Media sosial memberi ruang kepada siapa saja untuk menyampaikan informasi yang diketahuinya. Siapapun bisa menyampaikan fakta dengan cerita yang bisa dibuatnya. Cerita tentang sesuatu yang viral, tren, ataupun masalah yang terjadi di bumi. Maka, orang lain pun bisa dengan mudah mendapat informasi dari siapa saja, terlepas apapun fakta yang terjadi, siapa pun bisa percaya ataupun tidak.
Siapapun atau Siapa yang berhak mengatakan sesuatu.
Hak kebebasan untuk menyatakan pendapat, bersuara, menjadi alasan orang-orang untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Terlebih media sosial, setiap orang bisa menulis, mengatakan, atau bahkan menarasikan menurut pemahaman yang dimilikinya atas suatu hal.
Jika informasi yang disampaikan itu oleh orang biasa saja maka informasi itu hanya seperti suara angin yang berhembus sementara. namun, jika inforamsi itu disampaikan oleh pihak-pihak yang dianggap memiliki pengaruh, seperti influencer ataupun dengan orang-orang pengikut medsos banyak maka akan dianggap sebagai suatu hal yang layak didengarkan.
Ketika yang disampaikan mengenai suatu topik atau permasalahan maka hal itu akan berpengaruh pada cara pandang pendengar, menguji keyakinan kembali, sehingga menerima nya sebagai suatu kebenaran. Para Influencer dengan pengikut nya yang banyak bahkan terverifikasi memiliki kesempatan untuk menciptakan ruang podium yang lebih besar. layaknya seorang orator yang ulung dengan memilih kata yang tepat maka publik yang tidak memiliki pemikiran kritis akan mengangap bahwa itu semacam sabda yang layak dipercaya.
Lalu apa yang jadi masalah ? ketika setiap orang menyampaikan sesuatu yang diketahui nya, namun yang diketahui itu masih sedikit, namun karena berbekal pengetahuan yang sedikit itulah membawa dirinya ke panggung publik untuk menyampaikan pengetahuan yang masih sedikit, setengah, atau sepotong informasi lalu menjadikan pernyataan itu sebagai suatu pemahaman yang layak bagi masyarakat luas. Hal ini bisa terjadi di media sosial ataupun pada realita. Orang yang terkagum-kagum pada satu fakta, pengetahuan, atau informasi yang memicu kesadaran ataupun evaluasi pemahaman maka akan cepat-cepat menyampaikan hal itu kepada publik atau orang lain.
Ketika seseorang membaca satu artikel kesehatan lalu melihat fakta yang mengejutkan maka ia cepat mengupdatenya di media sosial. Begitupun saat melihat persamalahan atau informasi yang sepotong hanya berdasarkan algoritma atau FYP maka akan cepat menghakimi sesuatu hanya berdasarkan satu potongan video. Begitupun pada masalah agama, orang-orang yang hanya memahami sesuatu setengah-setengah maka ia merasa sudah menguasai semuanya, padahal ada hal lain yang belum ia pahami. itulah mengapa semakin banyak orang belajar dan mencoba memahami suatu hal/ilmu maka akan cenderung lebih rendah hati, karena setiap fatwa, ilmu, ataupun pemahaman agama tidak berasal dari satu sumber baik itu guru, buku, kitab, atau referensi satu hadits.
Ketidaktahuan itu masih lebih baik dari sekedar mengetahui hal itu setengah-setengah. Berapa banyak penghakiman (justifikasi) karena orang hanya melihat satu sudut pandang yang dianggapnya benar, seperti kode biner yang melihat sesuaut dari suduat pandang benar dan salah.
Masalahnya ialah seringkali pengetahuan yang sedikit ini membawa orang terlalu percaya diri bahwa apa yang diketahuinya ialah keseluruhan. Padahal pengetahuannya itu hanyalah potongan kecil dari keseluruhan yang besar. Sebenarnya kita tidak perlu mengetahui secara keseluruhan atas suatu hal, karena keterbatasan manusia dalam waktu dan urgensi. Kecuali, jika hal itu menyangku atas suatu fatwa sebelum berkhutbah, pemahaman sebelum menghakimi, dan bukti sebelum prasangka.
