Selamat Datang - Ruang Kita Bercerita *** Selamat Datang - Ruang Kita Bercerita

Memahami Logika Kebakaran Lahan Gambut (Ekosistem Basah)

Sunardi Isur · Pengajar
·

Mengapa Ekosistem Lahan Basah menjadi Bara api yang terus menyala?

Itulah pertanyaan kita hari ini, Kebakaran hutan di Kalimantan telah berlangsung sepanjang musim kemarau dari agustus bahkan hingga oktober. Hingga tulisan ini dibuat, kebakaran masih melanda hampir di setiap titik (hot spot) Provinsi Kalimantan.

Kalimantan merupakan salah satu wilayah di dunia yang terkenal karena hutan hujan tropis seperti hutan amazon di Brazil atau hutan hujan tropis negara Kongo. Indonesia merupakan salah satu 3 negara besar dengan hutan  hujan tropis terluas di dunia. Hal ini sebagai suatu anugerah bagi keanekaragaman hayati serta fungsi ekologi bagi kehidupan di muka bumi. Indonesia disebut sebagai salah satu paru-paru dunia. Karena hutan hujan tropis memiliki peran penting dalam kestabilan iklim dan mengungangi dampak dari Gas Karbon di Oksida.

Hutan Hujan Tropis kalimantan juga terkait dengan ekosistem gambut yang cukup luas. Keberadaan ekosistem gambut tidak terlepas dari kehadiran hutan hujan tropis sejak 130 juta - 140 juta tahun lalu. Selama keberadaannya tentu menyisakan proses siklus kehidupan dari tumbuhan itu sendiri, namun dalam waktu yang lama siklus tersebut tidak selalu terdekomposisi sempurna, hingga membentuk tumpukan sisa-sisa pembusukan tumbuhan, hewan, dan organisme lainnya menjadi lahan yang bercampur dengan air tergenang.

Kita bisa melihat karakteristik "Gambut" cukup cek dengan pencarian google, menggunakan kata "Ekosistem gambut, lahan gambut, ataupun tanah gambut". maka hasilnya ialah kombinasi gambar hutan atau vegetasi yang selalu berhubungan dengan keberadaan air. Mengapa demikian ?

Gambar : Lahan Gambut yang basah
Sumber : https://upa.llb.ulm.ac.id/

Apa itu lahan gambut?

    Karakteristik gambut seperti spons yang bisa menyerap air karena tanah gambut memang terbentuk dari sisa endapan tumbuhan ribuan tahun yang bertumpuk. Ekosistem lahan gambut ialah jenis lahan basah yang terbentuk dari penumpukan material organis, seperti sisa pohon, rumput, lumut, dan jasad hewan yang setengah membusuk. Ekosistem gambut umumnya selalu basah, banyak tanaman yang membusuk, namun tidak terdekomposisi sempurna.

    Ekosistem gambut berperan atas penyimpanan karbon agar tidak terlepas ke atmosfer, cadangan air, dan habitat hewan yang tidak ditemukan pada ekosistem lain. Gambut dapat dimanfaatkan pada fungsi terbatas dan budidaya.

    Tanah gambut dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkat dekomposisi menjadi fibrik, hemik, dan saprik. Gambut fibrik masih didominasi serat tanaman, hemik berada pada tingkat pembusukan sedang, sedangkan saprik merupakan gambut yang sudah mengalami pelapukan paling lanjut.

    Selain itu, klasifikasi juga dilakukan berdasarkan ketebalan, tingkat kesuburan, dan lingkungan pembentukannya. Ketebalan gambut dapat berkisar dari kurang dari satu meter hingga lebih dari tiga meter, sementara kesuburannya dipengaruhi oleh sumber air dan kandungan mineral yang masuk ke dalam ekosistem gambut.

    Di Indonesia, lahan gambut kebanyakan ditemukan di Pulau Papua, Kalimantan, dan Sumatra. Keberadaannya bermanfaat untuk berbagai macam kepentingan, seperti area pertanian dan kehutanan hingga menjadi rumah bagi aneka spesies tumbuhan serta hewan. Sayangnya lahan gambut Indonesia terus berkurang dan dikonversi menjadi pertanian, perkebunan, dan permukiman.

Bagaimana Lahan Gambut di Kalimantan terbentuk ?

