Selamat Datang
Selamat Datang - Ruang kita Bercerita *** Selamat Datang - Ruang kita Bercerita

Think Again

Sunardi Isur · Pengajar
·
Melepaskan pemikiran yang tidak relevan.

    Belajar pada umumnya melibatkan proses penyerapan informasi ke dalam otak sehingga apa yang dipelajari menjadi suatu ingatan, jika proses itu lama akan mengendap pada pikiran bawah sadar.

    Proses tindakan seringkali dilakuan tanpa disadari, semua itu peran pikiran bawah sadar. gerak refleks, ketangkasan, ingatan tajam, keputusan cepat, semua itu proses cepat pikiran tanpa kita perlu memprosesnya dalam waktu lama. jika mengikuti istilah David Kaghneman dalam Think Fast and Slow, disebut sebagai otak cepat.

tapi, saya tidak sedang membahas buku itu..


Sumber Gambar : Gramedia.com

    Saya ingin membahas buku yang membuat kita berpikir ulang tentang apa yang sudah kita pelajari. buku ini menyinggung proses belajar dalam bentuk learn, unlearn, dan re-learn.

.....

Apa itu Learn, Unlearn, dan Relearn?

    Learn artinya proses belajar, diartikan proses mempelajari sesuatu yang baru, baik informasi, pengetahuan, pola, kegiatan, ataupun kebiasaan. 

    Unlearn artinya proses melepaskan, diartikan proses melepaskan pola pikir lama karena sudah tidak relevan dengan zaman. Konteksnya mencakup cara pandang, pola prilaku, dan pengetahuan yang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan pada waktu dan tempat nya.

    Relearn artinya proses mengulang, diartikan proses mempelajari ulang apa yang sudah dipelajari, apakah hal itu relevan atau tidak , sehingga mendorong pada pembelajaran dengan konteks sesuatu yang baru, sesuai, adaptif dengan zaman. relearn membawa kita pada perspektif baru terhadap hal-hal  yang baru ataupun belum kita kuasai. relearn mendorong pada sikap terbuka pada metode, aturan, pola, ataupun orang-orang yang baru kita temui.

Think Again, Kisah Pemadam Kebakaran

    Pada tahun 1949, Smokejumper sebagai tim pemadam kebakaaran elit yang bertugas menangani kebakaran hutan pada area terpencil dan sulit dijangkau. 

Sumber gambar : https://aetherapparel.com/

    Mereka bersiap melaksankan tugas nya mendarat di dekat puncak Ngrai Mann, Montana, Amerika Serikat. selain strategi, pemikiran taktikal dilapangan akan sangat banyak membantu bagi para petugas. sayangnya, kebakaran hutan yang disebabkan sambaran petir sehari sebelumnya cukup dahsyat, hingga tujuan mereka mengendalikan arah kebakaran berubah menjadi sesuatu yang mengancam balik mereka. semak belukar yang luas, api yang menjilat-jilat ke udara, dengan kondisi suhu bulan agustus yang panas, membuat api itu menjalar ke arah mereka. perlu diketahui tim tersebut terdiri dari 15 orang, dengan ketua nya Wagner Dodge.

    Secara naluri dan prosedural, ketika situasi tidak memungkinkan, maka pilihannya adalah mencari tempat yang lebih aman tanpa mengabaikan tujuan mereka kesini. mereka berlari berpacu dengan api yang merambat cepat ke arah mereka menuju puncak ngarai Mann. 

Tapi, apa yang dilakukan oleh ketua ?

    Dia mengeluarkan korek api untuk membakar area semak belukar disekitar nya, seperti membuat lingkaran dari api tempat ia berdiri. hingga ia berhasil membuat suatu area lingkaran khusus seperti lubang hitam dari badai api yang sangat besar. ia berharap rekan-rekan yang sedang berlari mengikuti apa yang dilakukannya, sayang nya mereka tidak terbiasa dengan cara seperti itu.

    Sang ketua mengeluarkan botol minuman melemparkan peralatan nya, membasahi sapu tangan nya dan menutup mulut selama 15 menit dengan sapu tangan yang basah. hingga kobaran api melalui nya, dan menuju rekan-rekan nya. hingga setelah sekian berlalu..

    Sebanyak 12 rekan nya tewas terlalap oleh api saat mereka berlari nyaris hampir sampai sejauh 200 meter mendekati puncak ngarai. sedangkan sang kapten, selamat dengan cara yang cukup gila, cara yang tidak terbayangkan sebelumnya oleh para Jumpsmoker. karena tak ada satupun dari para petugas itu yan sadar bahwa Doge sedang berstrategi untuk bertahan hidup.

