Pernah ga sih, kita memberi sesuatu kepada pengemis, dan ada perasaan bahwa kita ‘merasa’ baik setelah menolong orang lain.
Kepada
pengamen terutama anak kecil, ntah karena kita peduli dan kita merasa iba. yang
jelas kita memberi karena sesuatu itu kita ‘anggap ‘ baik.
Ya kita
mengganggap itu baik, terlepas apakah itu tepat dan benar. Apakah yang kita
anggap baik menurut kita, itu juga akan selaman nya baik pada mereka. Dalam hal
ini ‘pengemis’.
Disclaimer
: kita wajib memberi pada mereka yang membutuhkan jika kita punya terlebih
memiliki kelebihan dalam hal harta, uang, ataupun kekuatan. Kajian agama dalam
hal ini islam tentu sangat menganjurkan dalam hal pemberian, terutama sedekah.
Back to
topik.
Pada satu
kasus tertentu misalkan, di depan pintu minimarket ada seorang bapak duduk sambil
menggendong anak nya lalu dipinggirnya ada mangkok tempat menaruh uang, secara
naluri kita akan merasa iba melihat anak kecil apalagi di tidurkan dilantai
dengan alas kardus. Siapa yang tidak iba ? kasihan melihat kondisi seperti itu.
Hal ini umumnya terjadi pada Masyarakat di perkotaan, yang problem social nya tampak
lebih banyak, bukan hanya soal kemiskinan tapi kondisi terlantar-hidup menjadi
gelandangan, dan seolah ini pemandangan biasa, karena banyak nya.
Masih
banyak kasus seperti
manusia silver, para pengamen jalanan yang tiba-tiba menodong kita saat kita
makan. Kadang ngerasa kasihan, kadang ngerasa risih, kenyamanan kita terganggu,
itu bagi saya. Apalagi gak punya uang receh, rasanya gak enak, paling2 saya
mohon maaf dengan isyarat tangan bahwa
saya tidak bisa memberi, setidaknya mereka tidak tersinggung.
Seringkali
ada pertanyaan yang menggantung dalam benak saya, apakah jika kita terus
membiarkan mereka diberi oleh kita itu tidak menjadikan mereka tergantung pada
pemberian kita dan orang lain.
Saya
mencoba mendiskusikan keresahan saya, pada orang2 yang bisa membuka cara
pandang saya terhadap kondisi tersebut.
Ada satu
jawaban yang menarik,
“ Ketika
kita memberi sesuatu kepada pengamen, pengemis, manusia silver, terlepas motif
nya apa, setidak nya saat memberi itu kita bisa memberikan Solusi jangka
pendek, seadanya sebagai bentuk pengakuan kita bahwa belum bisa memberikan Solusi
yang langsung menyelesaikan permasalahan mereka “ , karena permasalahan mereka
bisa bersifat structural.
Apa maksud
nya dari masalah yang bersifat struktural ?
Anggap aja
sumber masalah mereka itu karena tidak memiliki pekerjaan – bisa jadi karena
mereka tidak punya keterampilan, tidak punya pijakan Pendidikan, dan tidak
mendapat pekerjaan yang layak. Siapa yang harus nya ikut menyelesaikan masalah
mereka ? jika konteksnya sedikit nya lapangan pekerjaan padat karya maka
kewajiban pemerintah untuk membuka lapangan pekerjaan, jika minimnya Pendidikan
dan pelatihan, ya tugas pemerintah lagi. Hehe.
Lah ko
dikit-dikit salahin pemerintah. Maksudnya, siapapun yang diberi kuasa untuk
menanggung hajat hidup orang banyak maka dia diberi tanggung jawab untuk
berusaha mensejahterakannya, kekuasaan disini dalam konteks politik dan hirarki
organisasi ya orang-orang diatas sana, diatas Gedung DPR, Gedung Kementerian, Dinas
Sosial, Dinas Ketenagekerjaan, siapa saja yang ikut terlibat dalam bidang
social yang menyangkut kemiskinan dan pengangguran struktural.
Dan yang
bisa kita lakukan adalah memberi dengan ukuran yang bisa kita berikan. Mau
memberi dengan hati atau alasan logis, ya silakan saja. Selama tidak disertai
motif tersembunyi, seperti menjelang Pilpres tiba-tiba ada pencairan Bansos
yang ujung-ujung menjadikan masyarakat tak mampu menjadi bergantung dan harus
berterimakasih pada mereka yang memberi bansos. Padahal itu kan uang negara ya,
uang Bersama, dan uang dari pajak rakyat juga. Yang lebih parah lagi itu kan
hak mereka yang memang seharusnya didapat cuman waktu nya kadang disetting biar
lebih pas, suara alarm nya, ehh suara pemilihannya.
