Selamat Kepada Timnas Indonesia karena untuk pertama kalinya bisa menjadi "King ASEAN" setelah 30 Tahun, bahkan semenjak AFF pertama kali dimulai tahun 1996.
 |
Foto Egi Maulana Vikri Src : Bola.com |
Secara umum, frasa "the right man at the right time" berarti " Orang yang tepat pada waktu yang tepat "
Artinya, seseorang muncul, dipilih, atau ditempatkan pada momen yang sangat pas ketika keahlian, kehadiran, atau bantuannya sangat dibutuhkan.
Frasa tersebut saya sematkan kepada sosok kunci dalam permainan sepak bola Timnas baik saat menuju semi-final hingga final.
Kenapa disebut Pemain Kunci ?
Bukan berarti pemain lain tidak memiliki peran, bahkan pemain lain punya kontribusi lebih banyak dalam keseluruhan pertandingan 90 menit waktu normal. Lalu bagaimana dengan peran Egi Maulana Vikri (MV) ?
Penampilan Egi Menjadi sorotan saat semi-final ASEAN FIFA CUP. Ketika melawan Bangladesh, Indonesia sangat membutuhkan 1 gol lagi agar bisa mengejar ketertinggalan poin dengan Malaysia. Saat waktu bersamaan menjelang menit akhir, Indonesia kebobolah dengan skor 7-2 sedangkan Malaysia malah mencetak gol dengan Skor 6-0. Maka secara matematis pun, Indonesia kalah selisiah gol. Artinya, Indonesia perlu dua gol lagi agar produktivitasnya lebih tinggi dari Malaysia yang melawan Singapura.
3 Menit waktu tersisa dari Injury Time (tambahan waktu 7 menit) Indonesia harus memasukan gol lagi agar mengamankan posisi menuju ke final. Akhirnya gol ke-8 Indonesia dicetak oleh Kevin Diks, hingga waktu menyisakan 1 menit lagi. ya, siapa yang bisa berharap pada keajaiban? tapi para penonton menyaksikan keajaiban itu datang.
Sisa 1 menit, Pertahanan timnas Indonesia justru diserang oleh pemain Bangladesh hingga berhasil ditepis oleh Emil Audero yang kemudian bola itu jatuh ke Vickery, maka bola itu diumpan jauh ke sisi kiri lapangan timnas Indonesia menuju Verdonk yang sekali sentuhan mendorong bola itu ke Egi Maulana Vickery. Nah saat disinilah Egi berhasil menempatkan bola jauh ke depan beberapa langkah dari Ole Romeny meninggalkan pemain bertahan bangladesh di sisi kiri serangan Timans - hingga Ole membawa bola itu memasuki area penalti menggeser hampir ke pinggir lapangan disisi kanan kiper, lalu bola itu di dorong setengah badan hingga disambut oleh Micth Becker yang berbuah Goal.
Jika saja Egi tidak menempatkan bola itu secara presisi permainan bakal berubah, Jika Indonesia kehilangan bola tamatlah sudah, karena waktu yang tersisa tidak bisa dijadikan harapan, cukup beberapa sentuhan agar pemain Bangladesh mengulur waktu atau menendang jauh ke depan agar permainan segera berakhir. itulah sepak bola, menit akhri yang dimanfaatkan dengan baik berbuah goa hingga membawa Indonesia bisa mengungguli produktivitas gol dari Malaysia.
Bagaimana dengan Final ? Ketika melawan Thailand
Tentu yang menjadi pahlawan kemenangan Indonesia di Final bisa disematkan pada Elkan Bagott yang menyamakan kedudukan di menit 115' Extra Time setelah tertinggal 2-1 dan Emil Audero yang berhasil menepis tendangan pemain Thailand.
Egi tidak memberikan Assist, ia hanya menjadi Pre-Assist. Umpan kuncinya kepada Ridho yang bergerak overlap ke sisi kiri gawang dari Pertahanan Thailand membuahkan goal setelah bola blunder yang dimanfaatkan oleh Elkan Bagott yang harus menyentuh tiang atas terlebih dahulu. Sebelumnya, Egi mencoba memberikan umpan-umpan Lob Jauh ke depan yang cukup merepotkan pertahanan Thailand, hanya saja masih bisa diantisapasi.
Egi Maulana sebagai Super Sub.
Super Sub (atau pemain pengganti super) adalah istilah dalam sepak bola untuk pemain cadangan yang jarang menjadi starter (pemain inti sejak menit awal), tetapi sering memberikan dampak besar, mengubah jalannya laga, atau mencetak gol penentu ketika dimasukkan oleh pelatih di tengah pertandingan.
Hal itu tidak berlebihan untuk peran Egi MV bahkan bisa ditambahkan MVP. Pre-Assist dua kali dalam lagi dan menit krusial ialah cara ia menciptakan peluang berharga bagi Timnas. Salah dalam memberi umpan berarti gagal dalam mengontrol permainan, meskipun bola bisa direbut kembali, tetapi momentum yang berharga belum terjadi dua kali.
The Right Man at The Right Time, Frasa ini cukup untuk menggambarkan peran Egi Maulana Vikri dengan Nomor 7 sebagai Ikon Pemain Bintang dalam Sepak Bola Masa kini.
Egi bukan Starting Line Up (XI) yang menjadi andalan utama untuk awal pertandingan. Bahkan, ia memang bukan pemain utama dalam konteks 11 pemain yang masuk strategi diawal pertandingan. Ia memang bukan pilihan pertama, tetapi tetap utama dalam posisi dan waktu yang menjadi strategi Pelatih John Herdman. Selayaknya, permain kartu yang menyimpan kartu AS.
Hal ini untuk membantah komentar yang menyatakan bahwa pemain bagus tidak harus selalu menjadi squad inti, ini hanya soal strategi. Lihatlah riwayat kemenangan besar dalam Sepak Bola bagi dua negara, Jerman yang menurunkan Mario Gotze di Final Piala Dunia 2014 dan Portugas yang menurunkan Eder, keduanya mencetak gol saat diturunkan di menit akhir. Tidak harus berada di lapangan 90 menit untuk menunjukan yang terbaik, ambil posisi, bahkan jadilah dulu pengamat di bangku cadangan sambil melihat jalannya permainan.
Begitulah hidup, kadang kita selalu berharap bahwa momentum itu selalu ada manakala kita menghabiskan waktu penuh hanya demi menunjukan bahwa kita adalah yang terbaik. Terkadang kita hanya perlu menunjukan satu atau dua momentum dari keseluruhan tenaga dan waktu yang tersisa, agar melakukan sesuatu yang lebih berkesan.
Kadang yang diingat bukanlah keseluruhan ceritanya, tetapi momen penting dalam adegannya. kadang yang diingat bukanlah seluruh kehadirannya, tetapi satu kehadiran kecil yang berdampak untuk ikut mengisi jalan ceritanya.
oke setuju
BalasHapus