Di era ketika informasi hadir tanpa batas, manusia tidak hanya dibanjiri pengetahuan, tetapi juga dipaksa menyerap hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Di titik inilah, kita mulai sulit membedakan antara kebutuhan nyata dan ilusi yang diciptakan oleh pikiran serta lingkungan sosial.
Sebuah Ilusi dalam kenyataan
Kata ilusi dapat merujuk pada gambaran, ide, atau keadaan pikiran yang muncul dari imajinasi, dari kerinduan. Istilah ini memiliki dasar dalam bahasa Latin illusΔo yang berarti penipuan. Ilusi merujuk pada hal-hal yang tidak berdasarkan kenyataan, angan-angan, dan khayalan.
Ilusi harapan adalah ekspektasi atau angan-angan terhadap sesuatu yang tidak memiliki dasar kenyataan yang kuat. Manusia menjalani sesuatu bukan hanya berdasarkan fakta di lapangan, namun bercampur pada asumsi-asumsi yang muncul dalam pikiran. Manusia menciptakan kesepakatan imajiner tanpa disadari melalui sebuah tren, nilai, dan gaya hidup demi kepuasan hidup yang lebih baik. Jika tren itu membawa pada standar hidup yang berkualitas maka layak untuk ditiru. Namun, pada hal-hal yang didasarkan pada asumsi dan ekspektasi oleh sebuah tren maka standar tersebut harus dipahami dengan hati-hati.
Pada Media Sosial, banyak tren dan challenge bermunculan demi sebuah sensasi, validasi, dan atensi. Setiap tren, nilai, dan gaya hidup perlu dilihat nilai dibaliknya, bukan semata-mata kita menerima begitu saja. Selalu ada alasan lain, yang membuat orang rela melupakan kenyataan hidup demi kebahagiaan semu. Manusia rela melakukan sesuatu bukan karena suatu hal itu sekedar menarik tapi mampu memenuhi kebutuhan dasar Individu. Sebagian manusia mencari validasi melalui penampilan, status, maupun pengakuan sosial. Pada dasarnya, manusia memiliki kebutuhan untuk diterima, dihargai, dan merasa memiliki tempat dalam kelompok sosialnya. Kebutuhan tersebut dapat muncul dalam bentuk yang berbeda-beda, seperti pencarian status, pengakuan, rasa aman, atau pencapaian ekonomi.
Media sosial menawarkan sesuatu yang bisa dilihat namun bukan untuk dimiliki. Media sosial memberi ruang tampil agar orang terpenuhi kebutuhan untuk dilihat, diakui, dan dipuji. Media sosial juga menawarkan sesuatu yang pada zaman dulu tidak bisa dirasakan langsung. Konten hiburan, pendidikan, transaksi, dan berbagi informasi. Naluri manusia mendorong untuk berusaha memenuhi kebutuhan sebagai bagian dari seni - bertahan hidup. Bertahan hidup bukan sekedar mengumpulkan sandang, pangan, dan papan, melainkan diterima oleh komunitas (kelompok). Karenanya, jika keinginan-keinginan manusia demi mendapatkan kebutuhan lalu melupakan pijakan kenyataan, sampai terlalu memenuhi standar kehidupan orang lain, maka ia sedang hidup dalam ilusi harapan.
Kenyataan yang terjadi, tidak selalu berjalan sempurna. Manusia berusaha belum tentu langsung berhasil. Cara menikmati kebahagiaan bukanlah dengan melupakan kenyataan yang menjadi pijakan dimana kita berada, tapi mengabaikan konten hiburan satu menit yang dianggap sempurna tapi tidak memberi tambahan kebahagiaan dalam hidup kita.
Perbedaan kondisi kehidupan antara generasi
Setiap generasi hidup dalam kondisi teknologi yang berbeda. Generasi sebelumnya tumbuh dengan keterbatasan akses informasi, sehingga setiap pertemuan, hiburan, dan pengalaman memiliki nilai yang lebih besar. Sebaliknya, generasi digital hidup dengan kelimpahan pilihan yang dapat diakses kapan saja. Dampak nya adalah tingkat ketercapaian akses informasi yang membludak menjadikan ruang pikir dipenuhi kebisingan bukan gagasan.
Kelangkaan membuat sebuah pengalaman terasa berharga. Dahulu, seseorang perlu menunggu sebuah acara televisi, menempuh perjalanan untuk bertemu keluarga, atau menghadiri pertunjukan yang tidak bisa diulang kembali. Kini hampir semua pengalaman dapat disimpan dan diakses kapan saja. Kemudahan tersebut memberi kenyamanan, tetapi juga berpotensi mengurangi rasa kehadiran terhadap sebuah peristiwa yang berharga.
Hari ini, semuanya berbeda, terlepas dari Milenial, Gen Z, dan Alpa. Semua memiliki sarana yang sama untuk menikmati hiburan, jadwal liburan, dan mengetahui informasi dalam sekejap mata. Orang tak perlu usaha banyak, hanya perlu menggunakan biaya tambahan internet serta layanan premium agar lebih maksimal. Kita bisa mencari, memilih, dan memutar kembali konten hiburan yang disukai. Sesuatu yang tak bisa dilakukan dulu kini terasa begitu mudah untuk dilakukan, hanya saja sesuatu yang sering, mudah didapat, bahkan tanpa usaha yang berarti menjadikan terasa hampa. Hal itu menciptakan satu hal "kerentanan emosional ".
