Hidup ini indah manakala ada sesuatu yang memanjakan mata, ketika semuanya tampak baru, tampak berbeda, tampak diperbaharui. itulah yang memanjakan manusia dalam melihat suatu produk terutama karena desain tampilan. Tidak ada barang atau benda yang dinyatakan abadi secara relatif baik dari segi daya tahan, tampilan, dan kegunaan secara terus menerus. Kecuali, benda tersebut barang estetik yang dipajang di museum atau barang antik koleksi pribadi.
Hidup dari waktu ke waktu selalu mengalami perubahan, bukan hanya pada lingkungan melainkan cara pandang manusia atas nilai suatu benda. Nilai suatu benda dipandang relatif bergantung pada konteks penggunanya. Barang-barang lama tetap memiliki fungsi untuk digunakan hanya saja secara desain hal tersebut dianggap kurang modern. Selalu saja ada standar umum agar hal-hal tersebut menjadi identitas kolektif, atau standar pasar saat ini.
Banyak hal-hal menjadi standar umum bukan karena sesuatu itu dianggap lebih baru melainkan adanya perubahan tren dan konformitas sosial. Namun fokus pembahasan ini lebih kepada hal-hal yang berkaitan dengan produk dari pengembangan teknologi, kita lihat bagaimana sesuatu itu berubah sangat cepat sehingga mempengaruhi perilaku konsumennya.
Pembaharuan Produk
Pembahruan produk baik dalam hardware (perangkat keras) dan software (perangkat lunak) didasarkan pada kebutuahan industri dan konsumen. pembaharuan tersebut semata-mata didasarkan pada kebijakan (EULA) dan prinsip peningkatan layananan serta keamanan suatu produk teknologi.
Contoh utama dalam sebuah pembaharuan ialah produk smartphone. Semenjak pertama kali kita membeli handphone hingga beberapa tahun ke depan, konsumen akan diberikan update keamanan dan pembaharuan software demi meningkatkan pengalaman pengguna pada perangkat yang dibelinya. Pembaharuan tersebut untuk meningkatkan stabilitas, peningkatan performa, serta mengimprovisasi layanan aplikasi pada smartphone tersebut. Hal tersebut, menjadi kabar baik bagi pengguna agar mendapatkan pengalaman menikmati perangkat seolah-olah seperti mendapatkan perangkat terbaru yang lebih fresh tampilannya.
Begitu pun, dengan pembaharuan layanan aplikasi lainnya, pasti akan selalu minta untuk di update secara berkala agar fitur-fitur terbaru yang dikembangkan bisa berjalan dengan baik pada suatu perangkat. jika tidak di update dalam waktu tertentu kadang aplikasi tersebut menolak dijalankan, karenanya pembaharuan produk seolah menjadi suatu mekanisem yang wajib dilakukan pengguna agar mendapatkan pengalaman yang baru.
Penampilan yang berubah
salah satu hal yang mencolok dari pembaharuan software ataupun aplikasi ialah adanya perbedaan tampilan yang selalu berbeda, tampak lebih fresh, dan kekinian (up to date). Seperti rumah yang dicat ulang atau mobil yang dimodifikasi tampilannya, namun mesinnya tetap sama.
Psikologi konsumen memahammi betul bahwa sifat manusia mudah bosan dengan hal-hal yang itu saja. Maka diberikanlah beberapa sentuhan, baik warna, bentuk, atau gerak animasi tampilan layar agar tampak berbeda dan memanjakan mata.
Begitupun dengan update data, memerlukan patch keamanan yang terus diperbaharui, kode yang harus ditambal agar lebih menjamin keamanan data pengguna. Kode yang ditambal secara terus menerus pada sistem softaware tidak bisa dicopot atau downgrade, biayanya ialah ukuran software yang terus meningkat dari waktu ke waktu, sehingga internal memory menjadi lebih sempit.
