Selamat Datang - Ruang Kita Bercerita *** Selamat Datang - Ruang Kita Bercerita

Harga Diri dan Integritas

Bagaimana kita dilihat dan dinilai oleh orang lain, mungkinkah tetap sama ketika bersama mereka ataupun saat sendiri di tempat sepi.

Manusia itu baik, manusia itu hebat, manusia itu keren dalam pandangan orang lain. orang-orang menilai baik diri kita saat berada dalam lingkaran sosial yang mengharuskan kita melakukan hal-hal yang sesuai nilai dan aturan. manusia merupakan makluk sosial yang mana perlu menyesuaikan dengan kelompok, ntah untuk diakui, diterima, ataupun dihormati. Banyak penghormatan dan pujian yang datang kepada kita karena melakukan hal-hal hebat, prestasi, dan sesuatu yang dianggap layak sebagai penghormatan. Aturan sosial mendikte kita untuk menyesuaikan dengan nilai dan prinsip yang dijalani bersama, sehingga segala kebiasaan kita mengikuti kehendak bersama.

Mudah bagi kita untuk disiplin ketika berada pada aturan sosial yang jelas. apalagi berada dilingkungan yang mana memiliki hirarki struktur berupa pengawasan dan penilaian atas kelakuan diri kita. Berada dilingkungan kerja dan sekolah tentu memiliki pilihan-pilihan yang terbatas untuk melakukan segala hal menurut keinginan kita, berada dilingkungan masyarakat tentu kita bisa lebih bebas dalam melakuan pekerjaan sosial namun tetap terikat tanggung jawab sebagai kelompok masyarakat tersebut. Jikapun tidak, tentu kita punya pilihan untuk tidak melakuakn apapun baik sebagai kewajiban sosial ataupun moral, namun tetap saja penilaian masyarakat terhadap kita akan tetap berlaku. Percayalah, penilaian seorang tetangga itu lebih jujur atas seseorang yang sering melihat kesehariannya, ntah sebagai seorang yang berlaku baik ataupun bermasalah.

Penilaian orang lain terhadap diri kita memang tidak akan benar-benar objektif, bahkan lebih kepada atas dasar suka atau tidak, memiliki kepentingan atau tidak, ataupun karena sesuatu yang melekat seperti status sosial atau harta. lalu bagaimana keluarga itu menilai diri kita ? apakah jauh lebih akurat ?

Penilaian anggota keluarga tentu lebih kompleks dibandingkan penilaian rekan sejawat, kinerja, ataupun karena kriteria-kriteria tertentu. Penilaian anggota keluarga atas diri kita ialah bentuk penilaian yang lebih jujur dan menyeluruh, bukan soal sikap atau prinsip hidup, melainkan atas kebiasan-kebiasaan yang dilakukan. manusia dikenali atas hal-hal yang sering dilakukannya. Jika seorang itu sering mengerjakan hal-hal tertentu baik karena profesi, hobi, panggilan, vokasi, ataupun sukarela maka hal tersebut akan disematkan sebagai bagian identitas diri kita. Karenanya didalam keluarga atau rumah, kita adalah seseorang yang akan lebih banyak menampakan kekurangan yang tidak pernah dilihat oleh orang lain. kekurangan tidak selalu berarti buruk, hanya saja seringkali saat kita bersama orang lain, bersama siapapun yang kita kenal, hormati, dan cintai, maka kita selalu berusaha menunjukan sisi terbaik diri kita. setelah itu, kita kembali melepas semua atribut sosial dan kembali menjadi seorang yang manusia di rumah yang mencoba menjalani hidup apa adanya.

Hal-hal lainnya berlaku di media sosial, saat seseornag tampil memukau didepan kamera dengan segala pernak-perniknya, dengan atribut prestasi, perhiasan, panggung terbaik, dan efek dramatis lainnya akan berlaku berbeda ketika seseorang menutup tirainya lalu membuka dirinya saat dirumah, ataupun saat ia sendiri - saat dunia luar tak lagi melihat nya.

Siapa diri kita saat sedang sendiri?

apa yang kita lakukan saat diluar rumah apakah sama dengan yang kita lakuan saat sendiri ? apakah sikap kita tetap sama, baik dalam lingkungan kerja, sekolah, ataupun masyarakat luas dengan sikap kita terhadap diri sendiri saat di rumah. Tentu ini menjadi pertanyaan untuk masing-masing, tentang konsistensi tindakan kita, apakah hal yang kita tampilkan diluar benar-benar sama dengan yang kita tampilkan saat tidak ada orang lain yang melihatnya.