Pra media sosial dan Pasca media sosial
Pada masa kehidupan generasi sebelum tahun 2000 an perkembangan teknologi komunikasi dan informasi masih terbatas. Kondisi saat ini tentu sangat jauh berbeda terutama pada hal-hal material. Ketika kepemilikan barang, pendapatan, rumah, dan kendaraan pribadi hampir dengan mudah nya memiliki, ya walaupun sebagian utang dulu, hehe.
Hal-hal yang lebih banyak dimiliki harusnya lebih bisa dinikmati namun semua itu menimbulkan kontradiksi. Sesuatu yang berharga justru munculnya dari kelangkaaan. Sesuatu yang sering mengisi ruang pandangan dan pikiran bila itu sering terjadi menghilangkan "rasa berharga atas suatu momen" maka disinilah ketenangan jiwa mulai terombang-ambing.
Ritme Kehidupan di Era Internet.
Sebelum era internet, manusia hidup untuk diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar bahkan itu sudah cukup. Pasca media sosial kita melihat terlalu banyak, bahkan terlalu jauh dari tujuan hidup itu sendiri.
Dulu saat seseorang hendak makan, mau makan apa dan dengan siapa, bahkan cukup duduk di meja makan bersama keluarga itu cukup. Sekarang hal itu tidak lengkap rasa nya jika makanan tersebut difoto dulu. Sah-sah saja mengabadikan momen karena mungkin itu tak bisa diulang lagi.
Hal yang perlu dipahami, ketika membuka media sosial artinya bukan sekedar membuka informasi, tapi memberi akses ke mental emosi. Contohnya saat acara makan keluarga, lalu tiba-tiba melihat berita orang lain makan di restoran sehingga membuat kita berkurang rasa. Saat kita sendiri di rumah sementara orang tua sibuk dengan tugas nya masing-masing lalu kita melihat orang sedang bermain bersama keluarganya, lalu kita mulai menyimpulkan bahwa kehidupan orang lain lebih berarti dan berharga.
Stop bandingkan dirimu hanya dari media sosial.
Masalah-masalah sosial justru lebih kompleks seiring derasnya informasi. Informasi tidak selalu benar dan sesuai fakta, sering bercampur provokatif, sentimen, hoax, narasi sesat, bahkan vulgar.
Dalam berita saja, kasus perceraian diajukan banyak istri karena mengikuti standar tiktok. Standar media sosial yang menjadi standar yang tidak rasional hanya berbasis viral. Dunia pendidikan pun demikian mengalami degradasi nilai-nilai prestasi, bukan prestasi nya yang dianggap keren, tapi cara merayakan kelulusan seperti apa yang dianggap keren. Wajar saja seru-seruan untuk hiburan, tapi harus diukur sesuai batas kemampuan tanpa menghilangkan nilai dari tujuan kita bersekolah. Begitulah standar hidup yang baru muncul bukan atas dasar pertimbangan kualitas hidup melainkan oleh sekelompok orang yang bahkan tidak memahami batasan mencari atensi dan kebebasan berekspresi.
Jika ditinjau kembail, pada era sebelum media sosial bahkan internet sekalipun, orang dulu bisa menikmati hidup nya dengan penuh rasa kehadiran. Mereka fokus menjalani apa yang bisa dilakukan pada hari itu, janji temu juga berjalan dengan baik. Tanpa ada notif rapat dan reminder sekalipun, orang tahu kapan harus datang, berkumpul, dan menjalankan agendanya. Orang dulu merasa malu jika tidak datang ke acara musyawarah ataupun gotong royong, sekarang orang merasa malu atau minder ketika belum mencapai/memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain. Semua itu bukan karena dia malas tetapi karena terlalu rajin melihat media sosial orang lain.
Media sosial mencitrakan bahwa keberhasilan yang dimiliki orang lain seolah dicapai dengan sempurna, tanpa ada yang kita tahu proses dibalik nya. bahkan, hidup orang lain sampai kapanpun akan selalu lebih sempurna dan indah di media sosial.
Bisakah Media Sosial membentuk realita menjadi ilusi harapan
Dalam pandangan behaviorisme menurut B.F. Skinner - manusia cenderung reaktif terhadap kondisi lingkungan nya. Lingkungan tidak selalu bermakna fisik, tapi ruang imajiner (realitas) yang dibuat sendiri hanya untuk memenuhi harapan semu (ilusi). Media sosial adalah lingkungan yang secara aktif membentuk atau memodifikasi perilaku manusia melalui penguatan (reinforcement) dan hukuman (punishment). Interaksi, seperti memberi like, berbagi konten, atau berkomentar, adalah respons yang dipicu oleh stimulus digital untuk membangun kebiasaan adiktif. Otak manusia seperti spons yang dipaksa terus menerus menyerap informasi. pada titik tertentu, akan tercipta kejenuhan hingga kelelahan mental, inilah yang berdampak pada "kerentanan emosional".
