Apakah sedang jatuh cinta atau membangun cinta?.
Disclaimer : tulisan ini opini pribadi, jadi tulisan ini bersifat subjektif.
Kalo subjektif itu kan berarti cara individu itu menilai, merasa, dan menimbang suatu hal atas motif pribadi baik itu kenyamanan, kepentingan, ataupun perasaan.
Nahh ngomong-ngomong soal perasaan nih, pernah ga sih merasakan sesuatu yang ga bisa digambarkan tapi hanya bisa dirasa, dibayangkan, atau diluapkan. lebay banget ya..
Ets, memang begitulah dinamika perasaan manusia yang fluktuatif, duh bahasannya udah kaya investasi saham. naik turun, kadang untung kadang buntung. Namun yang dibahas bukan transaksi ekonomi yaa, tapi transaksi hati, wkwk.
Kalo soal cinta sepertinya banyak ahli yang bisa menafsirkan kedalam berbagai bentuk seperti ekspresi, perilaku, atau sebuah karya. Para ahli ini biasanya mengekspresikan cinta kedalam berbagai bentuk seperti puisi, tari, drama, novel, lagu, dan musik. Hal tersebut gambaran cinta yang masih umum ya, cinta kan bisa berbagai macam tapi manusia memiliki cinta atau ketertarikan pada lawan jenis. ingat lawan jenis, kalo ada yang sesama jenis, plis ingetin aja pakai pedang umar bin khattab ra.
Oke, oke.
Jika ada cinta, maka ada ketertarikan?
Emang bedanya apa sihh, sebenarnya secara makna hampir sama seperti rasa suka itu sendiri, dua individu yang tertarik bahkan terikat hati yang berusaha menjalin hubungan atas dorongan hasrat. Dorongan hasrat tersebut baik karena biologis, ideologis, ataupun spiritual. Ketertarikan seperti bisa karena berbagai faktor seperti status sosial, keindahan fisik, kesamaan hobi dan visi, serta adanya tujuan bersama seperti keturunan ataupun politik. Misal motif politik tuhh - kisah pernikahan Raja Aragon dan Ratu Isabell, zaman Andalusia dulu. masing inget ga ? kalo nggak sama. Pernikahan dengan tujuan menyatukan wilayah spanyol atau reconquista.
Cinta, Suka, dan Ketertarikan
` Cinta pada dasarnya mencakup perasaan bahagia dan bermakna untuk memberikan sesuatu yang berarti kepada yang dituju baik kepada manusia, alam, dan Tuhan. Biasanya ditandai dengan adanya keinginan untuk berkorban, merelakan waktu, dan semangat untuk melakukan sesuatu karena ada kebahagiaan terhadap objek tujuan. Sampai sini paham ga, ini terlalu filosopis banget, hehe.
Kalau dicek dalam KBBI arti cinta adalah perasaan suka sekali, sayang benar, kasih sekali, terpikat, atau rindu. Cinta juga bermakna hasrat yang mendalam, khawatir, dan risau. Kata ini mencakup makna kasih sayang, hubungan romantis, serta harapan atau keinginan yang kuat terhadap sesuatu. begitu yaa..
Suka bermakna penilaian selera pribadi atas sesuatu, biasanya karena mampu memenuhi identitas diri dan kepuasan jiwa jika melakukan atau memperoleh sesuatu. Suka terhadap pemandangan yang bagus akan mendorong untuk jalan-jalan, suka dengan makanan akan mendorong untuk membeli atau membuat nya, suka dengan hari libur atau tanggal merah - yaelah semua orang juga suka kalee, hehe.
suka dengan seseorang (someone) akan mendorong pada keinginan untuk memiliki nya dengan cara yang dia bisa karena menimbulkan sensasi senang, euforia, atau kepuasan rasa.
