Selamat Datang
Selamat Datang - Ruang kita Bercerita *** Selamat Datang - Ruang kita Bercerita

Perjalanan Pangandaran - Perjalanan melewati batas pikiran.

PERJALANAN PANGANDARAN – PERJALANAN MELEWATI BATAS-BATAS PIKIRAN

Hyper banget ya judul nya.

Tapi itu sesuatu yang memang berkesan, bukan hanya tentang perjalanan, melainkan bagaimana kita membawa diri pada satu tujuan, yang menurut saya itu harus berkesan saat menjalani nya.

Ini perjalanan kedua saya ke pangandaran dengan motor- istilah nya “touring”

Perjalanan pertama ? jangan tanya seru dan memorable nya, karena itu pertama kali saya nekat, benar-benar nekat hanya berdua dengan teman saya, modal uang 500 rb , ketangguhan beat ( iam so proud) , jujur motor itu angguh bahkan si beat ini menemani perjalanan skripsi saya.

Perjalanan pertama yang bukan hanya soal Bahagia nya saya, tapi bagaimana kami berdua melewati satu masalah -saat handphone teman saya dicuri di alun-alun kota bandung, kami seperti musafir  tidur di masjid, dan hal itu yang memang ingin saya rasakan. walaupun malam berikut nya saat pulang dari pangandaram kembali singgah di Bandung, kami berdua diusir Margot saat tidur di masjid raya Bandung.

Hal-hal berkesan seperti itu , tidak membuat saya kapok untuk perjalanan kedua- menuju Pantai terindah dan terbaik – di Jawa Barat. 

Bener-bener indah, wonderful Pangandaran pokok nya.

Saya (isur), beserta rekan lain – Pa Sandi, Pa Dedi, dan Pa arip. Begitulah dunia akademis formal – panggilan nya pak. Benar-benar ikut merasa tua juga saya hhe. It’s honorable but for me – is horror able.

Kebetulan waktu itu libur Panjang, dari hari sabtu sampai selasa. Karena nya mengambil keberangkatan hari sabtu pulang senin, dan hari minggu full day di Pantai Pangandaran plus bonus body rafting.

Untuk hal ini saya harus berterimakasih ke Pa dedi, selaku guide tour terbaik karena beliau orang Pangandaran , senang juga bisa ditunjukan tempat-tempat eksotis yang mana saat perjalanan pertama belum saya kunjungi.

Hari sabtu pun tiba, tanggal 10  mei 2025; kami berkumpul di Rumah pak Sandi.

Let’s go, kami berangkat pukul 09.30 melewati jalur Jonggol-Cariu-Cikalong, hingga kami melakukan istirahat pertama di Cikalong wetan. Suatu pertigaan di daerah Ciranjang. Kami berisitirahat disana sambil makan bakso Janda, plus ngopi-ngopi. Cuman lupa kepanjangan bakso janda itu apa, jadi bukan yang jual nya (mohon maaf -punten) Janda. Jujur saya suka momen seperti ini, sambil foto area nya, sambil mengamai lalu lalang kendaraan arah cianjur-bandung. Sekitar satu jam an kami rehat, mengisi energi perjalanan lagi menuju arah Bandung. 

kami pun lanjut lagi, menuju perbatasan jembatan cianjur - bandung yang ditandai ikon jembatan dan taman asmaul husna, saya inget waktu dulu sama sodara istirahat ditempat ini setelah pulang dari bandung, tepat nya Tangkuban Perahu. jembatan itu cukup panjang, hanya saja saya tidak bisa memotret dgn baik di jembatan itu, jd cukup bayangkan saja ya, karena dibawah nya itu sungai Citarum.

Kami terus bergerak melewati Padalarang (jadi inget klapanunggal ;), karena kawasan pertambangan batu kapur, jalan nya ngebul-berdebu, cuman ini cukup nanjak dengan pemandangan tebing karst yang cukup tinggi. sayangnya, jalan ini ramai dan macet terlebih di hari sabtu, bahkan sampai gerbang tol Cileunyi. kami memilih jalan Cimahi yang tembus pada jalan Soekarno-Hatta, yang membuat kami cukup menguras tenaga. bayangkan perjalanan dari pukul 12.30 wib dari salah satu SPBU dekat Samsat Kab. Bandung Barat sampai Nagreg tiba pukul 17.00 wib. benar-benar macet parahh. ini berbeda dengan perjalanan pertama saya dengan motor juga, karena waktu itu saya lewat Bale Endah. jadi bukan jalan protokol, memang begitulah jalan pahlawan identik dengan macet, semoga banyak orang yang memilih jalan menjadi pahlawan juga xixi.