Karenanya, kita hanya perlu memeriksa kembali preferensi media sosial kita agar sesuai dengan tujuan hidup yang diinginkan. Algoritma bekerja menyesuaikan apa yang menjadi kebiasaan seperti tombol suka, komentar, dan bagikan. Jika pun hidup kita sudah tak bisa lepas dari konten, baik sebagai Content Creator atau influencer. Semua kembali kepada komitmen dalam menjalani hidup melalui prinsi, nilai, dan gaya hidup. Media sosial juga memberikan banyak referensi apa yang perlu kita nikmati, jangan sampai kita berdiri dilautan informasi namun masih terombang-ambing dalam kecemasan hidup terutama masa kini.
Perilaku manusia hari ini distimulasi oleh serangkaian respon cepat tanpa pemahaman nilai. Konten-konten durasi singkat lebih adiktif dibanding konten durasi panjang. Konten durasi singkat menstimulasi otak untuk mengeluarkan sinyal kepuasan lebih cepat, hingga menginginkan konten lainnya untuk menjawab sifat keingintahuan pada suatu hal. Berbeda dengan konten durasi panjang, memerlukan kinerja otak yang lebih tinggi dan fokus lebih lama.
Saat manusia terlalu asik dalam ruang maya, ia mulai menciptakan ruang imajiner dan standar nilai yang subjektif. Seperti konten gaji yang ideal dengan sekian digit, investasi saham agar cepat kaya, dan sesuatu yang menjual untuk menutupi kebutuhan psikologis manusia. Kebutuhan psikologis tersebut meliputi rasa diakui, dianggap keren, dilihat populer, dan diapresiasi pencapaian nya.
Ketika semua itu terjadi, manusia menjalani hidup berdasarkan pola algoritma. Kita mulai menetapkan standar baru dan nilai-nilai yang tidak realistis. Nilai manusia diukur dari konten dan konten membuat standar baru untuk menilai manusia.
Hidup dalam kenyataan bukan ilusi
Zaman terus bergerak semakin cepat, bahkan dituntut untuk beradaptasi. Kemajuan teknologi bukan untuk dilawan melainkan untuk dikawal dengan pemahaman dan gaya hidup yang bijak. Realita kehidupan sebenarnya tidak selalu berjalan ideal, hal ini terjadi karena peristiwa dunia berjalan tidak selalu mengikuti kehendak hidup kita.
Manusia harus hidup secara sadar dan bisa memahami makna, bukan sekedar ikutan tren atau hanya meraba melalui asumsi. Realitas kehidupan seringkali dibentuk oleh narasi yang hadir melalui rekayasa informasi, sejarah, dan doktrin pendidikan. Manusia hidup dengan kenyataannya namun seringkali menjalani berdasarkan keyakinan. Jika dua generasi dalam periode hidup yang berbeda kemudian bertemu tentu akan saling membandingkan nilai hanya karena mengikuti selera kenyamanan dan kesesuaian bagi setiap generasi.
Pada hari ini, manusia merasakan hidup dalam kemudahan dan kenyamanan, namun semua itu bisa meledak menjadi bom waktu. AI sudah bisa berpikir lebih kompleks, berbelanja sambil tiduran, dan bahkan menonton hiburan cukup dari rumah. Manusia perlu bertumbuh bersama teknologi tanpa melupakan diri nya sebagai manusia. Jangan sampai harapan untuk mencapai kehidupan yang ideal terhambat oleh standar media sosial. Jadikan prinsip ini, bahwa kita akan tetap menjalani hidup baik dengan sempurna- baik dengan ataupun tanpa teknologi.
Kita hidup dalam kendali nilai, bukan standar media sosial. Seringkali kebenaran tidak diukur melalui suatu pengujian namun melalu apa yang viral, apa yang ramai, apa yang tren, sehingga menjadi standar gaya hidup. Hidup lah dalam kenyataan yang bisa kita buat sendiri, bukan ilusi yang selalu tampak memanjakan mata orang lain, hanya karena banyak orang ramai-ramai menciptakan kegaduhan lalu kita melupakan kompas moral, yaitu hati nurani.
Tentang hidup yang baik bukan berarti hidup yang ideal, setidaknya kita punya pijakan diri dan resiliensi atas godaan yang selalu datang dari informasi.Kadang kita hanya perlu menutup mata sebentar dari layar, lalu melihat kehidupan yang realistis.Bahwa hidup ini tentang menjalani meskipun kurang, terbatas, dan tidak sesuai namun disitulah makna hidup muncul. Rasa perjuangan dan ketenangan karena merasa cukup dengan apa yang ada dan terjadi pada kita. Momen bersama keluarga, makan sederhana, dan pergi liburan meskipun tidak mahal, menjadi sesuatu yang mewah menurut versi kita.
Posting Komentar untuk "Ilusi Harapan dan Kenyataan Khayalan"