Jika seseorang menjadi orang nomor satu di wilayah administrasinya, sebagai pemimpin dan pejabat yang dengan tangannya bisa menentukan nasib atas jutaan orang dibawah kepemimpinannya. maka pertanyaannya, apa usaha-usaha maksimal yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan berbagai masalah di lingkungannya?
Ketika ada banyak orang menganggur karena kehilangan pekerjaan, meningkatnya angka kemiskinan, kriminalitas mulai merajalela, percayalah itu bukan sekedar masalah nasib individu. melainkan, adanya ketimpangan sosial yang berakar dari pondasi kebijakan, struktur birokrasi, dan implementasi undang-undang yang belum sesuai.
Kebijakan Populis ialah Candu Dopamin
Jika setiap masalah sosial dan lingkungan diselesaikan hanya dengan satu kebijakan populis, seperti masalah kelaparan diselesaikan dengan bagi-bagi sembako gratis dengan label "bantuan pemerintah" maka semua itu hanya menyelesaikan persoalan dalam jangka pendek. Padahal, ada banyak masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian, kehutanan, dan pearian, namun lingkungan nya menjadi rusak dan tercemar karena alih fungsi lahan menjadi perkebunan atau pabrik-pabrik. Sektor ekonomi selalu dipandang melalui kacamata investasi dan angka pertumbuhan lalu mengabaikan fakta dilapangan bahwa angka pertumbuhan ekonomi tidak selau mewakilik tingkat kemakmuran masyarakatnya.
Ketika lahan-lahan produkif, pertanian, dan sumber penghidupan masyarakat rusak maka tidak ada yang bisa ditanam, tidak ada tempat untuk ketahanan pangan, semua tersingkirkan menjadi residu data dalam angka statistik yang diterbitkan oleh BPS. akhirnya, ketimpangan sosial pun terjadi, ketikam masyrakat tidak memiliki sumber pemasukan karena minimnya keterampilan maka satu-satunya harapan ialah kebijakan pemerintah. maka pemerintah pun datang seperti pahlawan dengan bantuan kemanusiaan yang padahal itu memang kewajiban seharusnya.
Kebijakan populis itu datang dalam bentuk bagi-bagi makanan gratis, bantuan sembako, uang tunai, dan bagi-bagi hadiah pada acara pesta rakyat. semua itu pada dasarnya baik karena membantu melupakan rasa sakit bagi masyarakat atas keterpurukan ekonomi nya. Layaknya dopamin yang diberikan secara terus menerus namun menjadi candu untuk mengabaikan fakta "ketimpangan" sebenarnya.
Kebijakan itu strategis bukan sekedar Aksi Dramatis
Coba lihat jika ada kepala daerah mengurusi hal-hal sepele yang sebenarnya masih bisa diselesaikan oleh orang banyak, Jika ada saluran air mampet, cukup perintahkan bagian teknisi atau bawahan untuk memeriksa saluran air dan membenahinya bukan ikut-ikutan masuk gorong-gorong. Jika ada kebakaran hutan pada satu gunung, tentu akan menjadi inspirasi bagi yang lain ikut memadamkan api. namun,jika pemimpin harus selalu turun ke lapangan dan ikut aksi (CTA) lalu siapa yang akan memikirkan kondisi persoalannya. masalahnya, semua itu terkesan dibuat dramatis untuk menunjukan bahwa beginilah kerja seorang pemimpin harus selalu ada di lapangan meredakan persoalan.
Posting Komentar untuk "Pencitraan : High Effort but Low Impact"