Selamat Datang
Selamat Datang - Ruang Kita Bercerita *** Selamat Datang - Ruang Kita Bercerita

Apa Yang Membuat Kita Gagal ?

Sunardi Isur · Pengajar ☕
·
apa yang membuat kita gagal naik level, mengapa kita masih berada ditempat yang sama, dengan level yang sama

    Biasanya lebih banyak muncul pertanyaan "Cara-cara yang membuat berhasil?" daripada  "Apa yang membuat kita selalu gagal?"

    Apa yang membuat kita gagal naik level, mengapa kita masih berada ditempat yang sama, dengan level yang sama, padahal teori, pengetahuan, dan informasi yang kita miliki untuk hidup naik level sudah diperoleh.Kkegagalan dalam hidup bukan tidak tercapainya tujuan hidup yang lebih tinggi, tetapi terpenuhinya standar kesenangan hidup yang lebih rendah.

    Mengapa beberapa orang bisa mencapai level hidup yang dianggap baik? dilihat dari prestasi, karir, portofolio, ataupun kompetensi dengan level lebih baik. saya percaya awalnya mereka belajar, latihan, dan konsisten membangun kebiasaan tersebut. Menurut Atomic Habits, kebiasaan yang baik dan konsisten apabila dijalankan terus-menerus itu akan membawa kita pada sasaran yang tepat.

Kembali, ke pertanyaan awal?

Apa yang Membuat Kita Gagal ?

    Sudah diri kita memenuhi target harian atau mencapai tujuan yang ditetapkan, seperti melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masa depan dan/atau sesuatu yang membuat kita merasa positif. Seharusnya bisa melampaui dari versi diri sebelumnya asal bisa beranjak dari "Zona Kesenangan Sesaat" yang menjadi sebab tertundanya dalam melakukan perbaikan dalam hidup.

    Terkadang satu langkah kebiasaan kecil membawa efek berantai pada kebiasaan harian. Saya menyadari bahwa minum kopi saat malam hari itu nikmat, tapi membuat sulit tidur dapat mengganggu jam istirahat sehingga keesokan harinya menjadi tidak nikmat. Bermain game dan berlama-lama media sosial juga memberi hiburan kecil namun itu dapat membatalkan momentum besar pada apa-apa yang harusnya bisa lakukan untuk hal yang lebih produktif.

    Seharusnya kita membuat kebiasaan itu terencana, terarah, dan terevaluasi sehingga dapat dilacak kebiasaan mana yang memberi efek rantai positf dan apa yang memberi efek negatif. Kebiasaan membawa pada satu kebiasaan lainnya, meskipun ada aktivitas-aktivitas tak terencana, namun seringkali apa yang membuat kita lebih dekat kepada keberhasilan adalah latihan-latihan kecil, baik itu dalam membentuk pengetahuan, sikap, dan juga tindakan yang selaras dengan target hidup yang ingin dicapai. Kita lebih sering membohongi diri sendiri untuk visi jangka panjang atau tujuan yang lebih besar hanya karena ketikmampuan diri mengelola tujuan jangka pendek. Kita menginginkan sesuatu namun tindakan kita berseberangan dengan sesuatu tersebut. Ingin sehat, namun gaya hidup tidak sehat. Ingin berhasil, namun belajar pun tidak mau. Sebuah gambaran dari tindakan yang berbicara dibandingkan kata-kata keinginan seperti angin yang berlalu.

    Jika ingin membangun rumah impian dan membeli mobil favorit, itu bisa dilakukan asal ada sesuatu yang dikorbankan. Membeli sesuatu yang besar dalam waktu lama maka harus ada pengorbanan atas biaya-biaya tak penting dalam kehidupan. Biaya tersebut bisa dalam bentuk materi ataupun waktu yang dipilih smenjadi prioritas dalam kehidupan.

    Seseorang yang berambisi juara kompetisi maka ia fokus untuk latihan dan mengurangi waktu bermain. Begitupun mereka yang ingin berprestasi, masuk perguruan tinggi negeri (PTN), PNS, ataupun menguasai bidang-bidang tertentu, pasti ada waktu yang dikorbankan untuk belajar karena komitmen pada tercapainya keberhasilan dimasa depan. Sayangya, alih-alih berprogres dengan segenap langkah yang ada untuk memproyeksi keberhasilan masa depan, seringkali kita gagal karena ada hambatan-hambatan yang menjadikan keberhasilan itu terasa khayalan. 

    Jadi ada hal-hal yang harus dikorbankan, karena dunia yang kita anggap tidak adil adalah dunia yang kita ikut kerjakan melalui pilihan-pilihan dalam hidup. Sebenarnya lebih kepada komitmen daripada sekedar memilih apa yang ingin dilakukan dalam hidup. Mereka yang kuat komitmennya untuk bangun malam tahajud maka akan mengurangi waktu bergadang, waktu bergadang ini biasanya dihindari kareana penghambat tidur cepat, seperti minum kopi atau ngobrol malam tanpa faedah. Begitupun seseorang yang ingin membeli sesuatu yang berharga maka ia berkomitmen untuk menabung atau menambah nilai dari keahlian sehingga lebih banyak pemasukan, daripada melakukan pengeluaran-pengeluaran kecil yang tidak berarti.

    Sayangnya, kita selalu terlambat menyadari dan mulai menyalahkan keadaan pada satu waktu hanya karena keberuntungan dalam hidup tidak berpihak pada kita, padahal sebelum keberhasilan dan kegagalan yang kita rasakan bagian dari pilihan-pilihan hidup yang kita usahakan, pilihan itu tidak sebatas usaha, tapi juga doa, pola pikir, dan relasi sehat yang kita bangun untuk memperluas dukungan bagi keberhasilan kita.

   Maka, apa yang membuat kita tidak bergerak menuju dekatnya keberhasilan bisa jadi bukan karena banyaknya syarat yang harus dipenuhi demi tercapainya, melainkan karena adanya pola pikir kita yang lebih berkomitmen pada kepuasan-kepuasan hidup sementara, sehingga kita tidak melangkah lebih jauh karena terlanjur nyaman dengan kebiasaan-kebiasaan yang berefek tidak baik pada masa depan.

Posting Komentar untuk "Apa Yang Membuat Kita Gagal ?"

🟢 WA
Insight

harap tunggu sebentar :)

☀️ 0%
🔔 Artikel selesai dibaca