Disini, kami beristirahat di Masjid sekaligus dekat rumah makan di daerah Nagreg, karena kondisi hujan dan perut lapar kami beristirahat 1 jam. sekaligus nostalgia perjalanan ke Pangandaran dulu waktu di Bus. seru juga ya kalo rame-rame dengan rekan kerja, kalo sudah kumpul di luar, have fun pokok nya, lupa dengan kerjaan, asal duit masih cukup wkwk.

Setelah Maghrib kami melanjutkan perjalanan lagi melalui jalur rute Nagreg-Malangbong-Banjar. kalau pemudik biasa menyebutnya Jalur Selatan, karena ditempat lain ada Jalur Pantura (Pantai Utara Jawa).

Tak menyangka, saya bisa melewatinya, karena secara pribadi saya belum hafal trek nya. bayangkan membawa motor dalam kondisi hujan deras dari Nagreg dengan jalan cukup terjal berkelok-kelok, saya harus benar-benar awas dan fokus, karena tidak bisa sembarangan menyalib dan minim penerangan jalan. sekitar 3 jam kami terus berjalan melewati jalan yang naik turun dan berkelok-kelok, saya dengan pa dedi dan Pa sandi with pa arip, colabs guru geo x IT dan duet guru Penjas hehe. 

Saya fokus sambil bertanya kepada guide lokal - yaitu pa dedi, tentang jalan-jalan bercabang terus nanti itu jalan arah nya kemana, sambil membayangkan rute peta di kepala saya, maklum guru geografi sedang melatih mind mapping juga kan. Jalanan nya  menurun, tepat nya di Daerah Ciawi (kab. Tasikmalaya), ada truk gabah terguling, dan itu menutupi jalan bagi mobil yang mau lewat persis di Turunan. Mobil dari arah Malongbong (garut) tidak bisa bergerak turun , untungnya jalan tersebut bercabang dua, persis kalo kita ke arah puncak pass menuju cianjur pas turunan Ciloto, tapi kalau yang ini cukup panjang jadi mobil tidak bisa balik arah terlebih posisis menurun mau tidak mau mereka harus menunggu adanya tim evakuasi.

Setelah kami bisa lewat, sepanjang jalan kehujanan, cukup pegal juga kami bergantian hingga kami sampai di alun-alun Ciamis. Malam Minggu disana, mencari tempat parkir sekitar pukul 9 malam, sayang nya cukup sepi, tidak seramai di Metland atau Coco Garden hehe, alun-alun rakyat klapanunggal itu mah. Seperti biasa yang kami cari adalah tempat ngopi, ga harus estetik yang penting ada bangku meja, gorengan, dan ada spot yang bisa di foto, tapi disini saya gak nemu, hanya alun-alun masjid raya ciamis yang luas dan mulai sepi.

sekitar 1 jam kami mendinginkan badan, walaupun hujan, kondisi tubuh yang terus duduk berjam-jam di motor tidak membuat otot dan saraf kaku. saya jadi membayangkan, kalo orang mudik ke arah jawa pakai motor lumayan juga ya, semangat para pejuang keluarga dan hari raya pokok nya, karena saya tidak punya saudara jauh.

Next, lanjut lagi. Gantian sekarang Pa Dedi yang bawa motor saya, tadi juga sebenarnya pa Dedi yang bawa motor, ganti-gantian kalo kami. tapi bagi saya bawa motor dalam kondisi gelap, hujan, dan jalan berkelok-kelok ditambah banyak mobil bus, sesuatu yang cukup deg deg an juga sih. ngerasa punya prestasi tersendiri aja gitu huhu. saya menyalakan kamera, untuk mengenang alun-alun ciamis, simbol say good bye, niatnya untuk bikin kompilasi video perjalanan walaupun kamera hape saya ga bagus kaya  iphone, ya minimal bisa ngeshoot wajah sendiri dan wajah alun-alun ciamis, motor terus bergerak perlahan, seperti layar yang berjalan bergerak dari kiri ke kanan layaknya klise film yang bergerak, saya arahkan kamera ke belakang motor kami , yaitu Pa sandi dan Pa arip, yang sadar kamera, dengan jas hujan dan latar jalan yang basah. 

