Selamat Datang - Ruang Kita Bercerita *** Selamat Datang - Ruang Kita Bercerita

Memahami kegagalan diantara Pesismisme, Nasib, dan Persiapan

Sunardi Isur · Pengajar
·

   Udara Bandung begitu sejuk, terletak di antara barisan perbukitan yang memeluk cekungan wajah Kota Bandung yang elok, tanah Priangan, yang menjadi pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat.

   Hari ini, 03 Februari 2019, saya siap-siap untuk mengikuti seleksi tes SKD-CPNS formasi guru geografi, bersama rekan kerja saya, Pak Dewa yang mengambil formasi Guru Fisika. Bukan tes CPNS-nya yang ingin saya bahas, tetapi apa yang ada dalam pikiran orang-orang pada waktu menghadapi ujian tersebut? Karena yang namanya tes, kemungkinannya ada dua: lulus dan tidak lulus. Ini saya belum menyebut gagal, loh, ya. Karena kegagalan itu persepsi masing-masing.

   Malam hari, sebelum menuju lokasi tes di Arcamanik Sport Center, saya memeriksa apa yang sudah saya siapkan sebelumnya. Saya berusaha mendapatkan nasib baik dengan merenungkan kemungkinan soal yang bisa muncul pada tes besok, karena saya tidak akan bermain judi. Hal ini berkaitan dengan tes wawasan, kecerdasan, pengetahuan, dan keterampilan yang akan saya jalani untuk menguji apakah saya layak menjadi PNS atau bahkan sekadar lulus tes besok (03/02).

   Bodohnya, saya tidak belajar sama sekali. Secara tidak langsung, hal tersebut menunjukkan sikap pesimisme yang berakhir pada hasil yang kurang menyenangkan.

   Apakah kita akan berdalih untuk berlapang dada dan menerima hasil begitu saja hanya karena memang kita tidak melakukan apa-apa sebelumnya? Apakah kita harus menerima hasil itu dengan kalimat “Belum Rezekinya”? Alangkah bodohnya orang-orang yang sepemikiran dengan saya.

   Allah SWT menginginkan hamba-Nya berusaha, bekerja semaksimal mungkin dengan nikmat-nikmat-Nya. Lalu, Allah SWT pun akan menyempurnakan nikmat-Nya pada kita. Itulah syukur yang sebenarnya.

Tidak ada persiapan, perencanaan, dan kemauan untuk berhasil adalah jalan menuju kegagalan.

   Tes seperti ini memang pengalaman baru bagi saya, pertama kali. Alhamdulillah, saya lulus walaupun tidak lolos. Saya tidak bisa mengalahkan orang-orang secara positif, ketika sebelumnya saya telah menyiapkan jalan kegagalan bagi diri saya sendiri—tanpa persiapan sama sekali semenjak awal. Ketika melihat hasil tesnya, ada rasa gembira bagi saya karena tanpa persiapan saya bisa lolos. Namun, ini bukan keberuntungan, karena soal-soalnya berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan berpikir yang selalu saya pelajari ketika sekolah, dari buku, atau bahkan dari pengalaman.

   Satu hal yang membuat saya harus menghapuskan kegembiraan saya: orang lain mendapat skor yang tinggi. Mengapa orang lain lebih maju dari saya? Jika saya tidak mengubah pola pikir untuk selalu lebih baik dari hari kemarin dan hanya belajar ketika menghadapi ujian, maka saya harus bersiap kembali dikecewakan oleh nasib yang saya bentuk sendiri.

   Karenanya, setelah ini saya bertekad untuk lebih siap ketika menghadapi kesempatan yang sama. Saya harus membuka mata bahwa ketika saya baru belajar pun, mereka sudah siap untuk berkompetisi. Itu adalah fakta. Bahkan jika ada tes lagi, saya bukan hanya harus lebih baik, tetapi harus memiliki ambisi untuk lolos. Dengan begitu, saya bisa memaksimalkan kemampuan saya dan melihat sejauh mana saya telah berproses selama ini, meskipun hasil bukan satu-satunya ukuran.

Akhirnya, siapa yang harus disalahkan atas kegagalan? Orang-orang mengatakan “ini belum rezeki”. Itu cara mereka menyelamatkan wajahnya dari rasa malu atas kegagalan, karena sedikit sekali mereka yang berhasil menyandarkan pada “rezeki Allah”. Ingatlah bahwa setiap usaha kita dalam belajar adalah rezeki Allah SWT untuk menyempurnakannya dengan rezeki yang lebih baik lagi, yang bernama kemenangan, keberhasilan, atau kejayaan dalam hidup.

   Apa pun tanpa kesiapan untuk menghadapinya akan memunculkan sikap pesimisme, karena pesimisme adalah magnet untuk tetap gagal, bahkan gagal untuk ikut mencobanya.

   Tentu saja ada banyak faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya seseorang dalam mengerjakan suatu tes. Bisa berupa kendala teknis dan nonteknis. Tetapi, pada hal-hal yang bisa kita kendalikan, seperti kapan saya harus belajar, bagian mana yang saya bisa, dan ke mana saya harus melangkah, maka itu adalah tanggung jawab saya sebagai keputusan dalam hidup. Sebuah sikap optimisme orang-orang yang percaya bahwa kemajuan didapat dengan perjuangan, bukan sekadar angan-angan.

   Bahkan untuk tes selanjutnya, saya cukup mendapatkan nasihat yang menjadi pemicu untuk belajar lagi, dengan kalimat:

"Jika kamu saja gagal di bidang yang harusnya kamu kuasai, berarti kompetensi diri kamu pada mapel tersebut dipertanyakan."

   Saya memahami kalimat itu. Saya belajar untuk kedua kalinya dan siap secara mental mengikuti tes lain, yaitu PPPK di SMAN 1 Dramaga, Bogor.

   Kita tidak selalu mengatakan ini belum rezekinya, ini belum waktunya, hanya dengan dalih kita belum melakukan satu usaha pun untuk melangkah ke sana. Konteksnya menjadi berbeda ketika kita sudah berusaha, berdoa, berjuang, dan bersungguh-sungguh. Sekalipun kita gagal, maka kita bukan termasuk orang-orang yang hidupnya pesimis dan mengutuk nasib yang kurang baik.

Disclaimer: Ini adalah catatan lama yang ditulis ulang.

Posting Komentar untuk "Memahami kegagalan diantara Pesismisme, Nasib, dan Persiapan"

🟢 WA
Insight
Reading Preferences
Ukuran teks Sedang
Jarak baris Nyaman
Lebar bacaan Sedang
Jenis font Georgia
Tema artikel Editorial
Suara naratorBahasa Indonesia
Karakter suaraLembut
Kecepatan narasi1×
Perubahan suara, karakter, dan kecepatan berlaku mulai paragraf berikutnya.
☀️ 0%
🔔 Artikel selesai dibaca
\n\n Tekan Enter atau Spasi saat notifikasi difokuskan untuk memperbesar atau meringkas. Tekan Escape untuk menutup notifikasi.