Pepatah jepang menggambarkan bahwa seseorang tidak menunjukan diri yang persis sama di setiap situasi. ada konsep tiga wajah yang coba digambarkan, yaitu :

  • Omote (wajah pertama), wajah atau topeng yang ditunjukan ke dunia luar, masyarakat umum, atau lingkungan profesional. Wajah ini penuh dengan kesopanan, kerapian, senyuman, dan upaya untuk menjaga ketertiban dan keharmonisan sosial.
  • Ura (wajah kedua), wajah yang ditunjukan kepada orang terdekat, seperti keluarga, sahabat, atau orang yang sangat dipercayai. Disini, seseorang bisa lebih santai, terbuka, dan menunjukan kelemahan atau gelak tawa mereka, namun tetap dalam batas yang wajar.
  • Hone (wajah ketiga), wajah yang paling jarang atau bahkwan tidak pernah diperlihatkan kepada orang lain. ini adalah isi hati, pikiran terdalam, kejujuran mentah, serta sisi privat yang hanya diketahui oleh diri sendiri.
lalu apakah salah jika kita menggunakan wajah yang berbeda-beda dan mengenakan ketiga topeng tersebut untuk setiap situasi. tentu saja tidak, bahkan ini bagian dari sikap bijaksana yang dituntut oleh nilai etika. Bahkan kedisiplinan pun merupakan kondisi aturan yang harus dijalankan secara paksa, ketika kita bekerja disebuah lembaga, baik pemerintah ataupun swasta. Karena setiap tindakan dan sikap akan selalu mendatangkan konsekuensi, baik karena aturan itu tertulis ataupun kesepahaman sosial budaya.

Kenyataanya, sebagai manusia tidak menafikan ketiga topeng wajah yang selalu kita ganti dan lepaskan, bahkan wajah ketiga yang menunjukan wujud asli diri kita.  Karena ketika kita sendiri, tidak ada yang melihat dan mengawasi, tidak ada yang menilai dan menghakimi, kita adalah diri sendiri saat sendiri. 

Saat sendiri, manusia hanya merasakan dirinya, melepaskan semua atribut sosial, profesi, dan aturan kelompok yang selama ini melekat saat digunakan diluar rumah. ketika tidak ada yang melihat, sejatinya manusia merasa bebas melakukan apa saja, berekspresi sesuka hati, dan melakukan hal-hal yang disukainya tanpa ada yang membatasi. Ketika manusia berada dalam kondisi bebas memilih, sebebas-bebasnya, tanpa adanya konsekuensi berupa hukuman dari orang lain, sedangkan satu-satunya aturan yang ia pegang adalah prinsip dan moral yang tertanam pada dirinya, maka ketika ia bisa tetap berada dalam kondisi yang sama sebagaimana ia bersama orang lain, maka sejatinya itulah karakter aslinya.

Ketika ia tetap ramah pada orang lain, ia juga ramah terhadap keluarganya, dan ia tidak menganiaya dirinya saat sendir, maka keramahan itulah karakter aslinya, terlepas apapun kondisinya. namun, ketika ia berusaha ramah kepada orang lain, namun tidak ramah bahkan suka marah pada kelaurganya, dan ia merasa kesal pada dirinya saat sendiri maka amarah itulah yang menjadi tabiat nya. setiap hal diluar tentu merupakan pengkondisian perlakuan manusia agar menjalankan sikap yang sesuai dengan nilai-nilai kelompok. keramahan dijunjung masyarkat karena itu sumber perdamaian, sedangkan amarah akan mengundang konsekuensi konflik dan merusak tatanan kehidupan yang berjalan. keramahan dan kemarahan hanyalah contoh kecil bagaimana watak manusia diuji pada kondisi yang berbeda-beda, karena manusia bisa menyesuaikan dengan perilaku kelompok agar ia diterima atau tujuannya tercapai yang tak bisa ia lakuan saat sendiri.

Saat Sendiri maka Kualitas sebenarnya manusia diuji.

