Selamat Datang
Selamat Datang - Ruang kita Bercerita *** Selamat Datang - Ruang kita Bercerita

Logika memberi dan perasaan menerima

Pernah ga sih, kita memberi sesuatu kepada pengemis, dan ada perasaan bahwa kita ‘merasa’ baik setelah menolong orang lain.

Kepada pengamen terutama anak kecil, ntah karena kita peduli dan kita merasa iba. yang jelas kita memberi karena sesuatu itu kita ‘anggap ‘ baik.

Ya kita mengganggap itu baik, terlepas apakah itu tepat dan benar. Apakah yang kita anggap baik menurut kita, itu juga akan selaman nya baik pada mereka. Dalam hal ini ‘pengemis’.

Disclaimer : kita wajib memberi pada mereka yang membutuhkan jika kita punya terlebih memiliki kelebihan dalam hal harta, uang, ataupun kekuatan. Kajian agama dalam hal ini islam tentu sangat menganjurkan dalam hal pemberian, terutama sedekah.

Back to topik.

Pada satu kasus tertentu misalkan, di depan pintu minimarket ada seorang bapak duduk sambil menggendong anak nya lalu dipinggirnya ada mangkok tempat menaruh uang, secara naluri kita akan merasa iba melihat anak kecil apalagi di tidurkan dilantai dengan alas kardus. Siapa yang tidak iba ? kasihan melihat kondisi seperti itu. Hal ini umumnya terjadi pada Masyarakat di perkotaan, yang problem social nya tampak lebih banyak, bukan hanya soal kemiskinan tapi kondisi terlantar-hidup menjadi gelandangan, dan seolah ini pemandangan biasa, karena banyak nya.

Masih banyak kasus seperti manusia silver, para pengamen jalanan yang tiba-tiba menodong kita saat kita makan. Kadang ngerasa kasihan, kadang ngerasa risih, kenyamanan kita terganggu, itu bagi saya. Apalagi gak punya uang receh, rasanya gak enak, paling2 saya mohon maaf  dengan isyarat tangan bahwa saya tidak bisa memberi, setidaknya mereka tidak tersinggung.

Seringkali ada pertanyaan yang menggantung dalam benak saya, apakah jika kita terus membiarkan mereka diberi oleh kita itu tidak menjadikan mereka tergantung pada pemberian kita dan orang lain.

Saya mencoba mendiskusikan keresahan saya, pada orang2 yang bisa membuka cara pandang saya terhadap kondisi tersebut.

Ada satu jawaban yang menarik,

“ Ketika kita memberi sesuatu kepada pengamen, pengemis, manusia silver, terlepas motif nya apa, setidak nya saat memberi itu kita bisa memberikan Solusi jangka pendek, seadanya sebagai bentuk pengakuan kita bahwa belum bisa memberikan Solusi yang langsung menyelesaikan permasalahan mereka “ , karena permasalahan mereka bisa bersifat structural.

Apa maksud nya dari masalah yang bersifat struktural ?

Anggap aja sumber masalah mereka itu karena tidak memiliki pekerjaan – bisa jadi karena mereka tidak punya keterampilan, tidak punya pijakan Pendidikan, dan tidak mendapat pekerjaan yang layak. Siapa yang harus nya ikut menyelesaikan masalah mereka ? jika konteksnya sedikit nya lapangan pekerjaan padat karya maka kewajiban pemerintah untuk membuka lapangan pekerjaan, jika minimnya Pendidikan dan pelatihan, ya tugas pemerintah lagi. Hehe.

Lah ko dikit-dikit salahin pemerintah. Maksudnya, siapapun yang diberi kuasa untuk menanggung hajat hidup orang banyak maka dia diberi tanggung jawab untuk berusaha mensejahterakannya, kekuasaan disini dalam konteks politik dan hirarki organisasi ya orang-orang diatas sana, diatas Gedung DPR, Gedung Kementerian, Dinas Sosial, Dinas Ketenagekerjaan, siapa saja yang ikut terlibat dalam bidang social yang menyangkut kemiskinan dan pengangguran struktural.

Dan yang bisa kita lakukan adalah memberi dengan ukuran yang bisa kita berikan. Mau memberi dengan hati atau alasan logis, ya silakan saja. Selama tidak disertai motif tersembunyi, seperti menjelang Pilpres tiba-tiba ada pencairan Bansos yang ujung-ujung menjadikan masyarakat tak mampu menjadi bergantung dan harus berterimakasih pada mereka yang memberi bansos. Padahal itu kan uang negara ya, uang Bersama, dan uang dari pajak rakyat juga. Yang lebih parah lagi itu kan hak mereka yang memang seharusnya didapat cuman waktu nya kadang disetting biar lebih pas, suara alarm nya, ehh suara pemilihannya.