    Proses pembentukan gambut umumnya terjadi selama ribuan tahun, dimulai dari adanya cekungan atau genangan air yang sangat luas yang mengalami pendangkalan secara perlahan dan bertahap. Pendangkalan ini terjadi akibat tanaman yang tumbuh di lahan basah (bahan-bahan organik) kemudian mati, menumpuk di dasar cekungan, lalu mengalami pembusukan yang lambat karena tidak adanya udara.

    Bahan-bahan organik ini kemudian membentuk lapisan di atas tanah mineral yang berada di dasar cekungan. Tanaman berikutnya kemudian tumbuh dan mati di atas lapisan yang sudah terbentuk, lalu secara bertahap membentuk lapisan-lapisan tanah gambut yang baru. Pada umumnya, gambut di temukan di area genangan air seperti rawa, cekungan antara sungai, maupun daerah pesisir.

    Pembentukan gambut diduga terjadi antara 10.000-5.000 tahun yang lalu (pada periode Holosin) dan gambut di Indonesia terjadi antara 6.800-4.200 tahun yang lalu (Andriesse, 1994). Dari gambaran tersebut, pembentukan gambut memerlukan waktu yang sangat panjang. Menurut Noor, 2001 (dari berbagai sumber), pembentukan gambut bervariasi tergantung kondisi alam lokasinya. Rata-rata laju pertumbuhan gambut berkisar 0.3mm per tahun.

    Lapisan-lapisan gambut terbentuk dalam jangka waktu sekitar 10.000-5.000 tahun yang lalu, sedangkan gambut di Indonesia diperkirakan terbentuk sejak 6.800-4.200 tahun lalu. Penumpukan lapisan ini dapat mencapai kedalaman hingga 10-15 meter. Untuk membentuk gambut dengan ketebalan 4 meter, dibutuhkan sekurang-kurangnya waktu dua ribu tahun.

    Berdasarkan bahan asalnya, gambut dibedakan menjadi gambut lumutan (sedimentary) yang terdiri atas campuran tanah air, gambut seratan (fibrous) yang terdiri atas campuran tanaman sphagnum dan rerumputan, dan gambut kayuan (woody peat) yang berasal dari pepohonan dan tanaman semak. Di Indonesia, sebagian besar lahan gambut tergolong ke dalam jenis gambut kayuan.

 Lahan Gambut: Si Hitam yang Kaya Akan Karbon 

    Perbedaan utama karakteristik tanah gambut dengan jenis tanah lainnya sangat berkaitan dengan bahan pembentuknya. Mengacu pada sistem klasifikasi Soil Taxonomy yang diterbitkan the United States Department of Agriculture (USDA), dari 12 ordo1 tanah yang ada, tanah gambut (Histosols) merupakan satu-satunya jenis tanah yang terbentuk dari endapan bahan organik. Tidak heran jika tanah gambut menyimpan begitu banyak karbon yang merupakan komponen utama penyusun bahan organik. Tidak hanya di bawah permukaan (below ground) dalam bentuk tanah gambut, lahan gambut juga menyimpan karbon di atas permukaannya (above ground) berupa vegetasi penutup lahan. Dengan kemampuannya tersebut, lahan gambut dapat menyimpan 500-600 Gigaton karbon atau dua kali lipat dari karbon yang tersimpan di hutan. 

Lahan Gambut itu basah, jika kering itu karena manusia

   Alam dan manusia menjadi faktor penentu kekeringan di lahan gambut. Perubahan iklim yang berakibat pada musim kemarau dapat membuat gambut menjadi kering. Selain itu, pengeringan lahan gambut sering dilakukan secara sengaja untuk mengubah gambut menjadi lahan industri pertanian dan perkebunan. 

    Kegiatan pengeringan lahan gambut diawali dengan penebangan vegetasi alami gambut dan dilanjutkan dengan pembuatan kanal-kanal air untuk mengalirkan air yang tersimpan sehingga gambut cukup kering untuk ditanami tanaman industri seperti kelapa sawit ataupun akasia. Kanal air ini kemudian juga dimanfaatkan untuk transportasi hasil panen.

    Keadaan permukaan gambut yang kehilangan kondisi basahnya akan membuat lahan gambut semakin rawan terbakar. Tanaman dan semak belukar kering juga dapat menjadi bahan bakar api yang sangat mudah terbakar.

    Karakteristik gambut lain yang perlu diperhatikan adalah sifatnya yang sulit dipulihkan jika sudah mengering (irreversible drying). Gambut yang sudah mengering akan sulit menyerap air. Sifatnya sama dengan kayu kering yang mudah hanyut dan terbakar dalam kondisi kering. Karakteristik fisik gambut inilah yang paling sering menyebabkan penyebaran kebakaran hutan dan lahan sehingga kita perlu melakukan upaya pemulihan jika lahan gambut telah terbakar.