Ketertarikan berarti dorongan hati untuk lebih dekat terhadap objek yang diamati. Ketertarikan yang kuat akan mendorong perasaan yang menggebu-gebu untuk segera memiliki sesuatu. Ketertarikan hampir mirip dengan keinginan, tetapi ketertarikan ini biasanya karena ada kesesuaian kriteria, minat, sikap pikiran dan hati. Ketertarikan bisa mendorong hati menjadi motif bagi seseorang untuk melakukan tindakan tertentu yang selaras dengan tujuan.
Secara sederhana, jika menggunakan analogi, perbedaan cinta dan suka :
"yang menyukai bunga akan memetiknya dan yang mencintai bunga akan menyiraminya" - sedangkan ketertarikan bisa terjadi diantara keduanya, karena ketertarikan berkaitan dengan sikap batin maka hanya bergantung pada tingkat semangat jiwa apakah kuat atau lemah. semoga paham.
Aku Jatuh Cinta?
Benarkah demikian, atau hanya perasaan sesaat yang kebetulah menggebu-gebu. Seperti perasaan euforia, senang, fantasi, bercampur rasa gelisah karena takut kehilangan dan keinginan untuk selalu dekat dengan yang dicintai, itu kah rasa dari 'Jatuh Cinta ?"
Bukan kah yang namanya "jatuh" itu ada sakit ya?, lalu bertahan dengan perasaan bahwa hal tersebut bisa bertahan lama. Seringkali ilusi dan fantasi bahkan dangerous desire (hasrat berbahaya) mendorong untuk melakukan sesuatu yang mengalahkan akal sehat. Lihat saja orang kalau jatuh cinta pasti rela melakukan apa saja demi yang dicintai. Pada konteks laki-laki dan perempuan, jatuh cinta seringkali terjadi hanya saja intensitas dan dayanya apakah lebih besar pada laki-laki atau pun perempuan. Bentuk jatuh cinta laki-laki dan perempuan bergantung pada prinsip, status, moral, dan budaya. Semuanya ketika jatuh cinta, akan rela berkorban. Sekalipun rela berkorban terjadi melampaui nalar (akal sehat).
Jatuh cinta itu lebih banyak galau atau tenang? apakah itu perasaan yang terkendali atau justru merusak kehidupan pribadi. Kenapa harus merasa sakit dulu, kecewa, rasa lelah hati, atau ketidaktenangan untuk menerima cinta atau mendapatkan. Bukankah cinta itu sesuatu yang berharga bisa membuat orang bahagia, ntah kenapa lebih banyak memberikan luka, sedih, kecewa, dan lelah. Lebih banyak pengorbanan dibandingkan manfaat yang didapat. Ehh itu mah cinta transaksional dong, tapi coba dehh kalo ada orang jatuh cinta terus rela ngasih apa saja tapi cinta nya ditolak, sakit ngga? kecewa ngga? secara etika harusnya ada penerimaan, tapi urusan rasa itu ga bisa disogok dengan hadiah. Maksudnya apa nih, jadi .....
Kita suka melihat ada orang yang berkorban untuk yang dicintai seperti memberi hadiah, antar jemput kaya tukang ojek, ataupun bikin candi semalam. But just kidding, tapi fakta dan cerita seperti memang ada saja realitanya. Pihak yang berkorban, memberi sesuatu itu seperti kewajiban yang harus dijalankan. Selalu ada harapan adanya timbal-balik dari si penerima, ya terkesan transaksional gitu. Bener ga sihh? seperti adanya hutang budi yang tersembunyi, mencoba menarik sesuatu seperti "hal berharga" yang bisa diberikan dalam wujud hadiah, waktu, atau biaya lain demi mendapat cinta yang sama besarnya dari si penerima.
Lalu apa yang terjadi? jika memang diterima maka harapan dapat terpenuhi dengan sempurna. Jika pun tidak, maka hal ini bergantung kondisi - apakah kecewa, frustasi, atau hal-hal emosional belaka. Jjadi hati-hati ya, kalo jatuh cinta. inget jatuh itu sakit, harus siap menerima luka.
Kenapa tidak "Bangun Cinta ?"
