Bagaimana kita dilihat dan dinilai oleh orang lain, mungkinkah tetap sama ketika bersama mereka ataupun saat sendiri di tempat sepi.
Manusia itu baik, manusia itu hebat, manusia itu keren dalam pandangan orang lain. orang-orang menilai baik diri kita saat berada dalam lingkaran sosial yang mengharuskan kita melakukan hal-hal yang sesuai nilai dan aturan. manusia merupakan makluk sosial yang mana perlu menyesuaikan dengan kelompok, ntah untuk diakui, diterima, ataupun dihormati. Banyak penghormatan dan pujian yang datang kepada kita karena melakukan hal-hal hebat, prestasi, dan sesuatu yang dianggap layak sebagai penghormatan. Aturan sosial mendikte kita untuk menyesuaikan dengan nilai dan prinsip yang dijalani bersama, sehingga segala kebiasaan kita mengikuti kehendak bersama.
Mudah bagi kita untuk disiplin ketika berada pada aturan sosial yang jelas. apalagi berada dilingkungan yang mana memiliki hirarki struktur berupa pengawasan dan penilaian atas kelakuan diri kita. Berada dilingkungan kerja dan sekolah tentu memiliki pilihan-pilihan yang terbatas untuk melakukan segala hal menurut keinginan kita, berada dilingkungan masyarakat tentu kita bisa lebih bebas dalam melakuan pekerjaan sosial namun tetap terikat tanggung jawab sebagai kelompok masyarakat tersebut. Jikapun tidak, tentu kita punya pilihan untuk tidak melakuakn apapun baik sebagai kewajiban sosial ataupun moral, namun tetap saja penilaian masyarakat terhadap kita akan tetap berlaku. Percayalah, penilaian seorang tetangga itu lebih jujur atas seseorang yang sering melihat kesehariannya, ntah sebagai seorang yang berlaku baik ataupun bermasalah.
Penilaian orang lain terhadap diri kita memang tidak akan benar-benar objektif, bahkan lebih kepada atas dasar suka atau tidak, memiliki kepentingan atau tidak, ataupun karena sesuatu yang melekat seperti status sosial atau harta. lalu bagaimana keluarga itu menilai diri kita ? apakah jauh lebih akurat ?
Penilaian anggota keluarga tentu lebih kompleks dibandingkan penilaian rekan sejawat, kinerja, ataupun karena kriteria-kriteria tertentu. Penilaian anggota keluarga atas diri kita ialah bentuk penilaian yang lebih jujur dan menyeluruh, bukan soal sikap atau prinsip hidup, melainkan atas kebiasan-kebiasaan yang dilakukan. manusia dikenali atas hal-hal yang sering dilakukannya. Jika seorang itu sering mengerjakan hal-hal tertentu baik karena profesi, hobi, panggilan, vokasi, ataupun sukarela maka hal tersebut akan disematkan sebagai bagian identitas diri kita. Karenanya didalam keluarga atau rumah, kita adalah seseorang yang akan lebih banyak menampakan kekurangan yang tidak pernah dilihat oleh orang lain. kekurangan tidak selalu berarti buruk, hanya saja seringkali saat kita bersama orang lain, bersama siapapun yang kita kenal, hormati, dan cintai, maka kita selalu berusaha menunjukan sisi terbaik diri kita. setelah itu, kita kembali melepas semua atribut sosial dan kembali menjadi seorang yang manusia di rumah yang mencoba menjalani hidup apa adanya.
Hal-hal lainnya berlaku di media sosial, saat seseornag tampil memukau didepan kamera dengan segala pernak-perniknya, dengan atribut prestasi, perhiasan, panggung terbaik, dan efek dramatis lainnya akan berlaku berbeda ketika seseorang menutup tirainya lalu membuka dirinya saat dirumah, ataupun saat ia sendiri - saat dunia luar tak lagi melihat nya.
Siapa diri kita saat sedang sendiri?
apa yang kita lakukan saat diluar rumah apakah sama dengan yang kita lakuan saat sendiri ? apakah sikap kita tetap sama, baik dalam lingkungan kerja, sekolah, ataupun masyarakat luas dengan sikap kita terhadap diri sendiri saat di rumah. Tentu ini menjadi pertanyaan untuk masing-masing, tentang konsistensi tindakan kita, apakah hal yang kita tampilkan diluar benar-benar sama dengan yang kita tampilkan saat tidak ada orang lain yang melihatnya.
Pepatah jepang menggambarkan bahwa seseorang tidak menunjukan diri yang persis sama di setiap situasi. ada konsep tiga wajah yang coba digambarkan, yaitu :
- Omote (wajah pertama), wajah atau topeng yang ditunjukan ke dunia luar, masyarakat umum, atau lingkungan profesional. Wajah ini penuh dengan kesopanan, kerapian, senyuman, dan upaya untuk menjaga ketertiban dan keharmonisan sosial.
- Ura (wajah kedua), wajah yang ditunjukan kepada orang terdekat, seperti keluarga, sahabat, atau orang yang sangat dipercayai. Disini, seseorang bisa lebih santai, terbuka, dan menunjukan kelemahan atau gelak tawa mereka, namun tetap dalam batas yang wajar.
- Hone (wajah ketiga), wajah yang paling jarang atau bahkwan tidak pernah diperlihatkan kepada orang lain. ini adalah isi hati, pikiran terdalam, kejujuran mentah, serta sisi privat yang hanya diketahui oleh diri sendiri.
Sejatinya, saat manusia sendiri, itulah dirinya sebenarnya. Tidak ada mata orang lain yang melihat, mengawasi, dan mengevaluasi. Hanya dirinya yang sedang diuji, melalui pilihan untuk tetap baik atau buruk. Ketika ia memilih untuk baik, menjaga dirinya, dan menjaga kualitasnya, maka penghargaan itu tidak perlu dicari oleh orang lain. Jika kita mau menjaga diri sendiri, maka orang lain pun akan memberikan penghargaan tanpa kita minta. Sekalipun perlakuan orang lain merendahkan, apakah itu akan menurunkan derajat diri kita, sementara kita tak pernah kehilangan hal apapun yang berharga ketika sendiri, hal berharga itu ialah keimanan dan ketakwaan yang tak bisa direndahkan oleh seluruh dunia sekalipun.
Karenanya, seperti yang disampaikan oleh Marcus Aurelius, "Jika orang lain tidak menghormatimu, cara membalasnya bukan dengan ikut menjadi jahat, melainkan dengan menjaga martabatmu dan berjalan pergi". Ungkapan ini menunjukan bahwa harga diri, nilai moral, dan martabat semuanya nilai yang ada didalam diri, jikapun orang lain mengakuinya maka itu bonus yang tak perlu dikejar, namun semua hal yang ada didalam diri akan runtuh ketika kita berusaha menginginkan penghormatan dalam hidup orang lain, sementara kita menjatuhkan diri kita pada hal-hal yang tidak layak saat sendiri. Ketika kita tidak jujur pada diri sendiri lalu kapan kita akan selalu berjalan dengan tenang kehidupan ini meskipun orang lain tak melihatnya?
Posting Komentar untuk "Harga Diri dan Integritas"