Selamat Datang - Ruang Kita Bercerita *** Selamat Datang - Ruang Kita Bercerita

Jika Semua Orang Bisa Menjadi Juara

Sunardi · Penulis
·
Tentang Proses, Ujian, dan Makna di Balik Sebuah Bukti Kualitas

 Kalimat tersebut tampak seperti kalimat klise untuk menghibur diri. Karena kalimat tersebut teruji oleh waktu dan benar adanya. Bukan dengan bukti pencapaian orang lain melainkan setiap orang bisa merasakan pembuktian dari  kalimat tersebut.

Kita hidup didunia dalam mekanisme proses, pertumbuhan, dan fase yang perlu dijalani. apa yang kita usahakan sebenarnya jauh lebih berharga dibanding sekedar hasil yang diraih. menjalani proses sebaik mungkin dapat menguatkan karakter dibandingkan saat kita mendapat sesuatu tanpa melalui tahapan yang layak.

Ketika Sesuatu diperoleh secara cuma-cuma

Bayangkan jika proses  latihan itu panjang dan sulit, namun kita tetap berjuang dengan gigih untuk melewatinya. Setiap tantangan diatasi sebaik mungkin, setiap persoalan berusaha dijawaba dengan daya nalar yang juga baik, maka hasil yang didapat tentu dapat lebih memuaskan hati.

Dunia hari ini menuntut validasi dan bukti, namun tidak pernah menampakan proses dan perjuangan dalam melaluinya. apakah hasil itu memang layak untuk ditunjukan atau memang hanya sekedar formallitas yang kelayakannya perlu dipertanyakan.

Banyak orang mengharapkan presetasi, sertifikat, piagam, dan bentuk keterangan lain untuk menunjukan sebuah kompentesi dari suatu bidang.  Jika penghargaan itu didapatkan dengan proses yang cukup baik maka hal tersebut menunjukan kualitas yang berharga. namun, banyak pelatihan-pelatihan seringkali hanya diikuti secara formalitas tanpa benar-benar menguji kelayakan peserta sehingga setiap penghargaan tampak sesuatu yang terlalu murah. Jika semua orang bisa mendapatkan sesuatu tanpa usaha yang lebih, tanpa ada keunggulan kompetitif yang bisa disandingkan, lalu dimana letak kepuasan dan kebermaknaan dari potensi diri yang selama ini bisa dibanggakan?

Apa lagi jika semua peserta mengikuti suatu training atau perlombaan, selama mereka membayar maka semuanya akan mendapatkan sertitifkat yang sama. apakah hal itu salah? itu kembali kepada moral individu dalam menunjukan kapasitas diri, apakah itu benar-benar bukti bahwa ia memang layak dianggap berharga atau hanya sekedar bukti tanpa diikuti kompetensi? 

Uji Kembali, bukan hanya sekali

Ketika suatu program, baik training, bootcamp, ataupun diklat semacamnya, tentu saja tujuan menciptakan outcome sumber daya manusia yang unggul sesuai dengan ruang lingkup pelatihannya. begitupun, dalam konteks perlombaan, siapapun bisa mengadakan perlombaan dengan label dan branding apapun namun hal itu harus menjadi pertanggung jawaban publik atas kualitas manusia yang diuji.

Hal ini saya tulis berkaca pada pelatihan yang pernah saya ikuti yaitu "Google Master  Trainer". karena dalam sertifikasi tersebut dicantumkan tanggal kadaluarsa, yang artinya kompentesi saya pada satu program yang dirancang oleh google tersebut tentu akan kadaluarsa. justru itu hal yang objektif, apalagi menyangkut pelatihan dibidang IT yang terus berkembang dan up to date, maka hal itu juga menuntut agar manusia ikut berkembang dan terus belajar lagi. bukan mendapatkan sertifkat lalu berhenti mengembangkan kualitas diri, seolah sertifikat itu mencerminkan keahlian jangka panjang.

Begitupun pada hal-hal lainnya, seringkali Training diselenggarakan bukan karena kebutuhan individu atau kesadaran individu, tapi lebih kepada program masif yang dipaksakan seperti lingkungan pendidikan agar terbuka pola pikir, terasahnya skill, dan pembaharuan pengetahuan atas pengembangan dunia pendidikan. sayangnya, ketika hal tersebut tidak menjadi sebuah kebutuhan dan kesadaran, maka program tersebut hanya berjalan lalu lewat begitu saja bukan berarti hasilnya tidak ada, hanya saja semakin banyak program pelatihan yang diikuti harus semakin baik dalam menyikapi persoalan baik komprehensif ataupun tematik. jangan sampai masyarakat melihat banyak gelar, banyak pelatihan yang diikuti, banyak nya pengetahuan, namun tidak melihat perbedaan yang berarti apalagi dalam hal aksi. lalu apa bedanya kita dengan yang tidak pernah mengikuti apa-apa, lalu kita menyimpannya dalam tumpukan kertas yang sudah usang ?

