Selamat Datang
Selamat Datang - Ruang Kita Bercerita *** Selamat Datang - Ruang Kita Bercerita

Perjalanan Gunung Merbabu

Apa hadiah terbaik dari setiap perjalanan adalah Perspektif. Sebuah ruang dalam pikiran yang diisi oleh hiasan pemandangan & pengalaman baru yang berkesan. 

Perjalanan ke gunung Merbabu khususnya via Suwanting sudah kami rencanakan sudah lama. Setiap melihat keindahan gunung merbabu di media sosial rasanya membuat kami bersemangat untuk berangkat kesana. Namun, faktanya ? ternyata kami harus mampir pada pendakian dua gunung lainnya, di Jawa Tengah. Gunung tersebut adalah Sumbing dan Sindoro, dua gunung yang saling berhadapan langsung seperti saudara kembar yang sama-sama menjulang diatas 3000 MDPL.

Kadang aneh, perjalanan yang tujuan awalnya ke Merbabu tahun ini, justru harus di mulai di gunung sumbing dan sindoro. ini bukan ritual dan latihan fisik, ini hanya soal waktu. Gunung Merbabu via Suwanting memiliki kuota pendakian maksimal 400 orang per hari. Menurut saya jalur Suwanting begitu istimewa, karena kita bisa melihat Sunset langsung jika hari cerah. Perjalanan melewati padang sabana luas menghampar mendekati puncak dengan latar gunung merapi.

Perjalanan ke Gunung Merbabu via Suwanting kami lakukan dengan jasa Open Trip yang cukup kredibel. Biayanya lumayan, Nominal pendaftarannya Rp. 975.000, hampir satu juta. Biaya tersebut belum termasuk perlengkapan dan akomodasi pribadi. Selama di Basecamp sampai Puncak semua berada dalam tanggung jawab pihak Open Trip tersebut.

Kami melakukan perjalanan yang cukup lama dari Bogor-Magelang. Berangkat dari Exit tol Citeureup - Magelang selama 12 jam an. Kami berangkat dari Exit tol Citeureup pukul 19.00 hingga tiba di Basecamp Suwanting pukul 08.00 pagi.

Trak Suwanting merupakan Jalur pendakian terpanjang dan cukup melelahkan, Start pendakian dari Pintu masuk pukul 11.00 hingga tiba di Pos 3 pukul 17.00 . Cukup melelahkan dan menguras tenaga karena jalurnya benar-benar berdebu dan cukup penuh tanjakan, dari pos 1 dengan vegetasi hutan pinus, kemudian ke vegetasi terbuka seperti semak belukar dengan trek yang berdebu sampai pos 2. Kemudian dari Pos 2 hingga pos 3 mulai terbuka padang sabana meskipun masih perlu waktu 2-3 jam untuk sampai ke Pos 3, yang mana pemandangan nya lebih terbuka sehingga gunung merapi tampak lebih jelas terlihat dan gagah menjulang tanpa ada vegetasi penghalang.

dari Pos 2 sampai Pos 3 jika cuaca sangat cerah kita dapat melihat lautan awan yang benar-benar luas sepanjang mata memandang hingga dua gunung lainnya, seperti Sumbing dan Sindoro terlihat puncaknya dari kejauhan. 

Suwanting  sore hari benar-benar sangat indah dan mempesona, sepanjang pendakian area camp saya sering melihat ke belakang karena merasa tidak percaya bahwa saya benar-benar melihat lautan awan yang sangat tebal dan rapat seperti kapas yang bertumpuk. Menengok ke samping ada Gunung Merapi sehingga semakin kami naik maka gunung merapi tampak lebih rendah dari kami. Faktanya kami merasa lebih kecil diantara gunung-gunung yang menjulang kokoh.

Satu hal yang kami rasakan sepanjang perjalanan adalah debunya. Jujur saja, pendakian saat musim kemarau panjang, apalagi bulan september sebagai puncak kemarau benar-benar menyiksa pernapasan. karenanya kami memakai buff atau masker tebal, agar sampai debu tersebut tidak terhirup. Jika terhirup sedikit saja kami bisa batuk dan berbahaya untuk pernapasan, debu yang menempel di wajah kami tampak seperti bedak yang memoles muka kami. ingin mengusapnya dengan air, tapi debu akan tetap ada menempel pada badan kami. Sesuatu yang indah, tentu tidak berarti semuanya indah bukan, ada tantangan dan cerita yang sulit untuk disampaikan, beban berat, rasa lelah, trak yang terjal, panas matahari, rasa dingin, serta debu-debu yang beterbangan baik karena angin atau hentakan kaki pendaki lainnya, membuat cerita keindahan merbabu sebagai sisipan kisah perjuangan menuju momen summit yang epik. 

Setiap gunung memiliki karakteristik yang berbeda. Bentuk keindahan panoramanya pun pasti beda. Hal tersebut memperkaya isi kepala, suasana, dan kesan indah untuk bercerita. 

Gunung merbabu dengan segala keindahannya, karakteristik tantangan yang berbeda disetiap jalur pendakian, datang dari arah manapun Selo ataupun Thekelan akan memberikan sensasi pengamatan yang menakjubkan. Bayangkan keindahan sabana, edelweiss, beberapa pohon, punggung gunung, latar merapi, awan tebal dibawah kaki pendaki, hadir dalam satu bingkai estetika yang bisa kita nikmati, saat duduk ngopi, ataupun berjalan dalam langkah yang lebih pelan.

Perjalanan mendaki gunugn bukan soal mengejar kecepatan, namun justru untuk memperlambat momen mengenai makna kehadiran, melupakan masalah dunia atau mengambil jeda, setiap langkah yang kita bawa menuju puncak adalah usaha yang tak pernah sia-sia, karena perjalanan nya bukan siapa yang lebih dulu tiba di puncak melainkan saat kita pulang bersama-sama dengan selamat. 

Pulang dengan membawa perspekstif yang berharga, itulah oleh-olehnya. Perspektif bertemu suasana baru, pemandangan  yang luas, sudut permukiman di kaki gunung, serta cerita-cerita dari mereka yang lebih lama hadir disana. Kita pergi sebagai pengunjung melihat hal-hal baru disana, bisa kah kita pulang sebagai orang yang melihat rumah lama kita layaknya pengunjung yang melihat suasananya dalam sudut pandang yang lebih baru?


Posting Komentar untuk "Perjalanan Gunung Merbabu"

🟢 WA
Insight

harap tunggu sebentar :)

☀️ 0%
🔔 Artikel selesai dibaca