Selamat Datang
Selamat Datang - Ruang kita Bercerita *** Selamat Datang - Ruang kita Bercerita

Makna yang mempersempit pikiran

Sunardi Isur · Pengajar☕
·
Ketika ayat al-quran dijadikan dalil ketidakmampuan manusia menembus ruang angkasa.

NASA baru saja meluncurkan roket dengan misi Artemis II agar bisa sampai di orbit bulan beserta 4 awak. Informasi tersebut menjadi trending topik baik di media sosial. Media sosial menjadi tempat berbagi informasi dan opini. Maka banyak ditemukan pada kolom komentar sejauh mana atensi masyarakat atas dunia ilmu pengetahuan terutama bidang astronomi

Peluncuran misi Apollo 11 yang digagas NASA pada tahun 1960 an, dengan awak Neil Armstrong, Edwin Adnril, dan Phil Collins, memberikan satu gagasan besar tentang perkembangan ilmu pengetahuan. Pencapaian tersebut menjawab khayalan manusia ratusan tahun lalu, ketika perjalanan terbang melintasi udara hingga angkasa tampak seperti dunia sihir, hanya terjadi dalam imajinasi manusia pada masanya. Kini manusia telah mendaratkan diri di bulan - satelit bumi satu-satu nya yang muncul di langit malam terutama saat fase purnama. Pendaratan Apollo 11 membuat manusia ikut takjub dan bangga di seluruh dunia atas satu pencapaian terpenting dalam sejarah. Sebagaimana yang dinyatakan Neil Armstrong, bahwa satu lompatan kecil di bulan satu lompatan besar bagi umat manusia.

Semua bermula dari perang dingin

Ada bentuk ketidakpercayaan atas misi tersebut, hal ini berkaitan dengan  dinamika perang dingin saat Uni Soviet mampu mengorbitkan manusia pertama di bulan, yaitu Yuri Gargarin. Amerika Serikat tidak tinggal diam, mereka meluncurkan misi Apollo 1 hingga 13, namun paling dikenal ialah misi Apollo 11. Sebuah misi dengan pendaratan manusia pertama di bulan. 

Sayangnya, Prestasi tersebut tidak selalu berada dalam kebanggaan warga amerika bahkan dunia, justru mengundang perdebatan bagi sebagian kalangan yang skeptis tentang "pendaratan manusia pertama di bulan tersebut". Beberapa hal dianggap janggal, bahkan warga Amerika Serikat sendiri menulis buku khusus  seperti We Ne Went to the Moon karya Bill Kaysing (1976) yang membahas kebohongan hingga konspirasi nasional tersebut. Buku tersebut populer bagi para penggemar konspirasi, terutama dari pihak-pihak yang sentimen terhadap Pemerintah Amerika. Perdebatan itu selalu muncul hingga sekarang.

Benarkah manusia pernah mendarat di bulan?

Pertanyaan tersebut tampak seperti sikap skeptis dibandingkan sikap terbuka pada keingintahuan. Terutama pada kelompok-kelompok yang menolak segala sesuatu yang memilih berpijak pada bumi datar hingga dalil-dalil agama. Mereka percaya bahwa bumi itu datar, bahkan ketidakpercayaan adanya manusia yang mampu menembus langit dengan dalil ayat Al-Quran.

Berpijak pada dalil al-quran membuat argumen tersebut sulit dibantah karena kebenaran ayat al-quran itu absolut (mutlak). Hal ini dapat ditemukan saat melihat komentar di media sosial (instagram). Seperti misi Artemis II yang baru saja dilakukan masih dianggap sebagai kebohongan yang direkayasa. sekalipun bukti-bukti seperti foto bumi dari Ruang Angkasa, Foto-Foto Planet dari satelit Hubble dan James Webb, adanya International Space Station (ISS), dan Roket-roket yang diluncurkan baik dengan dan tanpa awak, rasa nya masih kalah bukti tersebut dengan validasi ayat Al-Qur'an yang terus dicopy paste tanpa dipahami makna ataupun tafsirannya.

