yang pernah mengajar mereka di kelas X, merasa bersalah atau setidaknya ada tanggung jawab akademik atas pengetahuan mereka. Masalah sebenarnya ketika siswa hanya menginginkan nilai tinggi tapi tidak diimbangi dengan standar pengetahuan minimum yang perlu siswa miliki.

Standar Pengetahuan siswa SMA

Tulisan ini sebagai bentuk kegelisahan saya dan kritik atas statement "Sekolah yang penting anak benar". 

Saya kurang setuju dengan hal tersebut karena tanpa pengetahuan yang memadai mengenai benar dan salah, maka siswa tidak memiliki pemahaman yang baik tentang benar dan salah. Ada proses informasi mengenai nilai, pengetahuan, hingga budaya yang dipahami siswa tentang aturan, moral, dan nilai diri sebagai individiu. Pengetahuan tidak hanya mencakup aspek materi saja, melainkan aturan agama, etika, sosial, dan hal yang berlaku pada kehidupan.

Pembelajaran pada tingkat SMA tentu lebih kompleks dan lebih spesifik daripada tingkat menengah pertama. Begitu pun dengan jenjang SMP bila dibandingkan dengan SD. Seorang siswa yang tidak memiliki pengetahuan dasar waktu SD tentu akan mengalami kesulitan belajar pada materi lanjutan baik SMP ataupun SMA. Hal ini, menjadi beban moral bagi guru tingkat SMA untuk memberi penjelasan pengetahuan tingkat selanjutnya sementara siswa tersebut belum memahami pengetahuan pada tingkat dasar.Seperti rumah yang siap diberikan kelengkapan bangunan namun pondasi rumah nya saja tidak kokoh. 

Guru SMA tidak sedang membangun pondasi pengetahuan, ia tidak memulai dari dasar, ia menyempurnakan bangunan pengetahuan siswa sehingga mengisi ruang bangunan tersebut dengan stimulasi contoh-contoh realita kehidupan melalui analisis ilmu pengetahuan. Seorang guru MTK tidak bisa menjelaskan contoh pemecahan masalah al-jabar jika siswa tidak memiliki pemahaman mengenai perkalian dan pembagian. Jika pun ada yang kurang dari pengetahuan siswa, guru SMA tersebut akan ikut membantu mengisi kekurangan/retakan pada pondasi pengetahuan siswa. Guru menyempurnakan pengetahuan siswa bukan berarti status guru tersebut lebih tinggi pengetahuannya dari guru jenjang sebelumnya, hanya ikut melanjutkan dalam membantu siswa belajar sesuai dengan fase belajar.

Usia SMA identik dengan usia remaja, maka ia harus lebih siap secara mental dalam menerima materi pembelajaran yang lebih kompleks. Jika menggunakan taksonomi bloom, siswa tidak harus menghafal lagi. Menghafal itu membantu tapi bukan garis awal. Seorang siswa tidak lagi disibukan menghafal hasil perkalian dan pembagian, menghafal nama negara dan ibu kota nya, menghapal dasar negara, dan sebagai nya. Karena pengetahuan dasar tersebut seharusnya sudah terlatih sejak sekolah dasar.

Tingkatan berpikir siswa SMA disesuaikan pada tingkatan belajar yang lebih serius, sebagai pondasi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Setelah jenjang SMA, siswa tidak lagi dituntun untuk belajar, mereka belajar mandiri. Jika pola pikir belajar mandiri tidak terbentuk dari awal menengah, maka akan merasa berat untuk menerima materi dan tugas yang lebih kompleks saat di Perguruan Tinggi.

Pengetahuan anak harus dibangun semenjak awal dari dini hingga remaja (memasuki fase SMA). Semuanya tanggung jawab bersama, bahkan termasuk tanggung jawab orang tua. Pengetahuan anak sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, ekonomi keluarga, pola pengasuhan, asupan gizi, lingkungan pergaulan, dan motivasi individu. Anak SMA bukan anak kecil yang baru meraba dunia, ia sudah terbiasa dengan dunia sekitarnya, meskipun rasa ingin tahu nya tidak setinggi saat masa kecil. 

Siswa SMA hadir di dunia dengan aksi sebagaimana seorang remaja yang melihat dunia dengan pandangan yang lebih luas, tidak meraba-raba seperti seorang yang baru lahir ke dunia nyata. Dia menyesuaikan kapasitas dirinya mempelajari pengetahuan pada jenjang nya. Catatan ini bukan untuk menghukumi ketidakmampuan siswa tapi untuk mengingatkan kembali kemauan siswa dalam belajar, kecuali pada anak-anak dengan kondisi terbatas, seperti kebutuhan khusus.