Lahan Gambut dan Perkebunan Kelapa Sawit

    Indonesia penghasil minyak kelapa sawit (CPO) terbesar di dunia, maka tidak heran banyak beberapa provinsi Indonesia banyak ditemukan perkebunan kelapa sawit, dari Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Semua itu pulau terbesar di Indonesia yang memiliki hutan hujan tropis terluas di Indonesia.

    Jika total luas daratan Indonesia yakni 142,6 juta hektare, berdasarkan data penggunaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit sebesar 16,38 juta hektar atau sekitar 11 persen. Jika diperinci menurut pulau, kebun sawit di Pulau Sumatera sekitar 10 persen dari luas daratan, Pulau Kalimantan sekitar 5 persen dari luas daratan, dan Pulau Papua hanya sekitar 0,2 persen dari luas daratan (PASPI, 2016).

    Hanya tanaman gambut asli yang mampu beradaptasi dengan kondisi seperti ini dan tumbuh di atasnya, seperti Ramin, Jelutong dan Rotan. Sedangkan kelapa sawit dan akasia bukanlah tanaman yang secara alami dapat beradaptasi dengan kondisi tersebut. Konsekuensinya, genangan atau kelebihan air harus dibuang dari saluran-saluran yang berfungsi untuk mengalirkan air dari tanah gambut di sekitarnya ke sungai.

    Ketika air dihilangkan atau dikeringkan dari tanah gambut, maka sifat tanah akan berubah, yang kemudian menjadi kering dan mudah terbakar dan akan mengalami subsiden. Laju penurunan muka tanah bervariasi, namun rata-rata mencapai 5 cm per tahun untuk tanah gambut yang terbuka hingga 70 cm di bawah permukaan. Pada tahun-tahun awal, penurunan muka tanah gambut bahkan bisa mencapai lebih dari 50 cm per tahun. Dengan penenggelaman yang terus menerus, jika tidak dikelola dengan baik akar tanaman sawit lama kelamaan akan tersingkap dan akan roboh.

Ketika Lahan Gambut berubah menjadi Bara Api

    Bisakah kita membayangkan sebuah spons yang seharusnya basah menyerap air permukaan dan air tanah dangkal lalu berubah menjadi bara api yang terus menyalah dan sulit dipadamkan.

    Hal itu terjadi bukan karena kekeringan, tapi karena dikeringkan. Sebagaimana penjelasan diawal bahwa lahan gambut yang selalu basah dan justru sulit terbakar kini berubah menjadi bara api yang terus menyala seperti amaterasu (api hitam) dalam anime Naruto.

    Aneh bin ajaib, Kalimantan dengan surga hutan hujan tropis tampak seperti hutan kering savana. Kebakaran hutan memang kemungkinan bisa terjadi saat musim kemarau dan elnino, namun pemicunya biasa berasal dari gesekan ranting pohon, atau ilalang yang terkena petir. Hutan hujan dengan  persentase kelembaban harian rata-rata sebesar 80%. Bahkan ekosistem lahan gambut yang biasa tergenang air kini tergenang api. 

    Parahnya lagi, area hutan yang terbakar memunculkan bibit-bibit sawit bukannya reboisasi. Siapa yang harusnya memiliki peran pengendalian strategis, siapa lagi kalau bukan pemerintah dengan kementrian yang menaunginya, yaitu Kementrian Kehutanan. 

    Ekosistem gambut sejatinya tidak pernah kering kecuali dikeringkan, Ekosistem gambut seperti spons yang menyimpan air hingga pada titik jenuh, karenanya ia disebut ekosistem basah. lalu, bagaimana mungkin ekosistem basah dengan kadar air tinggi menjadi kobaran api yang terus menyala tiap hari ?

Posting Komentar untuk "Memahami Logika Kebakaran Lahan Gambut (Ekosistem Basah)"

🟢 WA
Insight
Reading Preferences
Ukuran teks Sedang
Jarak baris Nyaman
Lebar bacaan Sedang
Jenis font Georgia
Tema artikel Editorial
Suara naratorBahasa Indonesia
Karakter suaraLembut
Kecepatan narasi1×
Perubahan suara, karakter, dan kecepatan berlaku mulai paragraf berikutnya.
☀️ 0%
🔔 Artikel selesai dibaca