Logika tidak selalu menolak Iman

Dalam konteks pemikiran, gagasan, ataupun suatu pemahaman atas sistem kerja dunia yang dialami (fenomena) bukan berarti hanya bisa dibuktikan oleh logika atau iman saja. Pada dasarnya, iman dalam konteks percaya pada wahyu ilahi berupa al-Qur'an, mujizat, dan keajaiban diluar adat (kebiasaan umum) tidak bisa diukur dengan nalar (logika) hanya oleh hati. Kepercayaan melalui iman menjadi suatu pedoman yang memberikan manusia tuntunan hidup dengan sebaik-baiknya. 

Oleh karena itu untuk memahami suatu dalil Al-qur'an harus dipahami tafsir bukan hanya arti nya saja, berikut saya kutipkan dalil yang sering menjadi rujukan:

"Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembus lah. kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan dari Allah. ". Qs. Ar-rahman ayat 33.

Ayat tersebut sering jadi tameng bagi para pengikut bumi datar atau orang yang menolak konsep-konsep astronomi. Ntah karena sentimen atas Amerika Serikat atau pengaruh influencer dengan model cocoklogi supaya semua itu tampak masuk akal (rasional). Padahal dalam menyusun suatu kesimpulan baik secara valid atau benar, maka premis (pernyataan) nya juga harus dipertanggung jawabkan. Temukan beberapa sumber tafsir yang dipercaya seperti tafsir al-qurtubi, ibnu katsir, dan at-thabari bahwa makna ayat tersebut tidak mengkhususkan keharaman/larangan/kemustahilan seseorang bisa keluar angkasa. 

Makna kata "langit sendiri" menurut KBBI berarti ruang luas yang terbentang di atas bumi. Istilah langit merujuk pada cakrawala, ruang angkasa, tata surya, dan galaksi. Hal ini tidak menafikan bahwa manusia bisa ke ruang angkasa seperti konteks ke luar dari atmosfer bumi hingga ke bulan. Kata kekuatan pada ayat tersebut merujuk pada ilmu pengetahuan. Pemahaman ayat al-quran jika dipahami dengan benar berdasarkan referensi ahli bisa memberikan wawasan bahkan pijakan bagi manusia dalam memahami sistem dan tata kerja alam semesta yang luas. 

Ayat ayat al-quran tidak hanya berbicara tentang pahala dan dosa melainkan mengandung pelajaran bagi orang-orang yang mau berpikir (Ulil Albab). Karenanya, seringkali ayat alquran dengan ayat al-quran lainnya tidak berseberangan, justru saling menjelaskan konteks dan menguatkan. Hal tersebut menunjukan bukti bahwa Allah menciptakan alam semesta ini berisi pelajaran baik secara aqidah, moral, hukum, ataupun pengetahuan yang bermanfaat.

Kebenaran Ilmiah akan terus berkembang.

Satu hal yang perlu dipahami bahwa kebenaran pengatahuan yang didapat hari ini bisa saja akan ditinggalkan, tetapi akan terus dikembangkan kepada pengetahua baru demi kemajuan hidup manusia.

Dahulu Islam hanya berkembang di Jazirah Arab kemudian Islam menyebar luas ke seluruh dunia. Kebutuhan akan ibadah menjadikan seorang muslim/ilmuwan dulu mengembangkan alat ukur agar bisa memastikan posisi kiblat lebih tepat kearah Kakbah, Mekkah. Islam sangat menghargai ilmu Astronomi dalam perhitungan kalender hijriah bahkan nama-nama bintang banyak yang berasal dari bahasa arab seperti Syiria, Aldebaran, Rigel, Al nitak, Al nilam, Mintaka, dan sebagai nya. Bahkan Ibnu As Shatir memberikan model pergerakan planet bumi yang mendekati konsep heliosentris.