TINDAKAN
YANG BENAR & YANG BAIK
Ketika dihadapakan
pada situasi seperti apakah kita layak dan perlu memberi pada pengemis, mana Tindakan
yang perlu kita ambil ?
yang jelas saat
mereka meminta kepada kita ‘- sudah selayaknya kita memilih Tindakan yang baik.
Termasuk siapapun yang mencoba meminta tolong pada kita, menengadahkan
tangannya ke diri kita, barangkali mereka melihat diri kitab isa membantu nya, tanpa
pikir dan analisis Panjang sudah
sebaiknya kita beri jika memang punya. Mereka melihat kita sebagai bagian dari
Solusi, dengan cara memberi sesuatu yang kita miliki saat itu terlebih jika
mereka memang tampak susah, dan kita tahu Batasan kita dalam menyelesaikan
mereka hanya sampai disitu dan itu pun cukup.
Hal ini
sejalan dengan seorang yang memiliki pandangan jangka Panjang dalam urusan
akhirat nya. Disini kita masuk ke pembahasan agama, karena baik itu sesuatu
yang manusia ingin lakukan, dan agama memerintahkan itu. Pandangan jangka
Panjang pada akhirat menegaskan bahwa Ketika kita memberi , ya sudah berikan
saja tanpa ada prasangka apapun pada mereka, apalagi jika sudah terlaltih dalam
memberi (sedekah) itu lebih mudah, tanpa berpikir apakah itu akan Kembali
kebaikannya ke dia , yang pasti dia Ikhlas, letting go.
Jika kita mau
merenungkan perkataan marcus aurelius dalam meditations :
“Jangan buang waktu untuk berdebat tentang seperti apa
orang baik. Jadilah orang baik itu.”
Kita mendefinsikan siapa mereka – pengemis, tukang parkir
2000, pengamen jalanan, manusia silver, kenapa mereka bisa seperti itu ? yang
jelas kita cukup mendefinisikan diri kita sebagai manusia yang memilih
‘tindakan yang baik’.
PANDANGAN DUNIA VS PANDANGAN UKHROWI
Ini bukan dikotomi dua orang yang adu argumen antara seorang materialis dan
seorang agamis. Poin nya jika kita memandang hanya dari urusan dunia saja maka kita
cenderung berargumen bahwa kenapa ia melalukan hal tersebut, kenapa ia tidak
bekerja, kenapa ia tidak belajar keterampilan, kenapa tidak memilih pekerjaan
yang lain saja, yang berujung dalil tidak jadi memberi yang ada rasa tidak suka
di hati, ini yang harus di hindari.
Kalo pandangan agama islam sendiri ya tinggal kita jalani
saja dengan kesungguhan hati. Hal ini mengingatkan kita pada perkataan Ali bin
Abi thalib yang dikutip oleh Syekh Sahrowi.
“tanda engkau ahli akhirat adalah engkau lebih bahagia
ketika ada orang yang meminta pada mu dibanding orang yang memberi pada mu”
Hati nurani justru bisa lahir dari akal yang murni, akal
yang sehat, dengan segala pertimbangan nya, justru hal itu mendorong pada
solusi yang lebih membumi. Kita memang perlu memiliki empati, tapi harus
hati-hati, jangan sampai ada orang yang memanfaatkan sisi kelemahan manusia
dalam bentuk empati sehingga kita memberikan sesuatu tanpa mengukur kapasitas
diri. Ini tidak hanya berlaku dalam konteks sosial, tapi biasanya terjadi pada
individu.
Yang tidak kalah penting juga, Apakah ada motif seperti
politik balas budi, atau agar mendapat timbal balik dari pemberian itu. Dalam
kasus yang lebih khusus, misalkan ada orang tua yang sengaja memberi sesuatu
kepada seorang guru agar mendapatkan perhatian khusus dari seorang guru baik
dalam perhatian ataupun penilaian, ini bisa masuk ke dalam bentuk gratifikasi.
Maka disitulah “rasionalitas dalam etika moral” perlu mendapat perhatian, bukan
untuk dikaji dan dipikirkan, tetapi setidak nya kita bisa menempatkan pikiran
dan hati kita bisa saling memposisikan diri pada keputusan-keputusan hidup yang
kita ambil, terlebih menyangkut pada hajat hidup orang lain. Bukan pada
keputusan atas perasaan sesaat dan juga pada akal dingin yang meniadakan
empati.
Posting Komentar untuk "Logika memberi dan perasaan menerima"