4 hari saya ditugaskan mengawas salah satu sekolah SMA swasta, menurut saya ini pengalaman yang berharga, ya karena baru pertama kali mengawas TKA yang sudah berjalan 2 tahun.
untuk sekolahnya sendiri, saya sudah mengenalnya, mungkin tidak dengan siswanya. Hari pertama, ada perasaan canggung karena belum mengenal sama sekali guru dan pelajarnya. itu hal biasa, sebagai tamu yang pertama kali berkunjung. posisi saya sebagai tamu - pengawas, bukan turis yang bebas mengeksplorasi setiap objek, bahkan untuk foto sekalipun dokumentasi, harus ada etika ketika kita sudah berada didalam satu intansi.
TKA yang berjalan lancar,
Pas masuk yang bikin saya lebih canggung ialah foto bersama, sekedar dokumentasi. kemudian saya juga belum mendapat sosialisasi mengenai pengawas TKA, hanya dokumen juknis ynag perlu dibaca. Saya tinggal menunggu info virtual meeting dari penyelia yang memantau tugas pengawas serta jalan nya ujian.
Sesi 1 satu mapel selesai dan berjalan lancar, lanjut sesi 2 juga sama, semua nya will be OK sampai hari pertama selesai.
Satu hal, kesan pertama bertemu dengan mereka tentu itu hal yang menyenangkan. Terlebih mereka juga punya Sopan santun yang baik, bukankah di dunia pendidikan sama saja ya, yang mana guru dan pelajar nya memiliki etika yang baik.
Lanjut, hari kedua semua nya berjalan sama seperti hari pertama. Justru saya lebih bisa menyesuaikan, toh tugas saya hanya mengawasi, memastikan tidak ada pelanggaran. Siswa nya juga bisa diajak kerja sama agar bisa menjalankan ini dengan kondusif, bahkan interaksi dan percakapan singkat pun selalu terjadi, hanya obroloan ringan, tentan semangat, keyakinan, dan ekspresi sederhana mengenai TKA yang baru selesai mereka jalani.
Kertas Putih yang penuh angka-angka
Tibalah pada hari ketiga, pelajaran matematika umum yang mana siswa diberi kertas coret-coret untuk menyelesaikan soal matematika. waktunya lebih singkat, hanya sekitar 80 menit. ya begitu, seolah tidak ada raut wajah yang mengeluh, atau pasrah begitu saja, mereka jalani saja, meskipun kita tidak tahu mereka itu bisa atau tidak.
Sesi 1 dan Sesi 2 pada hari rabu menjalani ritme yang sama, laptop di buka, berdoa, dan masuk ke soal. Melihat wajah-wajah yang fokus, seolah mereka mengerjakan dengan serius, walaupun saya juga tidak bisa menilai kemampuan mereka, tapi itu bisa dilihat cara mereka bertanya. salah satunya ketika hari pertama, ada seorang anak bertanya mengenai konteks soal lalu ia mencoba memvalidasi jawaban, namun tugas saya bukan untuk memastikan apakah itu jawabannya sudah sesuai atau belum, yang jelas saya bertanya, "apakah kamu sudah paham konteks soal nya?", ia bilang "saya paham".
kembali ke hari rabu, saat semuanya sudah selesai mengerjakan MTK, lalu saya mengambil setiap kertas corat-coret itu lagi. ada yang sudah dilipat, ada juga yang jadi pesawat kertas, no problem, toh itu bukan lembar jawaban, hanya kertas putih yang penuh angka-angka.
saya keliling dan mengambil kertas tersebut, sementara mereka sudah bergerak pulang. yang lain, mengantarkannya langsung ke saya, hingga saya menumpuk kertas putih yang sudah penuh angka-angka itu. ternyata, kertas putih tersebut sudah dipenuhi coretan hasil penyelesaian soal yang coba mereka kerjakan. satu hal yang bisa saya pastikan, kertas tersebut tidak ada gambar, coretan tidak jelas, hanya angka dan rumus tertentu. secara naluri, seorang guru bisa mengenali pola tulisan siswa, apakah tulisan tersebut asbun, hanya angka acak yang iseng ditulis, tapi angka itu bukan angka yang berdiri sendiri, tapi satu kelompok angka seperti rumus atau penyelesaian soal.
satu informasi yang saya dapatkan, mereka pastinya serius dan bersungguh-sungguh, terlepas hasil akhirnya seperit apa, setidaknya kertas tersebut merupakan potongan informasi yang menarik yang bisa saya bandingkan dengan sebuah kondir di sekolah lain. yaa, tempat saya mengajar.
Posting Komentar untuk "Kertas Corat Coret"