Fungsi yang mulai melambat
Seperti sebuah ruang yang awalnya sudah ditata dengan baik agar terlihat lebih indah dan juga lubang-lubang kecil yang terus ditambal demi keamanan. maka ruang tersebut semakin penuh jika ada hal-hal baru yang dimasukan, membuat segalanya terasa sesak, dan menjadikan setiap fungsinya sedikit atau bahkan menjadi lebih lambat.
Jika kita membeli handphone 3-5 tahun yang lalu dan masih menggunakannya saat ini, apakah ada perbedaan dalam kecepatan operasi antar aplikasinya. Jika pun ada, itu merupakan smartphone flagship (high - end) dengan harga diatas 8 Jutaan atau puluhan juta.
Lalu, bagaimana dengan smartphone mid-range dan low-end? yang pasti semuanya berjalan lambat semenjak awal dibeli. Tentu saja ada banyak faktor yang memengaruhi kecepatan eksekusi smartphone pada suatu layanan aplikasi hingga game. tidak ada faktor tunggal untuk menjadikan satu-satunya penyebab smartphone tersebut menjadi kurang responsif. namun satu hal yang pasti, kapasitas spesfikasi smartphone kurang cocok dengan pengembangan layanan aplikasi terbaru. Contoh : aplikasi Whats App selalu mengalami pembaharuan dari waktu ke waktu bisa kita lihat dari fitur dan tampilan dari tahun ke tahun, tentu saja semua itu memerlukan update aplikasi yang memakan memori. karenanya itu baru satu layanan aplikasi, belum yang lainnya. Seringkali layanan aplikasi yang interaktif memerlukan perangkat pendukung yang juga mumpuni.
kemampuan perangkat juga semakin menurut karena faktor usia dan penggunaan. umur baterai smartphone memiliki masa melalui siklus charger sehingga lama ke lamaan baterai cepat habis dan harus terus dicherger ulang. Fungsi kamera juga bisa dibandingkan dengan perangkat terbaru, dulu kamera dengan 12 MP juga sudah dianggap layak untuk mengabadikan momen, namun sekarang ada 200 MP hingga telefoot dengan zoom 10-30 kali. Fungsi kamera untuk menghasilkan gambar terus mengalami peningkatan hingga menggantikan posisi kamera compact. Kapasitas RAM dalam menjalankan multitasking atau satu aplikasi berat juga menjadi kendala bagi smartphone lama, seolah menjadi terbatas dalam menjalankan fungsi operasionalnya.
Karenanya, fungsi smartphone menjadi lambat bisa karena beberapa faktor baik karena error pengguna (accidental), aplikasi yang lebih modern, kebutuhan foto yang lebih tajam dan jernih, serta penumpukan file yang membuat storage menjadi sesak.
Semua itu Fakta, tapi apakah itu Fakta yang kebetulan?
Jika kita mau melebarkan sedikit pembahasan agar tidak terkurung pada konteks yang lebih sempit. Maka kita bisa melihat pada hal-hal lainnya yang bisa menjadi studi kasus bagaimana cara Industri bekerja dan sebuah produk ialah aliran uang yang tidak boleh berhenti hanya satu kali.
Kita ambil contoh pada kasus Tupperware.
Tupperware merupakan pemain Industri dibidang wadah makanan dan minuman legendaris. Produk yang terkenal awet harusnya membuat produk Tupperware menjadi bertahan dalam industri tersebut. namun, semua itu menjadi kontradiktif dalam logika marketing. Jika suatu produk bertahan lama dan awet secara terus menerus maka konsumen cukup membelinya sekali selamanya, tanpa perlu membeli ulang produk tersebut. Sehingga Produk dari Tupperware memang awet, namun karena terlalu awet maka arus barang yang keluar menjadi lebih sedikit dan lama kelamaan tidak ada lagi pembelian secara berkala pada produk tersebut.
Jika produk tersebut memiliki daya tahan dalam jangka tertentu, bisa saja pabrik akan mengestimasi jumlah produksi secara berkala. Jika Industri pembuat sapu ijuk menggunakan bahan kayu yang awet untuk gagang sapu ijuk, maka dipastikan produk tersebut akan awet bertahun-tahun karena tidak mudah patah, namun mereka membuatnya dari bahan yang mudah patah, ntah dari plastik atau timah yang mudah berkarat lalu dibungkus dengan plastik.