Kebijakan Asal anak Sekolah

Apa yang dikejar pemerintah sebagai prestasi dalam menaikan angka PISA? salah satunya ialah menaikan tingginya angka partisipasi sekolah. Hal ini harus didukung sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mensejahterakan kehidupan rakyat. Faktanya, keinginan pemerintah meningkatkan angka lulusan sekolah sebanyak-banyaknya, tidak diimbangi kualitas dari kemampuan yang harus dipenuhi oleh sekolah/satuan pendidikan. 

Pemerintah ingin anak-anak Indonesia cerdas, pintar, dan hidup layak melalui pendidikan. Kenyataan, dalam satu kelas guru SD bisa mengajar lebih dari 50 siswa begitupun yang terjadi di SMA-SMA Negeri Jawa Barat. apakah guru tersebut mampu fokus membimbing siswa sesuai dengan potensi dan karakternya dalam satu ruang kelas? hal itu terlalu utopis apalagi guru dianggap manusia paripurna yang bisa segalanya untuk ikut memperbaiki karakter siswa. 

Pendapat saya pribadi, tentu sangat senang melihat 50 siswa yang saya ajar memiliki semangat yang tinggi untuk belajr. Namun, tidak selalu menjadi pembenaran atas beban mental mengajar yang terlalu banyak dalam satu ruang kelas dengan waktu terbatas. Kondisi ini yang selalu disalah-artikan pembuat kebijakan, seolah semuanya baik-baik saja. Padahal ada siswa yang belum tuntas pemahamannya, sementara ada anak lain yang menunggu untuk materi selanjutnya.

Pemerintah berpikir yang penting anak sekolah - bisa menuntaskan amanat pendidikan sesuai UUD 1945. Hal itu tidak selalu cukup untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, jika realita yang terjadi tidak memenuhi standar. Standar kelulusan yang tidak lagi teruji oleh nilai aturan, pengetahuan, dan keterampilan. Sekolah-sekolah berlomba-lomba agar semua anak itu lulus ataupun naik kelas. Seolah semua itu prestasi atau kebijakan baik hati agar pembuat kebijakan tersebut mendapat predikat pahlawan pendidikan. Semua guru itu ingin anak nya lulus dan berprestasi, namun guru tidak bisa berbohong bahwa anak/siswanya tersebut baik-baik saja sementara ada hal yang perlu banyak diperbaiki dan dibimbing. 

Seharusnya pola pikir kebijakan "yang penting anak benar" bukan meniadakan bahwa anak harus memiliki pengetahuan wajib sesuai dengan kompetensinya. Bakat  akademik dan non-akademik perlu didorong agar lebih maksimal. Selain itu, pengetahuan dasar harus menjadi sesuatu yang sudah dimiliki oleh anak-anak SMA semenjak kelas X, agar anak-anak bisa lebih lancar dan percaya diri dalam berproses dengan pelajaran pada tingkat kelas berikutnya. 

Seorang guru geografi lebih nyaman dalam memberikan pemahaman mengenai persebaran fenomena alam dan sosial karena anak sudah memiliki gambaran posisi wilayah melalui peta dunia. Seorang guru Matematika akan lebih lancar dan fokus memberikan cara penyelesaian soal dengan metode variatif ketika anak sudah memiliki kemampuan hitungan dasar. Bahkan dalam pelajaran agama pun seperti Islam, guru agama akan mudah menjelaskan makna al-Qur'an ataupun Hadits bilamana siswa/i sudah bisa baca al-Qur'an atau tulisan arab. Kondisi tersebut dapat membantu guru dan siswa menciptakan ruang kelas yang saling mengisi produksi nilai belajar bukan sekedar transaksi informasi. Bilamana kondisi guru dan siswa siap belajar justru akan membuka ruang diskusi, karena guru dan siswa bisa menjadi partner dalam pembelajaran.

Yang penting dapat nilai bagus, yang penting lulus.

Adakah guru yang pelit nilai? atau kemampuan siswa yang belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) dalam pembelajaran? 

Standar itu tetap diperlukan agar anak mencapai kemajuan menurut jangka waktu pembelajaran sesuai fasenya. Meskipun tidak ada istilah KKM dalam kurikulum merdeka, tetap saja konsepnya melekat dalam target ketercapaian ketuntasan belajar baik dalam pemahaman guru ataupun siswa. Saat ulangan harian pun, siswa masih bertanya "KKM nya berapa? ", "apakah ada remedial, pak ? " Hal-hal tersebut bentuk pemahaman umum atas hasil yang ingin dicapai bersama dalam belajar.

