Selamat Datang
Selamat Datang - Ruang kita Bercerita *** Selamat Datang - Ruang kita Bercerita

Meditasi Ala Marcus Aurelius

Sunardi Isur · Pengajar☕
·
Ketika peristiwa dunia terjadi diluar kehendak kita

    Sudah lama tidak memasukan kategori "review buku", tulisan ini tidak sepenuhnya mengutip atau memahami keseluruhan pemikiran isi buku Meditations -Marcus Aurelius, hanya warisan pemikiran dalam buku tersebut yang menjadi referensi dalam tulisan ini.

    Berbicara takdir seperti membicarakan sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya ditafsirkan, dipahami, dan diketahui seluruh maknanya bagi jalan kehidupan manusia.

    Manusia hidup dengan cerita yang berjalan layaknya alur waktu yang dibentangkan dari masa lalu hingga masa depan. Diantaranya ada ruang fisik yang dijalani seiring gelombang peristiwa yang silih berganti memperkaya kisah cerita. Peristiwa hidup seperti bab cerita dalam buku yang bahkan manusia sebagai pelaku tidak sepenuhnya memahami jalan cerita akan seperti apa, bahkan peristiwa yang menimpa berikutnya. Peristiwa tentang kesedihan, kegagalan, dan kondisi yang "dianggap" buruk, begitu sulit manusia menerimanya.

    Hidup dalam garis takdir tentu merupakan sebuah keniscayaan, karena itu berlaku tanpa kehendak dan rencana manusia. Selau muncul pertanyaan mengapa semua ini terjadi menimpa dirinya. Sebaliknya saat hati lapang manusia bisa membuka ruang tafsir yang lebih jernih maka seolah mudah diyakini bahwa takdir yang datang itu memang baik. Takdir tidak bisa ditolak ia datang untuk diterima dengan lapang dada, dijalani, tanpa perlu ditafsirkan lebih dalam, jikapun harus rela, manusia kadang harus menerimanya dengan air mata.

    Peristiwa yang menimpa manusia memberi kesan "baik" dan "buruk", ketika ada sesuatu yang sejalan dengan rencana hidup seolah memberi kesimpulan bahwa itu memang sudah seharusnya terjadi. Begitupun ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan rencana, maka itu pasrah dan berkata "ini pun sudah takdir".

  Perlu kehati-hatian dalam memahami takdir, bisa saja keliru dan muncul prasangka buruk pada tuhan. Jika tidak hati-hati, bisa muncul ketidakpuasan dalam hidup yang dijalani karena jalan kehidupannya tidak sebaik takdir orang lain. Karena hal itu bsisa merusak makna peristiwa hingga memperkeruh suasana. Muncul pandangan bahwa takdir nya buruk dan berakibat ketidakpuasan diri atas hidup yang dijalani.

    Takdir tidak bisa dibahasakan dengan penjelasan-penjelasan, hanya sangkaan, keyakinan, dan penerimaan, meski tidak mudah tapi selalu ada cara bagi manusia yang berpikir, berakal, dan berusaha mencari petunjuk.
    Jika seseorang hidup sebagai penguasa, raja, ataupun kaisar yang mana dalam pikirannya terbentang tanggung jawab melampaui sebuah negara, bahkan sebagian besar dunia, Maka, setiap keputusan dalam hidup akan berpengaruh pada banyak populasi yang dikuasainya. Setiap langkah kaki bukan hanya menentukan pijakannya, tapi kebijakan tentang dunia yang sedang takluk dibawah kakinya pada masa kekuasannya. 
Seorang kaisar Romawi, yang kekuasaannya meliputi Eropa, sebagian kecil Asia dan Afrika. 

    Marcus Aurelius merupakan sosok penguasa tersebut, penguasa romawi yang berkuasa atas sebagian dunia pada masanya. Dibalik visi sebagai seorang penguasa, ia merenungkan cara agar tetap menerima sebagian dunia yang tak bisa ditaklukan nya, lebih tepat nya dikendalikan. Sebagian dunia bisa ditaklukan dengan usaha, sebagian lagi harus diterima dengan rela pada hal-hal diluar kuasa nya. 

    Marcus Aurelius merefleksikan pemikirannya atas keyakinan dan penerimaan mengenai peristiwa yang sebagain kuasanya justru ada pada campur tangan ilahi. Pemikiran itu terekam dalam dalam sebuah karya "Meditations".

    Mediatations - sebagai catatan yang ia buat selama hidupnya, bukan hanya untuk dibaca tapi sebagai terapi jiwa, bukan sekedar untuk direnungkan tapi coba dipraktikan. Bagi dirinya filsafat bukan sekedar bacaan literatur yang memperkaya pikiran tapi sebagai terapi harian. Karenanya ia bisa berusaha atas kendali diri, lebih sadar, dan bijak bahwa peristiwa dunia pada sebagian besarnya, diluar kendalinya.
 