Ketika sendiri, kita cenderung lebih mudah merasakan emosi, mengenali penyebab hal-hal yang berkaitan dengan perasaan, masalah dalam kepala, dan sesuatu yang bisa kita pahami ketika menjauh dari keramaian.  Beberapa orang memilih meditasi, duduk diam, refleksi, diam, dan segala hal yang dilakukan untuk lebih merasakan ketenangan. Konteks nya bisa juga, untuk istirahat, menikmati pemandangan, atau merasakan energi seperti rasa cinta. Semua hal bisa terjadi saat kita menepi untuk menyendiri dan semua hal juga bisa kita lakukan saat sendiri.

Saat sendiri kita mencoba melatih energi, fokus, dan perhatian pada hal-hal yang terlewatkan. Kita bisa melatih diri kita untuk melakukan hal-hal positif, melatih ketenangan batin, ataupun menguatkan mental menghadapi kemungkinan yang tidak menyenangkan ketika bersama orang lain. Kita bisa melatih delay respon ketika menghadapi seseuatu yang mengundang resiko buruk dibandingkan kepuasan jangka panjang. Kita bisa berhadapan dengan orang yang tiba-tiba membuat diri marah namun dengan melatih jeda pada respon, maka terbayang kemungkinan terburuk jika rasa marah dilampiaskan langsung, sehingga kita memilih jalan yang lebih aman bagi masa depan.

Kita adalah manusia, mahluk yang kompleks, bahkan sebagian sulit memahami diri kita sendiri. kita tetaplah manusia yang seharusnya sama dimanapun berada. kita bukanlah manusia yang terus berpura-pura menjadi manusia lainnya hinggga kehilangan jati diri. manusia yang memiliki jati diri bukan berarti ia menjadikan dirinya menuruti semua keinginannya sebebas-bebasnya. manusia seperti itu justru membiarkan kualitasnya menurun karena mengikis habis nilai-nilai kemanusian dirinya, sehingga nilai harga dirinya pun turun. Jika seseorang tidak menjaga nilai dirinya saat sendiri maka akan rentan untuk mencari penghargaan itu melalui orang lain. Sehingga ia akan menggunakan beragam topeng untuk menutupi segala kekurangan yang ia sendiri lakukan. 

Sejatinya, saat manusia sendiri, itulah dirinya sebenarnya. Tidak ada mata orang lain yang melihat, mengawasi, dan mengevaluasi. Hanya dirinya yang sedang diuji, melalui pilihan untuk tetap baik atau buruk. Ketika ia memilih untuk baik, menjaga dirinya, dan menjaga kualitasnya, maka penghargaan itu tidak perlu dicari oleh orang lain. Jika kita mau menjaga diri sendiri, maka orang lain pun akan memberikan penghargaan tanpa kita minta. Sekalipun perlakuan orang lain merendahkan, apakah itu akan menurunkan derajat diri kita, sementara kita tak pernah kehilangan hal apapun yang berharga ketika sendiri, hal berharga itu ialah keimanan dan ketakwaan yang tak bisa direndahkan oleh seluruh dunia sekalipun.

Karenanya, seperti yang disampaikan oleh Marcus Aurelius, "Jika orang lain tidak menghormatimu, cara membalasnya bukan dengan ikut menjadi jahat, melainkan dengan menjaga martabatmu dan berjalan pergi". Ungkapan ini menunjukan bahwa harga diri, nilai moral, dan martabat semuanya nilai yang ada didalam diri, jikapun orang lain mengakuinya maka itu bonus yang tak perlu dikejar, namun semua hal yang ada didalam diri akan  runtuh ketika kita berusaha menginginkan penghormatan dalam hidup orang lain, sementara kita menjatuhkan diri kita pada hal-hal yang  tidak layak saat sendiri. Ketika kita tidak jujur pada diri sendiri lalu kapan kita akan selalu berjalan dengan tenang kehidupan ini meskipun orang lain tak melihatnya?

Posting Komentar untuk "Harga Diri dan Integritas"

🟒 WA
Insight
Reading Preferences
Ukuran teks Sedang
Jarak baris Nyaman
Lebar bacaan Sedang
Jenis font Georgia
Tema artikel Editorial
Suara naratorBahasa Indonesia
Karakter suaraLembut
Kecepatan narasi1×
Perubahan suara, karakter, dan kecepatan berlaku mulai paragraf berikutnya.
☀️ 0%
πŸ”” Artikel selesai dibaca
\n\n Tekan Enter atau Spasi saat notifikasi difokuskan untuk memperbesar atau meringkas. Tekan Escape untuk menutup notifikasi.