Melepas Identitas dianggap kelemahan.

    Apa artinya petugas smokejumper tanpa peralatan yang dibawa nya ? apalagi disaat mereka harus melepaskan perlengkapan yang mereka bawa agar berlari lebih cepat menuju puncak ngarai ? jika peralatan yang mereka bawa dilepaskan begitu saja, seolah mereka bisa kehilangan identitas, tidak berarti apa-apa saat mereka menjalankan misi nya. seperti seorang petugas keamanan yang melepaskan senjata nya, karena itu cara ia mendefinisikan dirinya.

    Buku ini tidak hanya menyampaikan tentang makna "berpikir ulang" tapi juga memberikan pemahaman kepada diri kita untuk kembali memeriksa asumsi, optimisme, dan kepercayaan diri yang berlebihan bisa saja membawa kita pada jawaban yang keliru. 

    Apa jawaban umum saat kita dikejar-kejar api diantara semak belukar yang menjalar menuju ke arah kita ? tentu saja jawabannya, "lari menuju tempat yang aman" seperti petugas jumpsmoker yang gugur dalam misi nya. 

    Apakah tidak ada jawaban lain ? pasti ada jika situasi nya sudah tidak memungkinkan, jika peluang kobaran api lebih cepat dari lari nya para smokejumper menuju ngarai, berapa peluang akan selamat dengan peralatan yang cukup berat jika lokasi teraman itu tersisa 200 meter di depan mata. 

    Sayangnya, kita sudah terbiasa dengan pengetahuan lama yang kita dapatkan sebagai bekal dalam menyelesaikan persoalan sekalipun situasi nya sangat berbeda dilapangan. pengetahuan tentu menjadi kekuatan dan pengalaman menjadi pedoman. peralatan yang digunakan dalam misi adalah identitas yang harus dijaga karena itu suatu kehormatan dalam pekerjaan. 

    Pengetahuan, pengalaman, dan pemikiran yang sudah melekat dalam diri memengaruhi cara menemukan jawaban dari suatu persoalan. seperti naluri para smokejumper yang melakukan suatu tindakan secara prosedural dan tidak terbayangkan dalam benak mereka bahwa dengan membakar semak belukar diarea mereka dapat memotong makanan bagi api untuk membuka peluang yang lebih besar agar selamat.

Percayalah dengan bukti bukan asumsi.

   Seringkali pikiran dalam memberi penilaian atas sesuatu bercampur pada bias kognitif, bias keinginan, dan ketersediaan informasi.

    Mengubah pikiran bukan plin plan jika didukung informasi yang memadai. begitupun memikirkan sesuatu itu kembali ntah kebijakan, keputusan, ataupun jawaban bukanlah suatu kelemahan, justru itu kerendahan hati dan kebijaksanaan. 

    Seperti seorang ilmuwan, yang tidak khawatir menunjukan kesalahan nya dengan visi menemukan kebenaran yang objektif, justru hal tersebut menunjukan kualitas kompetensi dan sikap profesional yang dihargai. seringkali banyak 'orang' tetap ngotot dengan jawaban nya bahwa itu kebenaran sekalipun bukti menunjukan hal sebaliknya. pola pikir ini biasanya ditemukan dalam alam pikir si pengkhotbah, jaksa, dan politikus.

    Si Pengkhotbah cenderung berpikir bahwa apa yang ia percayai dan sampaikan itu selalu benar, Si Jaksa akan selalu menunjukan bahwa orang lain itu selalu bersalah, dan Politikus akan melihat bahwa sesuatu itu benar salah berdasarkan keuntungan diri nya.

    Kenyataan memang demikian, hanya sedikit yang mau bersikap seperti ilmuwan. Pemerintah yang banyak diisi oleh politisi saat membuat program - kebijakan selalu dilandasi berpikir bahwa mereka benar, si pengkritik dianggap benci, dan ketika program - kebijakan itu tidak memberi keuntungan yang besar bagi rakyat, pemerintah model ini tidak mau berpikir ulang atau setidak nya mengevaluasi kebijakan yang sudah dijalankan. 

    Satu hal lagi, kita juga perlu melihat secara objektif, bahwa keputusan dan jawaban kita bisa salah, asal tetap mau belajar. karena mata mudah tertipu dan pikiran pun bisa keliru, hehe.

Posting Komentar untuk "Think Again"

🟢 WA
Insight

harap tunggu sebentar :)

☀️ 0%
🔔 Artikel selesai dibaca