Karenanya, amatlah penting bukan sekedar mengetahui informasi, jauh yang lebih penting ialah memahami informasi itu mengenai apa. berapa banyak dari kita berbicara sesuatu padahal kita bukan ahli pada bidang tersebut, sehingga lebih banyak memberikan penilaian yang subjektif bahkan provokatif. Lihat saja, ketika ada satu peristiwa saat seorang maling ayam meninggal karena dihakimi warga banyak yang simpati karena melihat anak gadi kecilnya menangisi ayahnya. seringkali yang jadi perbandingannya ialah kehilangan 2 ekor ayam warga dan satu orang ayah untuk menafkahi. Tentu itu tidak sebanding, bahkan tidak dibenarkan jika harus sampai meninggal. pada akhirnya apa? kita menghakimi warga yang menghaki maling, sementara kita tidak berada disana, mengapa bisa terjadi demikian, yang kita tahu hanya berita meninggalnya seorang ayah yang dihakimi warga sementara kita tidak tahu kejadian berulang-ulang yang dilakukan oleh pelaku yang sama. bahkan, memiliki status sebagai Residivis. kita menutup mata pada hal-hal lainnya, karena kita hanya mellihat sebagian. terlepas dari apapun kita tidak membenarkan apa yang terjadi, baik meninggalnya seorang ayah, ataupun pencurian. lihatlah itu dalam konteks berpikir masyarakat internet, yang mana telah gagal memahami konteks permasalahan secara utuh, seolah pencuri ayam itu pahlawan mencari nafkah sedangkan warga yang dicuri ialah kumpulan orang tak bermoral..
Semua informasi itu perlu proses, bahkan ilmu sekalipun jika belum dipahami konteksnya maka bisa menjadi validasi bahwa orang lain itu salah. Dalam konteks agama islam banyak teks-teks Al-Qur'an dan hadits dipahahmi sebagai teks, sehingga munculah kekeliruan dalam menjalani agama. Begitupun posisi seorang publik figur, pejabat, dan guru yang ucapannya didengar yang kadang dianggap benar, perlu menguasai ilmu dibidangnya agar tidak terjadi kesalahpahaman dan kekeliruan dalam proses pengetahuan secara terus menerus.
Masyarakat internet disuguhkan dengan banyaknya influencer, youtuber, instagram, dan tik toker yang tentu memiliki pengaruh, sehingga pandangannya akan suatu hal akan selalu dipahami sebagai sesuatu yang selalu benar. Lihat saja chanel youtube yang siapapun bisa memabas konteks apapun, rasanya tidak mungkin bagi seorang manusia menguasai semua bidang apalagi secara mendalam, maka kita perlu hati-hati dengan orang seperti itu. Seorang profesor pun justru akan rendah hati tidak berbicara diluar keahliannya, karena seorang profesor dan ilmuwan pun bukan ahli di semua bidang. Manusia hari ini bukan nabi yang mengetahui segala-galanya, bukan dewa yang setiap tindakannya selalu benar, apalagi para youtube yang berbicara atas kemauan diri sendiri, bukan semata-mata karena perkataanya yang dikutip ulang.
Pada akhrinya, manusai dengan segala keterbatasan atas segala hal pasi menguasai suatu hal pada apa-apa yang ia pelajari. kita perlu belajar pada ahlinya. justru sangat disarankan untuk belajar dari ahli pada suatu bidang itu secara langsung karena itu akan membuat waktu belajar lebih efektif. kita memang boleh belajar dengan siapapun agar tetap bertumbuh namun untuk berkembang lebih baik kita perlu memilih kepada siapa kita ingin belajar, percaya, dan meyakini pandangannya. Belajar kepada ahlinya, karena manusia itu dikenali berdasarkan apa-apa yang sering dilakukannya. apabila melihat manusia banyak berbicara diluar bidangnya apalagi sampai memberi fatwa ataupun pernyataan, maka perhatikanlah apa-apa yang sering dikerjakannya.
Banyak orang-orang ahli dibidangnya yang menjadi rujukan yang tentunya wajib kita hormati. karena ketekunannya atas suatu hal bisa menjadikan kita referensi untuk belajar sesuai bidang yang ingin dipelajari. Belajarlah dari banyak orang namun belajarlah lebih banyak kepada satu orang yang benar-benar menguasai satu bidang.
Posting Komentar untuk "Lack Of Expertise "