KESENJANGAN DAN KEANJINGAN :
KERJANYA PARA BUDAK, PESTANYA PARA TUAN
Oleh : Aisyha Nazaara Assha
Septiandra
ABSTRACT
The rich are the reason the poor are powerless. Wealth and
poverty have always stood on opposite ends of the spectrum. From an early age,
we are fed the outdated narrative: “Hard work brings wealth, laziness brings
poverty.” But reality is far from that. The path to success has never been
equal. Some are born onto highways, while others are forced to crawl on broken
roads with no end in sight. This is not merely about effort; it is about power,
privilege, and control.
In Indonesia, oligarchs feast while the working class
bleeds. The rich design policies, dictate wages, and shape narratives, while
the poor are left surviving on crumbs, silenced by propaganda and trapped in
systemic inequality. This is a modern form of slavery, new masters, new chains,
but the same oppression. The question remains: how long will the people stay
silent, and how long will the state keep its eyes closed?
Keywords : Disparity, Poor, Rich, Master and slave.
ABSTRAK
Orang kaya adalah penyebab
rakyat miskin menjadi tak berdaya. Kekayaan dan kemiskinan selalu menjadi dua
sisi mata uang yang berseberangan. Sejak dini kita ditimang dengan narasi
usang, “Rajin pangkal kaya, malas pangkal miskin.” Padahal, kenyataannya tidak
sesederhana itu. Jalan menuju kesuksesan sudah dipetak-petakkan; sebagian orang
lahir di jalur tol, sementara sebagian lainnya dipaksa merangkak di jalan
berlubang tanpa ujung. Inilah wajah kesenjangan yang nyata, bukan soal malas
atau rajin, tapi soal siapa yang memegang kuasa dan siapa yang dikorbankan.
Di
negeri ini, para oligarki berpesta di atas keringat buruh, sementara rakyat
miskin dipaksa bersyukur atas remah-remah yang jatuh dari meja kekuasaan.
Sistem melahirkan tuan dan budak dengan wajah baru, di mana kuasa dan
propaganda bekerja beriringan. Pertanyaannya, sampai kapan rakyat akan diam,
dan sampai kapan negara akan menutup mata?
Kata Kunci : Kesenjangan, Miskin, Kaya, Tuan dan Budak.
I.
PENDAHULUAN
Tuan
dan budak memang hanya ada pada zaman penjajahan, dan inilah zamannya. Terlalu
takut miskin membuat kita semakin mudah diperbudak. Terlalu ingin kaya hanya
akan mengantarkan kita pda fatamorgana. Inilah penjajahan, yang menjadikan kita
tuan dan budak. Inilah zamannya ketika rakyat bekerja bukan untuk merdeka, tapi
untuk meyiapkan pesta para oligarki, para kapitalis, dan para pengeruk sumber
daya alam. Inilah Indonesia, Negara dimana kekayaan menjadi pangkat dan
kemiskinan menjadi dosa.
Kesenjangan ekonomi di Indonesia bukan sekedar takdir atau
reaksi alamiah, melainkan sebuah kesengajaan yang dilanggengkan. Bukti
sederhananya sering kita jumpai pada teman-teman yang kerja hingga berdarah
tapi diupah murah. Upah minimum sering ditentukan lebih rendah dari standar
hidup layak, bahkan direm oleh Perppu Cipta Kerja. Rakyat didorong kerja "gig
economy", kontrak, outsourcing, tanpa masa depan.
Masih tidak percaya? Coba kita buka BPS dan cari statistic dengan judul Gini Ratio Menurut Provinsi dan Daerah, 2025.
Kalian akan menemukan bahwa BPS
mencatat Rasio Gini Indonesia Maret 2024 sebesar 0,375. Angka ini menunjukkan
ketimpangan masih menganga, apalagi di wilayah perkotaan yang mencapai 0,395.
Artinya, sekalipun kemiskinan perlahan berkurang, jurang antara kaya dan miskin
tetap lebar. Inilah bukti bahwa masalah kita bukan hanya kemiskinan, tapi
kesenjangan yang dilanggengkan, dan selama ketimpangan ini dilanggengkan,
Indonesia hanya akan terus melahirkan tuan dan budak dalam wajah baru. Maka
dari itu, untuk melepaskan diri dari fatamorgana ini, rakyat harus menyadari
kekuatan mereka dan menuntut perubahahan.
II. KESENJANGAN MASYARAKAT DAN KEANJINGAN SISTEM
Jangan sekali-kali melihat dunia dengan apa adanya, tapi ‘ada apanya?’. Sejak zaman kolonial hingga pasca reformasi, politik menghinggapi segala aspek didunia, bahkan sebutir nasi yang kita makanpun harus melewati siklus politik. Keanjingan sistem bukan hanya soal korupsi, melainkan tentang bagaimana negara melayani segelintir elite sambil menelantarkan jutaan rakyat.