Perlombaan dan Bukti

Seringkali perlombaan dalam konteks kompetisi  sebagai bukti dari unjuk kualitas hasil latihan yang dilakukan. Banyak perlombaan yang bisa diikuti dimanapun tergantung hal apa yang bisa sesuai dengan kapasitas diri. Saya merasa senang ketika hari ini banyak siswa yang mengikuti olimpiade sains tentu ini membuka harapan bagi siswa untuk mengeksplorasi diri mempelajari hal yang disukai. Karena  kata olimpiade merupakan kalimat bergengsi dalam uji kemampuan antar peserta demi meraih kualitas manuasia unggul baik dalam bidang akademik ataupun atletik. Banyak lembaga-lembaga yang mengadakan olimpiade sains (akademik) dengan label "nasional" tentu hal itu harus menciptakan manusia-manusia Indonesia yang lebih saintifik - siapa tahu ada yang bisa meraih hadiah nobel sains puluhan tahun ke depan kan, hehe.

Hal  yang lebih penting dari perlombaan ialah kualitas proses yang harus diuji, bukan sekedar mengambil banyak siswa / peserta yang ikut demi komersialisasi atas nama pengetahuan. Tentu siswa pun harus menyadari hal ini bahwa pengalaman mengikuti kejuaraan lomba pada bidang sains harus bisa diuji lagi dengan level yang bisa disetarakan atau diverifikasi melalaui lembaga yang memiliki otoritas ilmiah. Karena disanalah kualitas kita akan terukur, yang mana semakin sulit dan banyak orang yang berjuang untuk berhasil meskipun pada akhrinya banyak yang gagal maka disitulah sebenarnya letak kualitas dari kompetisi yang bergengsi. Bukan karena banyaknya mereka yang berhasil dan semua menjadi juara, lalu dimana letak pertarungan adu gengsi, ajang berbakat, dan adu kualitasnya jika semua orang pun dengan mudah bisa mendapatkan "bukti validasi" yang sama

Lebih banyak di Uji, Simbol Kualitas diri

Jika hidup tidak pernah diuji, lalu dimana kualitas diri sebenarnya?. Dalam membuktikan pemahaman hasil proses belajar maka ada namanya evaluasi belajar. hal ini semata-mata bukan untuk menghakimi kapasitas otak melainkan lebh kepada kelayakan nilai diri sebagai seorang pelajar. apa maksudnya ? bayangkan jika seseorang mendapat nilai biologi rata-rata 90 ke atas namun tidak pernah tahu cara memegang mikroskop. begitupun seorang yang diberi nilai geografi rata-rata 90 namun tidak bisa membaca peta, dan berlaku untuk hal lainnya. Jika hanya nilai di rapor tercermin rata-rata 90 saja tanpa diimbangi dengan kompetensi baik pengetahuan ataupun keterampilan maka proses pengujian nilai tersebut harus dipertanyakan?. Tentu saja kita tidak bisa mengukur hanya dari satu tes, ada bentuk tes lain, namun semua nilai yang diberikan orang lain kepada kita dalam konteks apapun harus dibuktikan bahwa nilai tersebut apakah sesuai dengan kita atau tidak. Jika orang lain memberi saya nilai 12/100 maka tinggal dibuktikan begitupun jika orang lain 99/100 juga harus dibuktikan.

Kualitas diri manusia akan selalu diuji seiring waktu dalam situasi yang berbeda-beda. namun semua itu menempatkan manusia yang diuji bisa mendapatkan predikat unggul atau layak untuk diberi penghargaan atau tidak. manusia pada dasarnya ingin dikenal, dilihat, dan mengaktualisasikan dirinya ke dalam bentuk 'manusia unggul', meskipun bentuknya bisa berbeda. keinginan manusia ialah untuk dihargai dan dihormati, sebagai bentuk anugerah potensi diri yang tidak semua orang mendapatkannya.

Jika setiap hal bisa didapatkan dengan mudah, juara lomba tanpa latihan, sertifikasi tanpa diuji, piagam penghargaan tanpa ada proses aksi nyata, lalu dimana semua kebangaan itu bisa diletakan ? apakah hanya diselembar kertas yang kita simpan di lemari atau didalam diri karena kita telah mendapatkan sesuatu yang berharga yang tidak semua orang mau berusaha, belajar, dan menerima kesulitan selama proses yang dijalani.


Posting Komentar untuk "Jika Semua Orang Bisa Menjadi Juara"

🟢 WA
Insight
Reading Preferences
Ukuran teks Sedang
Jarak baris Nyaman
Lebar bacaan Sedang
Jenis font Georgia
Tema artikel Editorial
Suara naratorBahasa Indonesia
Karakter suaraLembut
Kecepatan narasi1×
Perubahan suara, karakter, dan kecepatan berlaku mulai paragraf berikutnya.
☀️ 0%
🔔 Artikel selesai dibaca