    Selain itu, pemahaman akan kebijaksanaan dari hasil perenungan, seperti sadar akan kelemahan diri dibanding kekuatan alam dan proses perubahan dunia akan membawa pada sikap jiwa yang lebih lapang atas segala peristiwa.

Berikut gagasan Marcus Aurelus :

1. Penafsiran atas peristiwa itu makna

  Jika seseorang memaki, merendahkan, dan menghina dengan kata-kata maka anggaplah seperti getaran udara yang coba menghampiri telinga. Tinggal makna yang meninggalkan bekas udara itu sebagai suatu kebisingan untuk menetap atau getaran yang menguap begitu saja. Jika pikiran sebagai benteng yang kokoh maka kata-kata itu tak ubahnya hanya suara angin yang lewat karena kata-kata tersebut tidak diinternalisasi sebagai sebuah makna nyata yang mendefinisikan dirinya.

    Peristiwa yang datang dari luar merupakan sesuatu yang tidak diduga, tugas kita bereaksi dengan cara yang bijak, tenang, dan hati-hati. Biasanya penafsiran bergantung pada mood atau emosi diri. Saat lihat status WA seseorang apabila disikapi secara reaktif biasanya mudah tersinggung atau merasa itu untuk dirinya. Padahal status itu tulisannya bernuansa netral. Karenanya suatu kejadian yang dilihat tidak selalu berarti fakta kadang asumsi pikiran memberi penilaian pada realita.

2. Pahami milik anda : Pikiran, Penilaian, dan Tindakan.

    Senjata - senjata praktis yang biasa digunakan marcus aurelius ialah benteng pertahanan diri melalui latihan-latihan mental pikiran. Semua itu berguna dalam memahami musuh manusia yang datang tanpa diketahui arahnya, seperti kecemasan, kesedihan, dan keputusaasann. Sebagai manusia tentu memiliki ruang dikotomi kendali, mengenai apa yang bisa diubah dan apa yang tak bisa diubah. Peristiwa luar terjadi diluar kendali, ada hal yang bisa dikendalikan yaitu pikiran, penilaian, dan tindakan atas suatu kondisi.

3. Prameditasi Kemalangan (Premeditatio Malorum)

    Marcus Aurelius mengajarkan bahwa untuk tenang dan siap secara mental dalam menghadapi masa depan bukan dengan selalu membayangkan hal-hal baik terjadi. justru, kita juga harus bisa membayangkan kemungkinan terburuk sehingga pikiran lebih siap secara mental ketika kejadian buruk datang secara tiba-tiba. Manusia bisa berekspetasi karena itu suatu kekuatan yang datang dari harapan, manusia merasa bersemangat esok hari jika membayangkan bahwa besok akan lebih indah, namun manusia bisa lebih siap dalam merencanakan hari esoknya, karena sudah mengantisipasi kemungkinan hal-hal buruk itu terjadi.

   Karena ketika seseorang membayangkan sebuah kemalangan yang akan menimpanya ia tidak kaget dan tidak jatuh terlalu sakit. Seseorang melihat bahwa peristiwa hidup ini memang tidak terjadi secara sempurna. Misalnya saat seseorang ingin pergi jalan-jalan ke tempat yang indah, maka ia sudah mencipta ruang untuk kecewa dalam hatinya agar tidak berharap terlalu tinggi pada tempat yang dikunjungi. Jikapun tidak terjadi kemalangan, maka kita menganggap hari-hari biasa sebagai anugerah, tidak terjebak euforia atau kesenangan berlebihan.

Kesimpulan
    Seseorang yang berusaha menentang nya atau mendobrak batasan yang tidak selaras dengan jiwa nya akan memunculkan ketidakbahagiaan. Berdamai dengan takdir dan berusaha untuk tidak melawan dapat memberi ketenangan.

    
Perubahan dalam kehidupan akan terus terjadi, jadikan hal itu sebagai proses pertumbuhan, bukan diam pasrah menerima keadaan tanpa usaha perjuangan. Tinggalkan sesuatu diluar kendali mu, lakukan saja bagian-bagian yang telah menjadi bagian takdir mu.

    Sebenarnya cukup banyak gagasan Marcus Aurelius yang tidak dijabarkan disini dan keterbatasan pemahaman penulis atas karya Meditations. Setidaknya dalam Meditatons ia memberikan gagasan untuk fokus mengendalikan diri daripada selalu berusaha mengendalikan peristiwa dunia. Marcus aurelius justru percaya dengan bantuan ilahi melalui takdir, karena hal itu memberi kekuatan bagi jiwa agar tidak mudah dipatahkan oleh peristiwa buruk kehidupan.

Posting Komentar untuk "Meditasi Ala Marcus Aurelius"

🟢 WA
Insight

harap tunggu sebentar :)

☀️ 0%
🔔 Artikel selesai dibaca