Ini bukan sekadar tentang si kaya melawan si miskin. Ini
tentang kekuatan dan kehilangan empati. Ada orang-orang kaya yang lahir dari
kerja keras, yang masih mau menoleh ke bawah dan masih mau memberi. Tapi di
sisi lain, ada kelas kaya baru yang mabuk kuasa dan rupiah, yang merasa hidup
mereka lebih berharga hanya karena saldo rekeningnya lebih tebal. Mereka duduk
di kursi empuk, merancang undang-undang, mengatur upah, dan menentukan siapa
yang boleh makan dan siapa yang harus bertahan hidup.
Namun, kesalahan bukan hanya pada mereka. Ada pula rakyat miskin yang dibutakan propaganda. Mereka rela dijadikan pion politik, dibohongi janji-janji manis, dan dibius oleh ilusi kebahagiaan instan. Mereka lupa membaca, lupa berpikir, dan akhirnya lupa melawan. Ketika oligarki berkata, “Bersabarlah, semua akan baik-baik saja,” mereka percaya tanpa bertanya: “Baik untuk siapa?”
- Orang kaya kehilangan empati
karena kuasa dan rupiah.
- Orang miskin kehilangan
kesadaran karena kebodohan dan propaganda.
III.
MENTALISTAS BUDAK DAN TUAN
Menurut Chusnul Khotimah & Sani Safitri (2024), mental
miskin adalah kondisi psikologis di mana seseorang merasa selalu kekurangan,
tak peduli seberapa banyak yang dimilikinya. Mental ini meyakinkan individu
bahwa kemiskinan adalah takdir, bukan produk sistem yang timpang
Fenomena ini terlihat dalam pernyataan beberapa warga di Nusa Tenggara Timur (NTT): “Untuk apa berdemo, toh hidup kita dari dulu sudah miskin dan akan terus miskin.”
Kata-kata sederhana ini menyimpan jeritan keputusasaan. Rakyat tumbuh dalam trauma kemiskinan turun-temurun, minim akses informasi dan pendidikan, ditambah propaganda politik yang meninabobokan kesadaran kolektif. Mereka pun memilih pasrah daripada melawan.
Di pihak lain, terdapat fenomena berlawanan, yaitu Mental
kaya, yang memiliki mindset proaktif dalam menghadapi tantangan, berpikir
jangka panjang, mengambil risiko terukur, menghargai waktu, dan terus belajar
demi kesuksesan dan kestabilan (PT Nusa Satu Inti Artha, 2024). Ini bukan soal
kekayaan materi, melainkan cara berpikir dan kebiasaan mental yang memungkinkan
seseorang bergerak maju.

Namun, justru inilah ironi sistemik : rakyat pasrah, pejabat mabuk kuasa. Kombinasi ini memperkuat struktur ketidakadilan. Rakyat tidak melawan, pejabat tidak peduli. Jurang kesenjangan terus melebar, bukan karena ekonomi semata, tetapi karena psikologi kolektif yang berbeda dan saling diperkuat.
Kita hidup di zaman ketika tuan dan budak tidak lagi mengenakan rantai besi, melainkan rantai sistem. Kita bekerja keras, tapi bukan untuk merdeka; kita bekerja keras untuk menyiapkan pesta para tuan. Kesenjangan ekonomi di negeri ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cermin dari ketidakadilan yang disengaja.
Selama mentalitas budak dibiarkan tumbuh di tubuh rakyat, dan mentalitas tuan terus mengakar di benak para pemilik kuasa, kesenjangan ini tak akan pernah hilang. Selama rakyat memilih pasrah, propaganda akan terus meninabobokan. Selama pejabat mabuk kuasa, empati akan terkubur oleh rupiah dan kebijakan yang berpihak pada segelintir elite.
Sistem ini hanya kuat karena kita diam. Kita diajari untuk tunduk, bukan berpikir. Kita diminta bersabar, padahal kesabaran tanpa kesadaran hanyalah bentuk penindasan yang lebih halus.
Indonesia tidak miskin, yang miskin adalah kesadaran kolektif. Saat rakyat mulai membaca, mulai berpikir, dan mulai mempertanyakan narasi yang diberikan, maka rantai itu akan patah. Kita tidak butuh lebih banyak tuan, kita butuh lebih banyak rakyat yang berani menolak diperbudak.
Karena selama rakyat tidur, para tuan akan terus berpesta.
DAFTAR PUSTAKA
Sayidiman Suryohadiprojo, 2011. “Kesenjangan adalah Kerawanan,” Kompas.
Mochamad Syawie, 2011. ‘Kemiskinan Dan Kesenjangan Sosial”
Chusnul Khatimah, Sani, 2024. “Mental Miskin pada Kehidupan Masyarakat Indonesia”
Badan Pusat Statistik Indonesia. (2025). Rasio Gini Menurut Provinsi dan Daerah, Maret 2025.
PT Nusa Satu Inti Artha (DOKU). (2024). Mindset Orang Kaya: Kunci untuk Membangun Bisnis yang Berhasil.
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023
Tentang Penetapan Perppu Cipta Kerja menjadi Undang-Undang. Jakarta : Kementrian Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Dr. Muhammad Syafii Antonino, M.Ec
(2007)
Muhammad SAW The Super Leader
Super Manager.

Posting Komentar untuk "Kerja Para Budak dan Pesta Para Tuan"