Status guru profesional pada praktik nya berat, saya merasa hanya 'mengajar' itu pun kadang belum maksimal. Awalnya saya ingin menjadi dosen karena suka diskusi pengetahuan, story, dan berbicara gagasan. Akhirnya takdir membawa hingga posisi ini, karena dalam proses nya ini pun keputusan hidup saya.
karena berstatus ASN dan Sertif , malu rasanya kalo tidak punya standar, prinsip, ataupun value mengajar yang profesional. karena itu saya berusaha belajar mengembangkan keterampilan dibidang pendidikan, siapa tahu bisa menjadi ahli terutama pada bidang yang saya minati, geografi.
Pandangan terhadap siswa
saya melihat siswa lebih dari selembar kertas, bukan juga robot yang hanya sekedar diberi tugas dan perintah agar sejalan dengan program yang kita buat.
Mereka- siswa merupakan manusia yang punya daya imajinasi, kemampuan memilih jalan hidup, dan minat yang mereka ingin kuasai. maka tugas saya hanya mampu mengarahkan mereka, bukan memaksakan kehendak agar selalu mengikuti saya, justru agar mereka bisa berpikir mandir dan menjadi manusia merdeka.
Karena hal itu saya senang dengan siswa yang suka membaca, aktif organisasi, dan kritis. bagi saya siswa tidak harus diukur menurut ukuran pengetahuan dan pengalaman hidup yang saya miliki, selama mereka mau belajar dan terus berkembang, mereka bisa melampaui pencapaian kita hari ini.
siswa yang mendapat nilai tinggi, juara lomba, masuk perguruan tinggi negeri, salah satu bentuk prestasi yang harus diakui. mereka yang memilih jalur prestasi berbeda, bisa menjadi pemimpin di komunitasnya, menjadi juara dibidang nya, itu pun menjadi nilai tambah dalam pandangan saya.
Nilai geografi mereka tidak harus diukur dari pengetahuan tetapi kemampuan keterampilan mereka dalam berproses di dunia nyata. mereka yang mampu pergi ke alam bebas, berdiri diatas puncak gunung, dan menjaga lingkungan dengan baik, itu pun suatu nilai keterampilan geografi yang harus dihargai.
Bagi saya pengetahuan itu penting, praktik dan pengalaman nyata juga penting, tak bisa dipisahkan. siswa tidak harus menghafal materi, siswa hanya perlu memahami konsep materi yang saya ajari, mengimajinasikan, memvisualisasikan, bahkan bisa menjelaskan kembali dalam kalimat sederhana itu pun kemajuan yang harus saya lihat. mereka belajar sendiri dengan cara nya, menulis catatan berdasarkan poin yang bisa mereka ingat, mengekspresikan pengetahuan dalam tulisan, konten, ataupun pembicaraan, itu pun suatu pencapaian.
bahkan saya respect sama siswa denga skill yang tidak saya miliki, tulisan tangan yang indah, bahasa inggris yang sangat baik, bisa menjadi MC diberbagai event, mampu membuat suatu program/koding, bisa membuat jurnal atau essai dengan logika tulisan tajam, bagi mereka itu hal biasa, tapi bagi saya itu luar biasa. i am so amaze 😊
kelas adalah ruang belajar
kelas merupakan ruang belajar dan harus enjoyful. tidak selalu diselingi dengan tawa, setidaknya bermakna. saya ingin memiliki siswa yang berpikir bukan sekedar menerima informasi begitu saja. kadang saya meminta anak-anak mengoreksi pernyataan saya, bahkan disesi akhir pelajaran saya tidak sekedar meminta siswa bertanya, tapi menambahkan informasi yang relevan. bisa saja apa yang disampaikan oleh mereka berharga, tidak terpikirkan oleh saya.
kelas merupakan ruang pertumbuhan, saya dan siswa sama-sama belajar, dalam konteks pengetahuan bisa saja kami setara, karena nya interaksi pembelajaran dan suasana kelas lebih terbuka terhadap gagasan, diskusi, atau sekedar bertemunya dunia kami, saya dan mereka.
kelas merupakan ruang inpirasi, karena disana saya memiliki visi agar mereka bisa lebih baik dari sebelumnya, mampu meregulasi diri, dan memantik pikiran mereka. saya berusaha melihat ke dalam mata mereka, saya ingin menemukan pandangan yang penuh antusias, hal tersebut membuka ruang pembelajaran yang bisa dibagi dengan mudah karena merasa terhubung.
Prinsip saya.
anak-anak harus memahami bahwa belajar itu sebenarnya asyik, jika mereka tahu bahwa naluri belajar itu ada pada diri manusia tergantung lingkungan yang membentuknya.
karenanya, saya tidak terlalu mempermasalahkan jika siswa tersebut belum bisa menguasai materi secara keseluruhan. kadang yang berharga dari waktu yang dilewatkan bersama adalah pengalaman nya, bukan tujuan nya.
saya tidak menoleransi bentuk kecurangan, kebohongan, dan kesalahan siswa jika itu melanggar hak orang lain seperti menyembunyikan barang bahkan mencuri nya.
pengetahuan tidak harus saya berikan semuanya kepada mereka, tapi jika ada yang berpotensi, cerdas, dan proaktif, maka saya siap menyediakan ruang khusus untuk diskusi, bertanya dan menggali ide, memberikan pengetahuan lebih dalam- bahkan jika akhirnya saya mendapat insight baru dari siswa tersebut.
Soal tertulis seperti ulangan harian dan ujian akhir semester merupakan alat untuk mengukur dan mengevaluasi keseluruhan materi, bukan untuk mereka, tapi umpan balik untuk saya juga. dengan hal tersebut membuat standar pemahaman seolah saya mengajak mereka berpikir, melihat potensi pikiran, dan ambisi dalam belajar, serta menyaring siswa dengan status diatas rata-rata. selain itu.
Penilaian penting lain nya, saat siswa melakukan presentasi merupakan kesempatan bagi saya untuk melihat potensi siswa dalam kemampuan berkomunikasi dan keterampilan berbicara. saat melihat buku catatan siswa yang penuh warna, gambar, tulisan rapi, saya melihat perasaan halus yang mengalir dari jiwa mereka, seperti guratan emosi yang mengalir melalui pena. saat mereka kerja kelompok apakah mereka proaktif, adaptif, dan memiliki kemampuan interpersonal dengan baik atau belum.
selain itu, biarlah siswa mengenalkan diri pada dunia dengan minat yang ditekuni, menunjukannya dengan prestasi.
selebihnya, saya tersentuh oleh siswa dengan akhlak yang baik. bukan saya saja, tapi orang dewasa yang melihat generasi penerus nya.
Posting Komentar untuk "Filosopi Pendidikan Saya"