Istilah ini ga populer, agak aneh juga, "aku bangun cinta pada-mu" kurang sreg aja gitu dengernya. Coba diganti jadi "aku bangun candi untuk-mu" nahh itu lebih oke kalimatnya π, walaupun harus Bandung Bondowoso yang mengucapkan nya, hehe.
Oke ini serius.
Cinta itu kan sesuatu yang baik sebenarnya, membuat hari-hari terasa berarti, indah, dan layak untuk dijalani. Mengapa harus merusak cinta itu dengan cara pandang yang keliru, bahkan dengan sikap obsesi berlebihan dan sangat berbahaya bagi kedua nya - terutama jika muncul sikap posesif. Seringkali emosi mendahului logika, jika emosi tenang maka logika bisa dipakai untuk menjalani cinta yang lebih tenang, dewasa, dan matang. Setidaknya bukan untuk sempurna, tapi agar lebih siap menerima hal tak terduga.
Bangun cinta berbeda dengan jatuh cinta, keduanya menuntut pada konsekuensi tindakan yang berbeda. Jatuh cinta pun baik, apalagi jika membangun cinta itu sendiri. Hubungan dua lawan jenis yang didasarkan pada pemahaman yang baik dan utuh tentang cinta, bahwa cinta sebagai sesuatu yang berharga dan bermakna. Maka, harus dijaga dengan cara yang baik dan benar. Cinta tidak diperoleh dengan trik manipulasi emosi, kontrol kekuasaan, mesin pemikat rasa, ataupun tindakan yang tak pantas sehingga lebih mengarah pada sifat erotis, sensual, dan posesif.
Biarkan cinta itu tumbuh perlahan seperti akar yang menguatkan pondasi suatu hubungan baik karena kesamaan minat, hobi, cara berpikir, ataupun kesamaan visi dan misi. Ampuun udah kaya mau nyalon Pilkada.
Hal-hal tersebut tampak tak lazim, logika umum mengatakan bahwa cinta itu gak harus pakai logika. Cinta yang emosional, menggebu-gebu, atau pun letupan besar biasanya nilai rasanya semakin berkurang seiring waktu tanpa ada resonansi batin yang terbentuk atas dasar kesamaan nilai dan pandangan hidup yang sejalan. Jika cinta hanya datang pada ketertarikan fisik semata maka akan selalu ada yang lebih baik, namun jika cinta itu tumbuh karena alasan nilai yang lebih tinggi seperti nilai, prinsip, dan visi hidup maka akan menciptakan ruang emosianal yang lebih stabil.
Nilai, prinsip, dan vsi hidup seperti karakter yang layak dan stabil sehingga cinta itu tidak mudah jatuh, tapi terbangun. Bangun cinta sama dengan meningkatkan kualitas diri agar terlihat layak bukan sekedar fokus menarik perhatian lawan jenis. Jika pun mendapat pasangan maka kualitas diri sudah terbangun dengan baik, jika pun tidak maka hidup tetap utuh untuk dijalani tanpa bergantung pada seseorang sebagai sumber makna kehidupan.
Jika menjalin hubungan diartikan sebagai pernikahan, maka cinta yang terbangun biasanya sudah lebih kokoh karena mamahami bahwa cinta bukan sekedar dunia miliki berdua, tapi memiliki ilmu, finansial, mental, dan kondisi sarana yang cukup meski bukan mewah.
Jika ada cinta yang lain, maka pilihlah "Hubungan Platonik ", apa itu? nanti kita bahas yaa.
Jadi..,
Begitulah jika melihat cinta sebagai sesuatu yang lebih objektif, bukan sekedar suka atau tidak suka, tapi apakah ini baik atau tidak bagi kehidupan yang dijalani. Keindahan romansa cinta hanya ada dalam adegan film, sedangkan didunia nyata adegan cinta harus berurusan dengan ekonomi, politik, sosial-budaya, dan rezim. uppss.✌
Posting Komentar untuk "Jatuh Cinta atau Bangun Cinta ?"