Dalam konteks tes PPKN pada pengantar kalimat diawal, siswa/i tersebut menginginkan nilai yang tinggi. Hanya saja, kemampuan yang ditunjukan belum layak untuk nilai maksimal. jika diberi waktu lebih panjang mungkin bisa, sayangnya pengetahuan umum seperti profil dan geografi suatu negera termasuk sistem pemerintahan tidak bisa dicerna hanya lewat hafalan atau Sistem Kebut Semalam (SKS). 

Pola pikir siswa masih berada pada keinginan nilai tinggi namun tidak diimbangi kemauan untuk belajar secara konsisten. Mereka belajar sibuk membuka buku catatan, saat akan ulangan harian atau tes lisan, sehingga pengetahuan itu bukan jadi pelengkap bangunan, hanya seperti pajangan sesaat yang asal jadi. 

Pengetahuan atau wawasan tidak menjamin kesuksesan tetapi itu merupakan cerminan dari tingkat literasi siswa/i di Sekolah. saya tidak tahu persis, apakah kondisi nya sama atau berbeda dengan sekolah lainnya. Bila melihat media sosial seperti tiktok ada beberapa video yang menampilkan dialog dengan siswa saat ditanya nama-nama provinsi dengan ibu kotanya, mereka tidak tahu bahkan salah menjawab.

Sebenarnya bukan untuk dipersoalkan sebagai suatu masalah besar. Keadaan tersebut merefleksikan kembali apa tujuan kita bersekolah. Siswa hanya sekedar datang ke sekolah, menyalin informasi ke dalam buku teks, bertanya dan menjawab dengan AI, lalu tiba-tiba merayakan kelulusan karena semuanya sudah dijamin lancar.

Seperti ini kah yang diharapkan dari mutu pendidikan kita?

Kualitas dari guru (termasuk saya) juga perlu banyak evaluasi dalam pembelajaran. Jika pemerintah mengharapkan konsep merdeka belajar lalu siswa bisa belajar sesuai minat dan gaya belajar nya, mengeksplor pembelajaran sesuai dengan kebutuhan, lalu apa yang benar-benar bisa dipahami jika minat baca sebagai syarat mengeksplor pengetahuan secara mandiri belum terpenuhi. 

Semua siswa akan lulus dan mendapat nilai, bahkan cukup baik dan rajin itu sudah berkembang sesuai harapan. Saya pikir, akan selalu muncul anggapan bahwa siswa rangking di kelas tidak selalu berhasil di dunia nyata. Pemikiran seperti itu perlu diluruskan agar siswa tidak mengabaikan proses belajar yang baik, hanya karena ia bisa lulus lalu masuk kampus terbaik, namun mengabaikan proses akademik selama di Sekolah.

Kita tidak membenarkan jika ada siswa asal-asalan sekolahnya tanpa memerhatikan aturan, etika, proses yang berlaku. Kemudian dia lulus dan bekerja menjadi pejabat, apa yang terjadi jika seorang siswa yang dulu nya tidak memahami etika, moral, dan tahu aturan lalu menjabat sebagai pejabat publik, kemudian membuat kebijakan tanpa ia mengetahui pokok persoalan. 

Ilmu memang bisa datang darimana saja, bahkan kata bahlil lebih menyukai ilmu lapangan, banyak persoalan negara tidak selesai melalui ilmu buku, tapi ingat negara-negara maju karena kualitas SDM nya maju, melalui pendidikan, dengan indikator memiliki tingkat literasi yang baik. Jadi bukan sekedar ilmu preman, asal cari duit, kekuatan ormas, atau merasa punya otoritas, kadang sistem yang buruk bisa menggagalkan orang yang layak.

Bukan tidak ada Jawaban dari Persoalan, hanya Soal Kemauan

Seharusnya siswa yang hidup hari ini bisa menyerap informasi lebih banyak dibanding siswa zaman dulu. Siswa hari ini mengakses informasi jauh lebih cepat, mudah, dan banyak bila dibandingkan kondisi siswa dulu yang pembelajarannya belum berbasis internet.

Pada masa dulu - era sebelum internet. Ilmu & Pengetahuan harus didatangi bahkan harus dibeli seperti buku, majalah, koran, sampai berkunjung ke perpustakaan. Sekarang bukan hanya internet tapi ada bantuan kecerdasan buatan (AI) sehingga proses informasi bisa didapat dengan cepat. Sayangnya, teknologi yang terlalu sering dipakai lalu mengabaikan kemampuan otak dalam berpikir, berproses, dan mensintesiskan informasi. Akhirnya otak/pikiran siswa seperi pisau yang jarang digunakan sehingga membuat daya pikir kritis dan analitis menjadi tumpul.

