Apa yang tidak diketahui orang lain dari mu adalah apa yang tidak bisa orang lain ambil juga dari mu. Hari ini kita melihat bahwa ruang media sosial dipenuhi oleh pertunjukan pencapaian dalam hal karir, pendidikan, dan material. Media sosial bukan hanya sarana mencari hiburan, tapi sarana aktualisasi dengan konten motivasi dan pengembangan diri.
Konten-konten motivasi menjadi konsumsi agar orang-orang melakukan proses yang serupa meskipun kondisi individu berbeda. Seorang yang sukses di dunia saham akan mengajak orang lain dengan cara membuka kelas, agar orang-orang terinpirasi sukses dan cepat cuan. Beberapa konten kreator menunjukan bahwa kalau kita tidak menunjukan proses nya, sesuatu yang kita lakukan, kita tidak akan dikenali. Tagline “tampilkan dirimu didepan kamera untuk membangun citra diri”. Rasanya terbalik, orang-orang ingin dikenali dari layar handphone sementara ia tidak dikenali di dunia nyata. Orang-orang hanya terhibur ego nya dengan konten hiburan receh dari orang-orang yang pengen cepat viral.
Sorotan menjadi suatu bentuk aktualisasi individu untuk dilihat dan apresiasi. Kata “eksis” kini tidak bermakna hadirnya individu di masyarakat. Lebih tepatnya “narsis” membuat individu lebih gemar tampil di depan kamera demi pengakuan sosial. Star syndrome, perasaan aku hebat, dan rasa overconfident bisa menjadi semacam kerentanan mental hingga berbuah tekanan sosial. Tidak sedikit influencer ataupun konten kreator yang awalnya mendapat pujian terus menerus lalu melakukan suatu kesalahan menjadi cepat jatuh. Seorang invidu yang terus menerus aktif mempublikasi setiap aktivitas diri nya di rumah, di pekerjaan, sangat rentan dengan sikap perfeksionis. Citra diri atau personal branding yang dibangun melalui kurasi foto dan framing media hanya memberi makan ego untuk selalu tampil serba baik. Dibalik layar, kerentanan, frustasi, dan kelelahan mental bisa menghambat proses pengembangan diri secara layak.
Jika itu dilakukan artis, influenser, selebgram, aktor, akademisi, dan CEO rintisan mungkin sebagai bentuk dukungan terhadap audiens dan komunikasi intens dalam menyapa penggemar. Namun seringkali anak-anak muda yang pengikutnya tidak sebanyak diatas, cenderung tampil berlebihan, berbicara tinggi seolah sudah berada di fase pemilik saham industri bonafit, berkoar-koar tentang cara mengajari hidup yang baik, membuat rules dan habbit yang tidak terlalu fundamental bagi setiap orang, seperti anda harus berlari 10 km setiap minggu, atau anda harus melakukan “praktik baik” - something to do agar uang bisa bekerja untuk anda, dan sebagai nya. Parahnya lagi, banyak anak-anak muda yang melakukan investasi bodong pada sesuatu yang tidak dipahami nya.
Jika seorang konten kreator mengajarkan anda untuk eksis di depan kamera, jika itu tidak sesuai prinsip anda maka jangan lakukan, namun jika menurut anda itu baik sampai tertantang silakan lakukan, tanpa mengorbankan nilai dan moral anda. Berbicara bahasa inggris di depan kamera lalu dipublikasi dan diposting di media sosial berpeluang cepat viral kalau tujuan nya untuk popularitas. Namun mempelajari skill bahasa asing, untuk tujuan lain seperti pengembangan soft skill, studi lanjutan, karir pekerjaan, maka lakuan dalam sunyi. Melakukan sesuatu dalam diam lalu terlihat hasil nya beberapa waktu kemudian akan terlihat lebih nyaring dibandingkan selalu membicarakan sesuatu yang kita sendiri tidak pernah lakukan. Nasehat untuk diri sendiri adalah lakukan apa yang diucapkan. Result more louder than speaks.
Setiap orang punya rencana, mimpi, dan target hidup. Maka sembunyikan proses nya, tampilkan saja sekedarnya jika itu perlu, jika kita bukan artis, selebgram ataupun CEO maka berproses dalam diam cenderung lebih indah, jika pun gagal kita tidak akan merasa malu, jika pun terus berlanjut dan lancar orang tidak akan iri, karena apa yang benar-benar kita mau cukup kita yang tahu, apa yang menjadi rencana buatlah tetap rahasia, karena orang-orang tidak akan cemburu dan mengharapkan kegagalan saat ketidakberpihakan nya pada kita.
Posting Komentar untuk "Rahasia mu adalah Senjata mu"