TINDAKAN YANG BENAR & YANG BAIK

Ketika dihadapakan pada situasi seperti apakah kita layak dan perlu memberi pada pengemis, mana Tindakan yang perlu kita ambil ?

yang jelas saat mereka meminta kepada kita ‘- sudah selayaknya kita memilih Tindakan yang baik. Termasuk siapapun yang mencoba meminta tolong pada kita, menengadahkan tangannya ke diri kita, barangkali mereka melihat diri kitab isa membantu nya, tanpa pikir  dan analisis Panjang sudah sebaiknya kita beri jika memang punya. Mereka melihat kita sebagai bagian dari Solusi, dengan cara memberi sesuatu yang kita miliki saat itu terlebih jika mereka memang tampak susah, dan kita tahu Batasan kita dalam menyelesaikan mereka hanya sampai disitu dan itu pun cukup.

Hal ini sejalan dengan seorang yang memiliki pandangan jangka Panjang dalam urusan akhirat nya. Disini kita masuk ke pembahasan agama, karena baik itu sesuatu yang manusia ingin lakukan, dan agama memerintahkan itu. Pandangan jangka Panjang pada akhirat menegaskan bahwa Ketika kita memberi , ya sudah berikan saja tanpa ada prasangka apapun pada mereka, apalagi jika sudah terlaltih dalam memberi (sedekah) itu lebih mudah, tanpa berpikir apakah itu akan Kembali kebaikannya ke dia , yang pasti dia Ikhlas, letting go.

Jika kita mau merenungkan perkataan marcus aurelius dalam meditations :

“Jangan buang waktu untuk berdebat tentang seperti apa orang baik. Jadilah orang baik itu.”

Kita mendefinsikan siapa mereka – pengemis, tukang parkir 2000, pengamen jalanan, manusia silver, kenapa mereka bisa seperti itu ? yang jelas kita cukup mendefinisikan diri kita sebagai manusia yang memilih ‘tindakan yang baik’.

PANDANGAN DUNIA VS PANDANGAN UKHROWI

Ini bukan dikotomi dua orang yang  adu argumen antara seorang materialis dan seorang agamis. Poin nya jika kita memandang hanya dari urusan dunia saja maka kita cenderung berargumen bahwa kenapa ia melalukan hal tersebut, kenapa ia tidak bekerja, kenapa ia tidak belajar keterampilan, kenapa tidak memilih pekerjaan yang lain saja, yang berujung dalil tidak jadi memberi yang ada rasa tidak suka di hati, ini yang harus di hindari.

Kalo pandangan agama islam sendiri ya tinggal kita jalani saja dengan kesungguhan hati. Hal ini mengingatkan kita pada perkataan Ali bin Abi thalib yang dikutip oleh Syekh Sahrowi.

“tanda engkau ahli akhirat adalah engkau lebih bahagia ketika ada orang yang meminta pada mu dibanding orang yang memberi pada mu”

Hati nurani justru bisa lahir dari akal yang murni, akal yang sehat, dengan segala pertimbangan nya, justru hal itu mendorong pada solusi yang lebih membumi. Kita memang perlu memiliki empati, tapi harus hati-hati, jangan sampai ada orang yang memanfaatkan sisi kelemahan manusia dalam bentuk empati sehingga kita memberikan sesuatu tanpa mengukur kapasitas diri. Ini tidak hanya berlaku dalam konteks sosial, tapi biasanya terjadi pada individu.

Yang tidak kalah penting juga, Apakah ada motif seperti politik balas budi, atau agar mendapat timbal balik dari pemberian itu. Dalam kasus yang lebih khusus, misalkan ada orang tua yang sengaja memberi sesuatu kepada seorang guru agar mendapatkan perhatian khusus dari seorang guru baik dalam perhatian ataupun penilaian, ini bisa masuk ke dalam bentuk gratifikasi. Maka disitulah “rasionalitas dalam etika moral” perlu mendapat perhatian, bukan untuk dikaji dan dipikirkan, tetapi setidak nya kita bisa menempatkan pikiran dan hati kita bisa saling memposisikan diri pada keputusan-keputusan hidup yang kita ambil, terlebih menyangkut pada hajat hidup orang lain. Bukan pada keputusan atas perasaan sesaat dan juga pada akal dingin yang meniadakan empati.

 

Posting Komentar untuk "Logika memberi dan perasaan menerima"

🟒 WA
Insight

harap tunggu sebentar :)

☀️ 0%
πŸ”” Artikel selesai dibaca