Seorang muslim bukan berarti menutup diri dari terbukanya ilmu pengetahuan dari berbagai sumber. Justru karena pemahaman kita atas al-quran sebagai sumber kebenaran masih dangkal maka perlu kita perjelas dengan sumber-sumber yang bisa dipelajari baik dari ahli ataupun hasil ilmu pengetahuan.

Bukan semata-mata mengutip satu ayat hanya karena ada kalimat "tidak bisa menembus langit " seolah tertutup mutlak bagi manusia melakukan perjalanan ke ruang angkasa. Ada batas-batas yang harus dipahami bahwa ilmu pengatahuan sendiri tidak bisa menggantikan kebenaran mutlak al-Qur'an (wahyu ilahi), sebagaimana sesuatu yang dianggap benar oleh suatu masyarakat bukan berarti hal tersebut bisa menjadi standar kebenaran objektif karena sifatnya tidak universal.

Makna bagi hidup, Perlu diperluas dan diperjelas.

Dalam perdebatan ilmu pengetahuan, suatu keniscayaan jika menghadapi perdebatan, karena dari sanalah pengetahuan terus berkembang. Satu teori muncul, direvisi dengan teori baru hingga seterusnya. Teori lama tetap dihargai sebagai pondasi awal pengetahuan baru. Teori lama cukup membantu manusia mendapat penjelasan atas sesuatu yang diamati (fenomena) sekalipun tidak secara keseluruhan memahami apa yang diamati (nemona).

Astronomi dapat menjelaskan gambaran alam semesta yang kita terima beserta modelnya hari ini sudah cukup membantu umat manusia dalam peningkatan taraf hidup. Begitu sulit tanpa memahami alam semesta tanpa dibantu ilmu pengtahuan. Banyak peran benda langit bagi keberlangsungan kehidupan manusia di bumi, seperti peran jupiter dalam mencegah asteroid jatuh ke bumi, rasi bintang bagi navigasi laut, gelombang radio untuk komunikasi, medan magnet yang menlindungi bumi dari badai matahari. Sekalipun masih terbatas pengetahuan manusia dalam memahami alam semesta secara keseluruhan, karena nya sisanya peran iman dan keyakinan pada pencipta alam semesta atas manfaatnya bagi kehidupan manusia yang masih tidak diketahui.

Begitu lah cara pandang hidup manusia, bergantung pada hal yang sering dilihat, pelajari, yakini, bahkan dikondisikan oleh keadaan. Begitulah kondisi hari ini, mereka yang menolak fakta sains, model-model nya, hukum-hukumnya, berpendapat dengan apa yang menurut mereka yakini saja beserta fakta-fakta yang hanya mendukung argumen mereka (bias konfirmasi). 

Sayang nya, mereka lebih memilih berlindung di balik dalil yang menyatakan bahwa jin dan manusia tidak mampu menembus langit dan bumi. Padahal ada makna yang lebih luas, namun mereka lebih memilih hal tersebut untuk mempersempit cara pandang mereka atas sunnatullah lainnya.Manusia perlu terus belajar dengan rendah hati tanpa membanggakan pemikiran dangkal dan sesuatu yang mempersempit pikiran. Tentu perlu sikap saling menghargai perbedaan pandangan, terutama kepada mereka yang menolak kebenaran perjalanan ke ruang angkasa. Cukup disayangkan jika bukti yang disampaikan hanya arti sempit ayat tertentu dari al-Quran sebagai klaim kebenaran. 

 "kebenaran ilmiah tidak pernah bersifat mutlak atau final, melainkan sementara dan selalu dapat diuji serta disangkal. - Karl Popper



Posting Komentar untuk "Makna yang mempersempit pikiran"

🟒 WA
Insight

harap tunggu sebentar :)

☀️ 0%
πŸ”” Artikel selesai dibaca