Setelah itu kami berjalan dengan nuansa yang lebih gelap, dan mulai terang kembali melihat wajah kota Banjar yang lebih hidup dan ramai. jujur saya sangat suka memperhatikan wajah setiap kota yang saya lewati, terlebih nuansa malam nya, budaya warga yang menampilkan mimik wajah kota yang lebih jujur, hidup, dan perasaan malam yang lebih nyata. tentunya setiap kota memiliki ikon, alun-alun, gedung, dan tata ruang yang khas, disamping tempat-tempat terkenal dan estetis bagi pecinta kuliner dan suka berfoto. dalam hati saya menebak-nebak, apakah banjar ini sunda atau jawa, ia ada di Jawa Barat, yang pasti kota ini hidup dengan penduduk dan sejarah nya, seperti kota-kota lainnya yang juga punya cerita.

Setelah Banjar, kini semuanya lebih gelap, ya lebih gelap dibanding rute perjalanan saya dari Ciamis-Banjar. Kini semuanya perjalanan tanpa henti, Pa Dedi yang membawa motor, karena ia sudah hafal sebagai orang Pangandaran, saya ingin membuat video perjalanan hanya saja gelap, sedikit remang-remang persawahan yang luas terutama di sisi kiri saya tepat nya arah timur Ciamis, sebelah kanan saya bukit-bukit samar yang sedikit kontras dengan warna gelap langit. 

Terkihat rumah penduduk mulai jarang-jarang, sesekali muncul di selingi pematang sawah, tidak seramai jalan-jalan yang saya lalui. 

Nostalgia- saya jadi mengingat perjalanan dengan dua teman saya , tahun 2019 lalu. Melewati rute yang berbeda, memberi pengalaman yang berbeda. waktu itu sih lebih ke nekat, karena kami mengira bahwa jalanan itu bisa ditempuh dengan baik asal ada uang untuk bensin dan motor ganti oli. 

Waktu perjalanan pertama, saya mencari jalan alternatif dan yang lebih dekat. Waktu sudah sore khawatir kemalaman, ada satu hal yang tadinya saya banyak tertawa di jalan karena saking lucu dan gak ada ujung nya nih perjalanan, ada kecelakaan, dimana mobil vs motor , kalo digambarkan posisi motor itu menancap di kap mobil, bau gosong , dan pengendaranya masih di situ. Saya dan teman langsung terdiam, ngumpulin doa sebanyak-banyak nya biar selamat dalam perjalanan, intinya mode serius.

Jalanan gelap mulai menanjak lagi, saya sadar dari lamunan saya, motor masih bergerak dengan kecepatan yang cukup cepat, jalan yang benar-benar gelap. ini sudah memasuki area perbukitan lagi, kami menyentuh daerah selatan yang lebih bergelombang karena pegunungan,  bahkan - kata pa dedi didekat jalan ini kita bisa melihat pemandangan pantai, saya pikir ini sudah dekat terasa suasana pesisir yang lebuh hangat dan sedikit lengket.

Saya tarik nafas, ini pengalaman saya dengan motor melalui jalan ini, beberapa tahun lalu saya melewati jalan alternatif, membayangkan pengalaman dimana kami nyasar di persawahan garut, di gang-gang kecil kota Tasik, dan ban bacor di Pedalaman jalan Alternatif pangandaran, untungnya gak jauh dari tambal ban, disini saya gak mau suudzon, ketemu tukang tambal ban, saya lebih milih bersyukur daripada menduga-duga tukang tambal ban yang meletakan psku di jalan.

Bedanya sekarang saya melewati jalan utama Pangandaran saat malam hari, nuansanya lebih hening dan syahdu, dulu kami melewatinya sore hari dengan jalan alternatif menyaksikan  pematang sawah berlatar gunung dan sore yang sangat cerah dan benar-benar indah. Jalan mulai menurun, dan saya pun tiba dengan keramaian pangandaran, memasuki daerah pangandaran kini lebih ramai dengan anak-anak muda yang sedang berkumpul, di minimarket ada motor listrik yang terbakar, kami tidak berhenti hanya fokus dan cepat-cepat ingin sampai, tiba di tugu ikan yang tekenal ikon Pangandaran tapi kami tidak berhenti disini, hsnya bergumamm berapa lama lagi kami sampai di rumah pa Dedi ?

Setengah jam lagi, kami bergerak lurus, kembali sepi, karena ini sudah pukul 11 malam, dan sampailah kami di rumah Pak Dedi. saya bersyukur, akhirnya sampai juga. 

karena setelah ini petualangan baru akan di mulai.

Posting Komentar untuk "Perjalanan Pangandaran - Perjalanan melewati batas pikiran."

🟢 WA
Insight

harap tunggu sebentar :)

☀️ 0%
🔔 Artikel selesai dibaca