Seharusnya para siswa bisa belajar secara mandiri bahkan memiliki pengetahuan yang bisa setara/melampaui gurunya. Kemudahan teknologi tidak menjamin anak-anak belajar dengan fokus, mandiri, dan efektif. Anak-anak terpapar informasi pada hal-hal yang justru melemahkan potensi otaknya seperti hiburan cepat, game, dan konten-konten adiktif. 

Peran guru, orang tua, dan lingkungan sosial dapat membantu mengaktifkan stimulasi belajar bagi siswa. Jika siswa tidak ada kemauan untuk berubah, berbenah untuk belajar, maka hasilnya sebuah kondisi teknologi yang semakin maju dan pengetahuan akan tetap tertinggal. Makna pengetahuan disini bukan soal hafalan atau pengetahuan umum seperti disinggung diawal, ia mengacu pada sesuatu yang berguna dalam membantu siswa menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks. Bisa saja anak tidak diberikan tugas atau pekerjaan rumah, namun apakah itu menjamin siswa tetap belajar secara mandiri?.

Ya, walaupun saya pribadi tidak memberi tugas rumah agar anak-anak fokus membantu orang tua atau setidaknya ada waktu untuk istirahat dan menikmati waktu sengggang nya.

Kesimpulan.

Saya yakin, jika siswa mau belajar dan fokus pada hal-hal yang berdampak pada masa depannya, kualitasnya akan lebih baik lagi. Ketidakmampuan siswa dalam memahami pengetahuan dasar merupakan pekerjaan rumah bersama, guru, orang tua, dan pemerintah (dinas pendidikan).  Tujuannya supaya kualitas pelajar bisa menjawab persoalan-persoalan dari hal sederhana hingga kompleks dalam masyarakat. 

Anak-anak muda sebagai agen perubahan sosial yang lebih baik, dengan ide-ide nya bisa memberikan sumbangsih pemikiran meskipun baru tahap makalah, presentasi, diskusi, hingga pada aksi nyata. Ketika masuk perguruan tinggi, mereka sudah siap bersaing dengan mahasiswa negara lain. pola pikir harus dirubah, bukan viral karena hal-hal receh, bodoh, atau memalukan, viral karena prestasi dan kebermanfaatan. 

Orang tua juga punya peran dalam memberikan pendidikan dasar, jika pun tidak memberi ruang aman bagi psikologis siswa agar tenang belajar di rumah. Anak-anak bukan sekedar hadir ke sekolah lalu berstatus siswa yang pada akhirnya tetap tidak tahu apa-apa, karena mereka potensi manusia unggul bukan sarjana kertas. slogan yang penting sekolah benar, bisa terwujud dengan terbentuknya pengetahuan yang tertanam dalam pola pikir siswa, mengenai tingkah laku, kebiasaan, dan peran sosial. 

Jika siswa kosong tanpa memiliki pemahaman apapun, siswa bisa gagal mencapai dua hal, benar dan pintar. seharus nya tidak ada dikotomi, karena semua itu karakter yang tercermin sebagai seorang terpelajar dan terdidik. 

Salah satu solusi sederhana ialah membiasakan literasi, karenanya siswa perlu role model dan ruang yang mendukung. Orang tua bisa membelikan buku penunjang belajar meski tidak banyak, guru bisa memantik pengetahuan, dan pemerintah mensubsidi buku murah. 

Sekolah itu penting, bukan hanya yang penting sekolah. Sekolah sebagai  ruang tumbuh bersama. guru dan siswa itu rekan belajar. Bila ada kekeliruan dan kesalahan itu pun bagian dari pembelajaran. Ketika pembelajaran tidak pernah mengalami pertumbuhan, tentu ada masalah yang menghambat serta perlu dievaluasi. 

Semangat untuk anak-anak yang pernah belajar bareng saya, semangat untuk masa depannya, kalau sudah sukses beri kabar. jika pun belum, tidak masalah. setidaknya, kita tak pernah berhenti mencoba dan mencoba untuk berhenti. eaaaπŸ™Œ.

Sedikit kutipan dari Atomic Habbit :

Belajar satu gagasan baru, tidak menjadikan kamu genius. Namun, komitmen untuk belajar seumur hidup dapat mengubah kamu.


Posting Komentar untuk "Sekolah, yang Penting Apa?"

🟒 WA
Insight

harap tunggu sebentar :)

☀️ 0%
πŸ”” Artikel selesai dibaca