Apakah rasa cukup sama dengan kondisi nyaman? Mengejar materi, karir, ataupun mimpi bisa diartikan dengan merasa tidak cukup? Jika kita hidup dalam kondisi saat ini, dengan kondisi yang stagnan, apakah kita rela mengerahkan tenaga yang lebih besar untuk mendapatkan kenyamanan yang lebih baik lagi. Anggaplah kita memiliki pendapatan yang cukup dari gaji, lalu kita memiliki sisa pendapatan yang bisa digunakan untuk investasi membuka usaha baru? Siapkah menerima ketidaknyamanan dari kondisi rutinitas yang stabil berganti kondisi yang menuntut waktu lebih demi usaha baru?
Sikap syukur sering dipahami dengan menerima kondisi yang ada, jika tuhan memberi kita sesuatu maka itu wajib kita syukuri, no debat. Coba kita pikirkan bilamana kita melakukan usaha lebih pada sesuatu yang bisa kita tingkatkan hasilnya bisa jadi rasa syukur kita akan lebih besar lagi. Rasa syukur bukanlah sikap pasif, ia proaktif mengubah nikmat pemberian tuhan, hasil yang kita dapat, diubah menjadi modal lain agar bisa menerima yang lebih banyak. Ini hanya soal pilihan, bukan kewajiban individu, setiap orang memiliki visi dan misi hidup yang berbeda bahkan situasi hidup yang berbeda.
Kondisi badan sehat, pikiran jernih, dan suasana hati yang baik merupakan kondisi awal yang melekat pada manusia. Modal tersebut bisa digunakan untuk mengusahakan kebutuhan yang lebih tinggi, sehingga badan sehat lebih bugar, pikiran jernih dan berwawasan, dan suasana hati yang baik dan bahagia. Jika kita mengartikan hal itu sebagai sebuah tujuan dari kehidupan, maka bisa berhenti pada rasa cukup dan sikap syukur yang pasif.
Mengapa kita tidak meningkatkan pendapatan kita dengan tujuan agar bisa membantu orang lain, mengapa kita tidak meningkatkan kapasitas otak kita sehingga tercipta skill yang bisa membantu kehidupan masyarakat, dan mengapa kita hanya mementingkan kebahagiaan diri sendiri, sehingga dengan kekuatan jiwa yang stabil dan matang kita bisa menyikapi persoalan dan terus mencari solusi atas masalah-masalah hajat hidup orang banyak?.
Seorang pelajar yang tidak memiliki ambisi juara, prestasi akademik, dan cita-cita maka ia hanya akan menghabiskan waktu sekedar menikmati hidup tanpa sesuatu yang lebih berarti. Seringkali ia menghibur diri dengan alasan-alasan bahwa ia ingin hidup tenang, tanpa mengorbankan waktu istirahat, ataupun kehilangan momen bersama teman-teman. Seorang memilih pekerjaan harian seperti jadi juru tukang parkir, jasa ketik, ataupun dagang kecil-kecilan (bukan berarti pekerjaan tersebut rendahan). Karena seorang itu terbiasa mendapatkan uang harian yang lebih besar dibanding harus bekerja di pabrik padahal ada tawaran kerja di pabrik, ia menolaknya dengan alasan ia tidak suka dengan aturan ketat dan tidak bisa mengatur waktu sesuka hati nya.
Kemudian anggaplah seseorang itu mahir dalam suatu hal, ia hanya merasa cukup dengan keahlian yang dimilikinya, ia memilih bekerja sebagai freelance (tentu ini pilihan), terbiasa mendapat banyak orderan, kemudian ada tawaran perusahaan hanya saja ia menolak lebih suka bekerja secara mandiri, ia berpikir bahwa pekerjaan tersebut akan selalu mencukupi kebutuhannya karena melihat kondisi ekonomi diri saat ini yang stabil. Namun setelah beberapa waktu berlalu hingga beberapa tahun kemudian penghasilan itu tidak cukup menutupi biaya kebutuhan yang meningkat apalagi jika sudah berumah tangga. Tentu ini bukan hanya pada pekerjaan freelance, justru terjadi pada pekerjaan yang bersifat tetap, seperti PNS dan Karyawan tetap. Tentu kembali kepada sikap rasa cukup itu sendiri, dengan privilege yang ada, setidaknya itu tidak membuat buntu pikiran, itulah kenapa pengusaha lebih waspada dengan strategi bisnis karena selalu melihat ketidakpastian akan masa depan sementara mereka yang bekerja dengan kondisi stabil harus merasa terguncang secara emosional ketika berhadapan dengan PHK ataupun masa pensiun.
Ambisi dalam hidup tidak selalu diartikan serakah, ambisi dalam hidup sebagai sumber kekuatan yang mendorong manusia agar bisa sampai kepada batas maksimal. Tanpa ambisi, seorang olahragawan hanya terjebak pada rutinitas latihan tanpa berhasil menjadi atlet yang mendapat predikat juara. Tanpa ambisi seorang pelajar hanya sekedar masuk kelas dan menyelesaikan tugas-tugas. Tanpa ambisi seorang pekerja hanya menjalankan rutinitas pergi dan pulang absensi sambil menunggu waktunya mendapat gaji. Karena dengan ambisi kita tidak sekedar lewat, sekedar hadir, sekedar menyelesaikan rutinitas. Seorang pemimpin tanpa ambisi hanya mengambil status tanpa ada visi yang berarti pada perbaikan masyarakat. Lihatlah ambisi seorang pemuda yang menaklukan konstantinopel, dengan nya ia bertekad bahwa seringkali batasan pikiran mampu dilewati dengan ambisi, tekad, dan kesungguhan. Nothing possible, because Allah.
Ambisi untuk melakuan hal-hal yang baik bahkan meningkatkan level kebaikan itu sendiri sebagai bentuk dari menjalankan syukur bukan sekedar ucapan syukur atas nikmat yang dimiliki.
Posting Komentar untuk "Kekuatan Ambisi"