Seringkali desain Industri berlindung dibalik kata estetika, ringan, dan ramah pengguna. Tidak ada yang berani bahwa Industri tersebut mengklaim produknya awet dalam waktu yang sangat lama, kecuali produk tersebut memang dibuat lebih mahal dengan tambahan biaya garansi yang tersirat.
Tentu tidak semua produk itu cepat usang dan rusak, semua kembali tergantung kualitas bahan. hanya saja, kita sering terjebak pada perilaku konsumerisme yang responsif ketika dihadapkan pada harga murah namun sebenarnya tidak rasional. banyak barang-barang dengan penampilan menarik namun secara fungsi tidak bisa maksimal.
Karena fokus pembahasan disini ialah keusangan yang seolah direncanakan, maka kita bisa mengukur dan mencoba membuktikan bahwa sejauh mana hal-hal kita beli terutama pada produk-produk dengan jenis teknologi, otomotif, hingga fashion bisa membuat kita merasa kekinian pada hari ini namun pada tahun-tahun berikutnya seolah menjadi kekunoan. yaa, seperti sesuatu yang usang (kuno) padahal hanya standar tampilannay yang berubah.
Standar Industri dan Standar Sosial
Paling umum untuk dilihat standar produk itu pada produk teknologi. saya akui, perusahaan Apple sebagai Pioneer teknologi perangkat smartphone. Seperti Layar sentuk kapasitif pertama, toko aplikasi pertama, desain unibody, asisten virtual, slot-micro dan nano-SIM, baterai yang tidak dilepas (remove-able), dan pelindung layar corning gorila glass. semua diikuti oleh produsen handphone, meskipun apple juga mengikuti trend ala Smartphone android lainnya. Sehingga apa yang populer hari ini, canggih pada masa nya belum tentu canggih pada masa berikutnya, ini bukan soal kurang up to date, ini hanya tentang mindset yang dibentuk oleh kecepatan inovasi produsen teknologi.
Standar fashion terus mengalami perubahan dan pembaharuan, semua ini bergantung pada apa yang populer dan tren terutama melalui flatpom media sosial. aegitupun pada Industri otomotif, pembaharuan desain namun semua itu fungsi nya tetap sama, hanya penambahan beberapa fitur seperti integrasi dengan smarphone, keamanan pengereman, ataupun mesin yang didesain lebih ramah energi. semua hal itu baik dan bagus jika ditujukan dalam konteks ramah lingkungan dan keamanan pengendara. Hanya saja, produk berkendara sangat bergantung jauh pada pengendaranya, jadi pola pikir nya buka pada fitur-fitur baru, melainkan apakah kendaraan yang dibeli itu tetap memiliki fungsi sesuai standar keamanan atau hanya karena tampilannya saja yang diubah & dimodifikasi agar terlihat futuristik.
Ketika kita sudah punya kendaraan, smartphone, dan produk baru, lalu muncul Iklan Produk terbaru dengan fitur dan tampilan baru, maka akan muncul kesan bahwa produk yang sudah kita beli seolah tertinggal satu langkah dalam standar terbaru. nyatanya, semua itu belum kita butuhkan karena memang tidak kita pikirkan sebelumnya, semua itu baru muncul saat produk baru ikut muncul, semua itu berkaitan dengan psikologis manusia yang selalu merindukan kesempurnaan.
Beberapa Kasus Mengenai Planned Obselence
Saya berikan beberapa informasi mengenai kasus-kasus yang berkaitan dengan planned obselence agar semua ini bukan sekedar asumsi, melainkan sebagai fakta yang bisa diuji. Tentunya, Industri dan marketing tidak akan mengakuinya, tetapi tanpa pengetahuan obselence maka marketing tidak akan berjalan secara berkala.
Posting Komentar untuk "Keusangan Terencana (Planned Obselence)"